SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  GPU Nvidia RTX Pro 6000 Tembus Rp 288 Juta, Naik 1...

Tekno

GPU Nvidia RTX Pro 6000 Tembus Rp 288 Juta, Naik 110% dari Harga Pre-Order Awal

Krisis chip memori global menghantam pasar GPU workstation dan gaming Nvidia. RTX Pro 6000 Blackwell kini dibanderol USD 16.000, lebih dari dua kali lipat harga pre-order awalnya di awal 2025.

Harga GPU Nvidia Meroket akibat Krisis Pasokan Memori Global

Harga GPU workstation Nvidia RTX Pro 6000 Blackwell 96GB per Agustus 2026 sudah menyentuh USD 16.000, setara sekitar Rp 288 juta. Itu artinya naik 110 persen dari harga pre-order perdananya yang cuma USD 7.600 di awal 2025. Kenaikan ini bukan terjadi semalaman, dan itulah yang membuatnya makin mengkhawatirkan.

Jalur naiknya cukup konsisten, dan curam. Dari USD 7.600 saat pre-order, harga merangkak ke USD 8.500 di Februari 2025, lalu melonjak ke USD 13.000 pada Juni 2026, sebelum akhirnya tembus USD 16.000 sekarang. Bagi yang nyangkut beli di harga awal dan berencana jual kembali, ini kabar bagus. Tapi bagi studio animasi, tim riset, atau siapa pun yang baru butuh GPU workstation sekarang, angka itu jelas menyakitkan.

GPU kelas workstation memang beda segmen dari kartu gaming biasa. RTX Pro 6000 dirancang untuk komputasi berat: rendering visual efek sinema, desain 3D, simulasi teknik, sampai pelatihan model AI skala menengah. Kapasitas memori 96GB adalah salah satu daya tarik utamanya. Sayangnya, memori jugalah biang keroknya.

Memori disebut menyumbang lebih dari 80 persen komponen biaya sebuah GPU kelas atas. Ketika harga chip DRAM dan GDDR7 melonjak akibat rebutan pasokan untuk data center AI, harga jual GPU ikut terseret naik. Lembaga riset IDC bahkan memperkirakan data center AI bisa menyerap sekitar 70 persen dari total produksi memori global sepanjang 2026. Angka yang, jujur saja, cukup menggiriskan.

Lini gaming Nvidia pun kena tampar tekanan yang sama. RTX 5090, yang semula dijual USD 1.999 saat peluncuran, kini rata-rata bertengger di kisaran USD 4.000 hingga USD 4.700 di pasar Amerika Serikat, tergantung platform. Naik hampir 2,4 kali lipat. RTX 5080 dan 5070 Ti ikut terkerek 15 sampai 20 persen dari harga awal. RTX 5070 dilaporkan melonjak sekitar 65 persen ke kisaran USD 900 di Newegg dan Amazon, sementara entry-level RTX 5050 yang semula dipatok USD 249 sudah merayap di atas USD 300.

AMD tidak lebih baik. RX 9070 XT, semula USD 599, sudah dua kali naik harga sejak peluncuran, dengan total kenaikan 10 sampai 15 persen.

Kenaikannya bertahap tapi terstruktur, bak gayung bersambut antar produsen. ASUS lebih dulu mengonfirmasi penyesuaian harga pada 5 Januari 2026. Nvidia menyusul, menaikkan seluruh jajaran RTX seri 50 di Februari 2026. Pada 13 Mei 2026, Nvidia bahkan sempat memberi notifikasi kepada mitra produksinya soal kenaikan harga RTX 5090 sebesar USD 300 sebelum pasar akhirnya bergerak sendiri.

Pertanyaannya, sudah sampai mana tren ini?

Peneliti ilmu komputer Daniel Lemire menyebut fenomena ini sebagai "anomali sejarah", karena apa yang terjadi sekarang menghapus puluhan tahun pola penurunan harga memori yang berlangsung stabil dan eksponensial. Yang dulu bisa dibeli makin murah, kini berbalik arah. Masif.

Sejumlah pengamat industri memprediksi tekanan pasokan ini belum akan reda dalam waktu dekat, bahkan bisa berlanjut beberapa tahun lagi. Bagi pelaku pasar teknologi dengan eksposur ke sektor semikonduktor dan komponen, agaknya sinyal ini terlalu keras untuk diabaikan.