Dua kuartal terakhir, Google sudah menebar banyak tanda. Android Show digelar, Gemini 3.1 Pro dirilis mendadak, benchmark AI-nya langsung menggebrak. Semua itu agaknya cuma pemanasan sebelum panggung sesungguhnya: Google I/O 2026, yang resmi digelar di Shoreline Amphitheatre, California, pada 19 Mei 2026.
Buat pembaca di Indonesia, siaran langsungnya bisa disaksikan dini hari, 20 Mei pukul 00.00 WIB lewat kanal YouTube resmi Google. Sundar Pichai memimpin langsung sesi utamanya. Dan berdasarkan sinyal-sinyal yang sudah bertebaran sejak awal tahun, ini bukan acara seremonial biasa.
Android 17 jadi salah satu item paling dinanti. Beta-nya sudah bergulir sejak Februari, diperbarui berkala hingga pertengahan April. Versi finalnya diperkirakan baru meluncur Juni atau Juli, mendahului seri Pixel terbaru. Secara visual tidak ada revolusi besar, tapi integrasinya dengan Gemini AI jauh lebih dalam dari versi sebelumnya. Salah satu fitur yang sudah terkonfirmasi adalah app bubbles, yang memungkinkan pengguna membuka aplikasi dalam jendela mengambang lalu meminimalkannya jadi gelembung layar. Google juga disinyalir menyiapkan fitur AI yang belum muncul sama sekali di versi beta.
Tapi yang paling layak dipantau justru Gemini Agent. Bukan chatbot yang lebih pintar. Ini sistem agentic AI yang bisa mengambil tindakan nyata di dunia digital atas nama pengguna, tanpa perlu diawasi di setiap langkahnya. Bayangkan: kamu minta AI untuk riset lima kompetitor, cek website mereka, cek berita 30 hari terakhir, lalu buat laporan satu halaman. Selesai, dan kamu bisa pergi ngopi sementara pekerjaan jalan sendiri. Inilah yang memisahkan paradigmanya dari AI konvensional yang reaktif, kamu tanya, AI jawab, kamu tanya lagi. Gemini Agent menetapkan tujuan, lalu AI yang cari caranya.
Saat ini Gemini Agent masih eksklusif untuk Google AI Ultra dan terbatas di AS saja. Tapi arsitekturnya, yang berjalan di atas platform Google Antigravity, sudah bisa dipelajari sekarang. Developer bahkan sudah bisa mengakses Computer Use tool lewat API Gemini, kapabilitas yang memungkinkan model mengontrol antarmuka komputer layaknya manusia: klik, scroll, ketik, navigasi.
Veo 3, dari sisi kreasi, membawa perubahan yang lebih mendasar dari yang terlihat di permukaan. Pertama kalinya Google mengintegrasikan audio generatif langsung ke video yang dihasilkan AI. Bukan sekadar gambar bergerak yang bisu, melainkan video lengkap dengan dialog karakter, musik latar, dan efek suara yang semuanya digenerate otomatis dari teks. Buat ekosistem kreator konten, ini pergeseran yang cukup keras.
Lompatannya memang tidak kecil. Gemini 3.1 Pro yang dirilis 19 Februari lalu mencatat skor 77,1% di benchmark ARC-AGI-2, lebih dari dua kali lipat skor Gemini 3 Pro yang hanya 31,1%. Bagi peneliti AI, angka itu cukup bikin kening berkerut. Bagi pengguna biasa, dampaknya terasa lewat fitur Deep Think: mode reasoning tertinggi Gemini yang membangun rantai logika internal sebelum menjawab, memverifikasi asumsinya sendiri, lalu mengoreksi diri sebelum output final muncul. Eksklusif untuk Google AI Ultra, seharga USD 249,99 per bulan, sekitar Rp4 juta.
Di luar software, Google juga memamerkan Android XR Glasses dengan demonstrasi yang diklaim lebih matang dan lebih mendekati produk komersial dibanding tahun lalu. Kacamata pintar ini menampilkan notifikasi di area pandang, penerjemahan langsung, hingga integrasi Gemini Live. Ibarat pedang bermata dua: menarik secara konsep, tapi jadwal rilis komersialnya belum jelas. Ini momentum kembalinya Google ke pasar smart glasses setelah Google Glass 2013 yang legendaris, kalau data dan demo-nya bisa dipercaya. Ada pula platform laptop Googlebook dengan sistem operasi AluminumOS, hibrida Android dan ChromeOS yang memungkinkan aplikasi smartphone berjalan langsung di laptop tanpa menyentuh ponsel.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Google serius soal AI. Pertanyaannya adalah seberapa cepat semua ini sampai ke pengguna di luar AS, termasuk Indonesia.