SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Hamas Akhiri 18 Tahun Cengkeraman di Gaza, Serahka...

Internasional

Hamas Akhiri 18 Tahun Cengkeraman di Gaza, Serahkan Kendali ke Komite Nasional

Setelah hampir dua dekade berkuasa, Hamas resmi membubarkan badan pemerintahannya di Jalur Gaza dan menyerahkan kendali sipil kepada komite teknokratis Palestina. Namun isu perlucutan senjata masih menggantung.

Setelah 2 Dekade, Hamas Bubarkan Badan Pemerintahan di Gaza!

Delapan belas tahun. Selama itulah Hamas menggenggam kendali pemerintahan Jalur Gaza, sebelum Senin (6/7/2026) menjadi tanggal yang agaknya akan dicatat sejarah Palestina: kelompok tersebut resmi mengumumkan pembubaran badan pemerintahannya.

Ketua komite darurat pemerintah Gaza, Mohammed al-Farra, mengajukan pengunduran diri sekaligus membubarkan komite yang dipimpinnya. Ismail al-Thawabta, kepala kantor media pemerintah Hamas, menyebut langkah ini dilakukan untuk memfasilitasi transisi administratif menuju Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, atau NCAG, yang dipimpin pejabat tinggi Palestina Ali Shaath.

"Gerakan ini telah memutuskan untuk membubarkan komite pemerintahan Gaza dan menunjuk sosok yang dapat diterima secara nasional untuk mengawasi kinerja komite tersebut hingga NCAG secara resmi mengambil alih tanggung jawab," kata salah satu pejabat Hamas kepada AFP.

Langkah ini bukan sepenuhnya mengejutkan. Sejak gencatan senjata Hamas-Israel mulai berlaku Oktober 2025, kelompok itu berulang kali menyatakan kesiapan mundur dari urusan sipil sehari-hari. Tapi pernyataan dan eksekusi adalah dua hal berbeda. Senin ini Hamas akhirnya melewati batas itu.

NCАG bukan entitas baru. Badan ini lahir dari Dewan Perdamaian yang digagas Presiden AS Donald Trump saat menengahi gencatan senjata Oktober lalu. Selama berbulan-bulan, NCAG beroperasi dari luar Gaza karena Israel keberatan dengan masuknya badan tersebut ke wilayah yang sebagian besar masih luluh lantak. Kini, setelah Hamas angkat kaki dari panggung pemerintahan, hambatan formal untuk transisi itu resmi dibuka.

Al-Farra, dalam pernyataan terpisah, mengakui keputusan ini punya dimensi politik dan nasional sekaligus. Penyerahan kendali, katanya, diharapkan dapat menghapus salah satu dalih yang selama ini dipakai Israel untuk mempertahankan blokade, menutup perbatasan, serta menghambat bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi. Ia juga realistis: pengalaman menunjukkan Israel kerap tidak menepati komitmen meski alasannya sudah dihilangkan. Belum ada jaminan apa-apa, tapi setidaknya satu kartu sudah diletakkan di atas meja.

Faksi-faksi Palestina lain, yang telah diberi tahu Hamas dalam pertemuan di Kairo belum lama ini, menyambut keputusan ini. Mereka menyebutnya sebagai langkah serius untuk memungkinkan NCAG menjalankan peran pemerintahannya. Respons positif, meski yang paling dinantikan tetap bagaimana Israel bereaksi di lapangan.

Satu ironi yang sulit diabaikan: Hamas merebut Gaza dari Fatah pada 2007 lewat konflik berdarah. Kini mereka menyerahkan kendali bukan kepada pemenang pertempuran, melainkan kepada komite teknokratis yang lahir dari meja negosiasi Trump. Perjalanan panjang, dan pelik.

Pertanyaannya, apakah transisi sipil ini cukup untuk membuka pintu rekonstruksi? Yang masih belum terjawab adalah soal perlucutan senjata. Hamas belum berkomitmen menanggalkan kekuatan militernya, dan Netanyahu sudah tegas: tanpa pelucutan senjata, rekonstruksi Gaza tidak akan dibiarkan berjalan. Transisi sipil mungkin sudah dimulai, tapi medan yang sesungguhnya belum selesai.