SENIN, 19 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Gudang Senjata Iran di Ujung Selat Hormuz: Masih S...

Internasional

Gudang Senjata Iran di Ujung Selat Hormuz: Masih Sanggup Bertahan?

Konflik AS-Iran kembali memanas sejak serangan ke Pulau Larak akhir Agustus 2026. Seberapa kuat arsenal Teheran untuk bertahan, dan sampai kapan stok amunisi mereka bertahan?

Perang Memanas Lagi: Intip Isi Gudang Senjata Iran, Sanggup Lawan AS?

Sepanjang pekan terakhir Agustus 2026, ketegangan yang sempat mereda antara Amerika Serikat dan Iran meledak kembali lebih keras dari sebelumnya. Militer AS membuka babak baru eskalasi dengan menyerang dua peluncur milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) di Pulau Larak, titik strategis di bibir Selat Hormuz, pada Minggu 30 Agustus. Teheran membalas dalam hitungan jam, menembakkan rudal ke dua pangkalan udara AS di Yordania.

Dua hari berselang skenarionya berulang, tapi skalanya melebar. AS menggempur sistem pertahanan udara, radar, fasilitas maritim, kemampuan pemasangan ranjau, dan jaringan komunikasi IRGC pada Selasa 1 September. Iran membalas dengan menyasar fasilitas AS di Yordania, Bahrain, sekaligus Irak menggunakan kombinasi rudal dan drone. Ini perang terbuka paling serius sejak eskalasi awal 2026.

Satu pertanyaan mengemuka: seberapa dalam gudang senjata Iran, dan sampai kapan persediaannya bertahan?

Center for Strategic and International Studies (CSIS) punya jawaban yang cukup bikin dahi berkerut. Dalam empat hari pertama konflik awal 2026 saja, Iran telah meluncurkan lebih dari 2.000 drone dan 500 rudal balistik. CSIS memperkirakan angka itu setara dengan sekitar 60% cadangan drone dan 30% stok rudal Teheran. Iran, dengan kata lain, membakar arsenal-nya dalam tempo yang tidak main-main.

Rudal balistik tetap menjadi tulang punggung postur ofensif Teheran. CSIS menyebut Iran memiliki persenjataan rudal terbesar sekaligus paling beragam di Timur Tengah. Nama yang paling sering disebut analis pertahanan adalah keluarga Fattah, khususnya Fattah-1 dan Fattah-2, yang diklaim sebagai rudal hipersonik bermanuver. Klaim ini masih diperdebatkan. Sejumlah pengamat lebih memilih menyebutnya rudal balistik dengan hulu ledak yang dapat bermanuver, bukan hipersonik dalam pengertian penuh. Kalau data promosi Teheran bisa dipercaya sepenuhnya, itu pertanyaan lain.

Di luar keluarga Fattah, Iran mengoperasikan Khorramshahr-4 alias Kheibar untuk hulu ledak berdaya ledak besar. Lalu ada varian berbahan bakar padat: Kheibar Shekan, Sejjil-2, Haj Qasem, dan keluarga Fateh. Keunggulannya ada di kecepatan persiapan. Rudal berbahan bakar padat tidak butuh pengisian di lapangan, artinya waktu reaksi lebih singkat dan lebih sulit diantisipasi lawan.

Drone membentuk lapisan lain yang merepotkan. Shahed-136, si sayap delta yang sudah jadi langganan berita, memang lambat dan relatif mudah terdeteksi. Tapi murahnya biaya produksi memungkinkan Iran meluncurkannya dalam gelombang besar, membebani sistem pertahanan udara lawan sampai titik jenuh. Iran diperkirakan mampu memproduksi sekitar 5.000 mesin dan 500 rangka Shahed-136 per tahun. Kapasitas itu membuat cadangan drone mereka agaknya lebih cepat terisi ulang ketimbang stok rudal.

Shahed-238 hadir sebagai upgrade: mesin jet, kecepatan lebih tinggi, jendela deteksi lebih sempit. Kombinasi drone lambat-murah dan drone cepat ini bukan kebetulan. Strateginya berlapis, menguras pertahanan lawan lebih dulu, baru rudal yang lebih mahal dikirim ke sasaran prioritas. Pola klasik yang familiar buat siapa saja yang mengikuti konflik proksi Iran sejak 2023.

Di sisi pertahanan, Iran mengandalkan S-300PMU-2 buatan Rusia untuk jangkauan jauh, dipadu Bavar-373 sebagai produk dalam negeri. Bavar-373 lahir dari kebutuhan mengelabui sanksi internasional yang memotong akses ke sistem pertahanan asing. Radar dan peluncurnya bergerak, sulit dipaku posisinya. Meski begitu, realitas di lapangan berbicara lain: sejumlah objek penting Iran berhasil ditembus serangan AS. Pertahanan berlapis pun punya celah.

Pertanyaan yang sampai sekarang belum terjawab tuntas adalah kecepatan pengisian ulang stok yang sudah terkuras. Selama sanksi masih memotong akses ke komponen strategis, kapasitas produksi dalam negeri menjadi satu-satunya kartu yang bisa dimainkan Teheran. Di Selat Hormuz, kartu itu sedang diuji keras.