KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Gurun Arab Saudi Berubah Jadi Lautan Air, dari Mad...

Internasional

Gurun Arab Saudi Berubah Jadi Lautan Air, dari Madinah sampai Taif

Hujan deras yang mengguyur beberapa kota di Arab Saudi mengubah lanskap gurun menjadi aliran air dan banjir perkotaan, dari sungai dadakan di padang pasir Madinah hingga jalan tergenang di Taif.

heavy flooding due to torrential rainfall in Taif, Mecca Province, Saudi Arabia. August 12. #flooding #flashflood #flood #FloodAlert #HeavyRainfall #heavyrain #rainydays #rainfall | Narayan Singh ..

Sepanjang pekan terakhir Agustus 2026, beberapa kota di Arab Saudi diguyur hujan lebat yang mengubah wajah negeri gurun itu secara dramatis. Di Madinah, hamparan pasir yang biasanya kering kerontang berubah jadi aliran air menyerupai sungai. Di Taif, ruas-ruas jalan kota berubah jadi kolam dadakan sejak Rabu, 26 Agustus.

Pemandangan paling mencolok diabadikan oleh off-roader Jawaher Shaheen yang menjelajahi pinggiran Madinah bersama suaminya setelah tiga hari hujan turun bergantian. Mereka menyusuri beberapa titik dengan jarak antarlokasi sekitar 15-20 kilometer. Lokasi pertama yang dikunjungi, Al-Qaa di Afrah Al-Raddadi, didatangi sekitar pukul 16.00 ketika hujan mulai turun stabil. Di Al-Furaish, lokasi kedua, hujannya jauh lebih deras hingga air banjir mulai mengalir di permukaan tanah. Titik paling ekstrem, kata Shaheen, ada di sekitar Malaf Aar di Al-Sadarah. "Masih ada kemungkinan hujan turun lagi. Kami sangat menantikan musim ini dan menunggu lanskap berubah dari gurun menjadi aliran air, sebelum kemudian menghijau dan menjadi seperti surga tersembunyi," ungkapnya.

Di Taif, ceritanya tidak kalah dramatis. Rekaman udara memperlihatkan derasnya aliran air yang menggenangi kawasan jalan di sekitar sebuah masjid sejak 26 Agustus. Sejumlah kendaraan merayap pelan melewati genangan. Wajar kalau kondisi ini bikin banyak orang melongo, Arabia dikenal sebagai salah satu kawasan paling kering di bumi. Sistem drainase kota-kota di sana, agaknya, memang tidak dirancang untuk menelan debit air setinggi ini dalam waktu sesingkat itu.

Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi memperkirakan badai petir disertai hujan es masih berpotensi melanda Jazan, Asir, Al-Baha, Makkah, dan Madinah. Potensi awan badai juga muncul di Hail, Al-Jouf, Perbatasan Utara, Provinsi Timur, hingga Najran. Angin kencang pembawa debu diperkirakan menurunkan jarak pandang secara drastis di beberapa titik. Di perairan Laut Merah, kecepatan angin bisa melampaui 50 kilometer per jam di sekitar awan badai, dengan gelombang berpotensi melewati angka 2 meter.

Timing hujan ini bertepatan dengan kemunculan bintang Suhail, penanda perubahan musim yang sudah dikenal masyarakat Arab sejak berabad-abad silam. Bukan cuma legenda, bintang ini sudah akrab dalam tradisi lisan jazirah Arabia jauh sebelum Islam datang. Tapi spesialis astronomi Majed Al-Sahoubi meluruskan: kemunculan Suhail tidak punya hubungan langsung dengan hujan. "Bangsa Arab telah mengenal dan menghargai Suhail sejak zaman dahulu, tetapi kemunculannya tidak memiliki hubungan langsung dengan hujan," tegasnya. Suhail lebih tepat dibaca sebagai sinyal bahwa kondisi cuaca mulai membaik, bukan penyebabnya. Soal waktu munculnya pun tak seragam: sekitar 7 Agustus di Jazan, 24 Agustus di wilayah tengah, dan baru 7-10 September di wilayah paling utara.

Musim hujan yang lebih konsisten di kawasan gurun Arab Saudi biasanya baru datang sekitar pertengahan Oktober. Hujan yang terjadi sekarang sifatnya sporadis dan lokal. Aliran air di gurun Madinah pun bukan berarti padang pasir berubah jadi sungai permanen, begitu hujan berhenti, air cepat meresap atau meluncur ke dataran rendah sebelum gurun kembali mengering. Pertanyaannya kini, apakah episode ini cukup panjang untuk benar-benar menghijaukan kawasan tersebut sebelum musim kering kembali berkuasa?