MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Great Green Wall: Taruhan 8.000 Kilometer Afrika M...

Internasional

Great Green Wall: Taruhan 8.000 Kilometer Afrika Melawan Gurun

Proyek restorasi terbesar di dunia ini bukan sekadar soal menanam pohon. African Union menargetkan 100 juta hektare lahan pulih dan 10 juta lapangan kerja hijau terciptas sebelum 2030.

Afrika Bangun Tembok Pohon 8.000 Km, Lawan Suhu Panas

Sepanjang 8.000 kilometer, membentang dari pantai Senegal di Atlantik hingga pesisir Djibouti di Laut Merah, Afrika sedang membangun sesuatu yang belum pernah dilakukan benua mana pun sebelumnya dalam skala ini.

Great Green Wall, atau Tembok Hijau Besar, bukan tembok dalam arti harfiah. Tidak ada bata, tidak ada beton. Yang ada adalah jutaan pohon, hamparan padang rumput yang direstorasi, lahan pertanian yang dihidupkan kembali, dan kawasan rawa yang dipulihkan dari kerusakan yang sudah berlangsung berdekade-dekade. African Union menggagas program ini pada 2007 sebagai respons atas satu masalah yang terus memburuk: penggurunan di kawasan Sahel, sabuk semi-kering yang terletak tepat di selatan Gurun Sahara.

Kawasan Sahel bukan wilayah yang asing dengan penderitaan. Selama beberapa dekade, kekeringan berkepanjangan menggerus produktivitas lahan, erosi tanah menghantam pertanian, deforestasi merangsek tanpa kendali. Jutaan penduduk di sana tercabut dari mata pencaharian mereka, dan akses terhadap pangan menjadi pertaruhan harian. Situasi inilah yang mendorong pendekatan proyek ini bergeser jauh dari sekadar penghijauan.

Restorasi yang dijalankan mencakup perbaikan kualitas tanah, manajemen sumber daya air, penghidupan kembali vegetasi asli, hingga pengembangan sistem pertanian yang lebih tahan terhadap guncangan iklim. Negara-negara peserta tidak cukup sekadar menanam lalu pergi. Mereka diminta membangun ulang ekosistem secara menyeluruh, tugas yang, kalau dipikir-pikir, lebih menyerupai operasi rekonstruksi ketimbang kampanye penghijauan biasa.

Targetnya tidak main-main. Sebelum 2030, proyek ini membidik pemulihan 100 juta hektare lahan kritis, penyerapan sekitar 250 juta ton karbon dioksida dari atmosfer, dan penciptaan 10 juta lapangan kerja hijau di seluruh kawasan. Angka yang, jujur saja, terdengar ambisius hingga di titik tertentu terasa seperti klaim yang masih perlu dibuktikan.

Kabar dari lapangan, agaknya, mulai memberikan sinyal yang lebih menggembirakan. Wilayah-wilayah yang sebelumnya tandus dilaporkan sudah kembali ditumbuhi vegetasi. Lahan pertanian yang sempat mati suri perlahan memperlihatkan tanda-tanda pemulihan. Peran pohon dalam proses ini tidak bisa dianggap remeh: akar mengikat struktur tanah dan menahan erosi akibat angin dan hujan, sementara kanopi bekerja menurunkan suhu permukaan sekaligus menjaga kelembapan agar tidak menguap terlalu cepat.

Tantangan yang mengadang proyek ini juga tidak kecil. Pendanaan yang belum stabil, ketidakamanan di sejumlah negara Sahel, kondisi iklim yang kian liar. Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bertahan sebelum variabel-variabel itu mulai benar-benar menggigit?

Tapi Great Green Wall sudah terlanjur menjadi lebih dari program penghijauan biasa. Proyek ini kini masuk dalam daftar inisiatif restorasi lingkungan terbesar yang pernah dirancang manusia. Sebuah taruhan besar bahwa solusi berbasis alam bisa jadi jawaban nyata atas krisis iklim, bukan sekadar dalih untuk menggelar konferensi berikutnya.