SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Google Tinggalkan China, Seluruh Produksi Pixel Hi...

Tekno

Google Tinggalkan China, Seluruh Produksi Pixel Hijrah ke Vietnam dan India

Google berencana menghentikan seluruh produksi perangkat Pixel di China pada 2027 dan memindahkannya ke Vietnam dan India, di tengah target pengiriman yang justru dinaikkan.

Google moves key Pixel production process to Vietnam

Pada 2027, Google tidak ingin lagi punya satu pun lini produksi Pixel yang berdiri di tanah China. Bukan sekadar rumor industri. Rencana itu sudah dikomunikasikan langsung kepada sejumlah pemasok, sebagaimana dilaporkan Nikkei Asia, dan cakupannya menyeluruh: dari smartphone Pixel, smartwatch, hingga earbud nirkabel Pixel Buds semuanya akan diproduksi di luar China.

Vietnam dan India menjadi dua tujuan utama relokasi. Bukan pilihan dadakan. Dalam beberapa tahun terakhir, Google secara bertahap membangun kapasitas manufaktur di kedua negara itu, dan hasilnya agaknya memuaskan. Keberhasilan memproduksi smartphone Pixel kelas atas di Vietnam, yang notabene memiliki kompleksitas teknis lebih tinggi dibanding smartwatch atau earbud, menjadi sinyal bahwa ekosistem manufaktur di sana sudah cukup matang untuk menanggung beban penuh.

Kompleksitas rantai pasok smartphone premium bukan hal kecil. Fakta bahwa Google berhasil melewati rintangan itu di Vietnam membuat perusahaan cukup percaya diri memasang target 2027.

Dari sisi bisnis, kepergian dari China relatif tidak terlalu menyakitkan bagi Google dibanding, katakanlah, Apple. Pixel memang tidak pernah dijual secara luas di pasar domestik China, sehingga tidak ada basis konsumen lokal yang harus dikelola. Satu sumber yang dikutip Nikkei Asia terang-terangan menyebut Google tidak terlalu terbebani meninggalkan China karena Pixel memang bukan pemain di pasar tersebut.

Perpindahan produksi ini, menariknya, berjalan beriringan dengan ambisi pertumbuhan yang justru dinaikkan. Google memproyeksikan pengiriman Pixel tumbuh 8 hingga 10 persen pada 2026 dibandingkan sekitar 12 juta unit di tahun sebelumnya. Target seperti itu tergolong agresif, apalagi industri smartphone sedang dihajar kenaikan harga chip memori. Sejumlah produsen China seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo dilaporkan sudah memangkas proyeksi pengiriman mereka karena tekanan biaya yang sama.

Google mengambil jalan lain. Perusahaan disebut menggabungkan kebutuhan chip memori untuk perangkat Pixel dengan kebutuhan bisnis cloud-nya, strategi yang memperkuat posisi tawar ketika bernegosiasi dengan pemasok seperti Micron dan SK Hynix. Pendekatan ini, entah kebetulan atau tidak, mencerminkan keunggulan ekosistem bisnis Google yang melampaui sekadar urusan perangkat keras.

Pixel memang bukan cuma ponsel. Bagi Google, lini perangkat ini adalah kendaraan utama untuk mendistribusikan layanan AI Gemini kepada pengguna akhir. Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bisa dipertahankan kalau biaya komponen terus merangkak? Agaknya Google sudah mengkalkulasi itu, dan jawabannya: tetap jalan. Mempertahankan daya tarik Pixel, bahkan dengan menanggung kenaikan biaya komponen sekalipun, punya justifikasi strategis yang jauh lebih dalam dari sekadar margin penjualan.

Seorang eksekutif dari perusahaan pemasok komponen menyebut kepada Nikkei Asia bahwa Google punya kesempatan merebut sebagian pangsa pasar Apple di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa, terutama jika harga iPhone terus merangkak naik. Apple sendiri sudah menaikkan harga MacBook, iPad, dan iPhone di Jepang, dan CEO Tim Cook sebelumnya mengakui dampak kenaikan harga chip terhadap biaya produksi berbagai produknya.

Posisi Apple jauh lebih rumit. Perusahaan itu masih menjual jutaan iPhone di China dan memiliki ketergantungan manufaktur yang besar terhadap negara tersebut, sehingga relokasi skala besar bukan opsi yang bisa dieksekusi dengan mudah atau cepat. Bak pedang bermata dua: keluar dari China berarti menanggung biaya transisi raksasa, tapi bertahan berarti terus terekspos risiko geopolitik.

Jika Google berhasil merealisasikan target 2027, ini bisa menjadi salah satu pergeseran manufaktur terbesar dalam industri smartphone global selama satu dekade terakhir. Vietnam dan India bisa jadi bukan sekadar alternatif, melainkan standar baru.