SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Golden Dome Trump: Tagihan USD 1,2 Triliun yang Bi...

Internasional

Golden Dome Trump: Tagihan USD 1,2 Triliun yang Bikin Rusia-China Kompak Berang

Kantor Anggaran Kongres AS memproyeksikan biaya sistem pertahanan rudal Golden Dome mencapai USD 1,2 triliun selama dua dekade, jauh melampaui estimasi awal. Rusia dan China langsung bereaksi keras, menyebut proyek itu ancaman nyata bagi stabilitas strategis global.

Rusia dan China Kompak Mengecam Rencana AS terkait Golden Dome

Angka USD 1,2 triliun itu bukan salah ketik. Itulah proyeksi total biaya pengembangan, operasional, dan pemeliharaan sistem pertahanan rudal Golden Dome versi Kantor Anggaran Kongres Amerika Serikat (CBO) selama dua dekade ke depan, setara lebih dari Rp18.800 triliun dengan kurs saat ini.

Angka ini menampar estimasi sebelumnya yang terasa jauh lebih "masuk akal". Direktur Kantor Golden Dome sendiri pernah menyebut kebutuhan dana sekitar USD 185 miliar untuk pengembangan selama 10 tahun. CBO datang dengan hitungan empat kali lipat lebih besar, dan mereka punya alasan teknis yang sulit dibantah.

Penyumbang terbesar bengkaknya biaya adalah lapisan berbasis ruang angkasa, komponen yang disebut CBO sebagai yang paling mahal dalam seluruh proyek. AS diperkirakan perlu meluncurkan sekitar 7.800 satelit di orbit rendah Bumi pada ketinggian 300 hingga 500 kilometer. Di ketinggian itu, hambatan atmosfer menggerogoti masa pakai satelit menjadi sekitar lima tahun saja. Untuk mempertahankan armada 7.800 unit, Washington harus meluncurkan sekitar 1.600 satelit pengganti tiap tahun, atau total 30 ribu peluncuran dalam 20 tahun. Dengan asumsi biaya peluncuran USD 500 per kilogram, rata-rata harga per satelit diperkirakan USD 22 juta. Komponen satelit menyumbang sekitar 60 persen dari total pengeluaran proyek, dan 70 persen dari biaya akuisisi yang diproyeksikan mencapai USD 1 triliun.

Semua itu untuk sistem yang hanya dirancang mencegat serangan terbatas hingga 10 rudal secara bersamaan. Bukan main.

Berita ini sampai ke Beijing tepat saat Putin dan Xi Jinping sedang duduk semeja. Pernyataan bersama yang keluar dari pertemuan 20 Mei 2026 itu tidak menyisakan banyak ruang tafsir. "Para pihak meyakini proyek Golden Dome AS, yang bertujuan membangun sistem pertahanan rudal global, berlapis-lapis, dan tak terbatas untuk menghancurkan semua jenis rudal, di semua tahap penerbangannya dan sebelum diluncurkan, menimbulkan ancaman nyata terhadap stabilitas strategis," tulis keduanya.

Moskow dan Beijing secara teknis keberatan karena sistem semacam ini meruntuhkan logika deterence nuklir yang selama puluhan tahun menjadi pondasi stabilitas global: pertahanan dan serangan harus seimbang. Kalau satu pihak merasa kebal dari serangan balasan, kalkulasi untuk menyerang lebih dulu berubah drastis. Agaknya itulah yang paling membuat Kremlin dan Zhongnanhai gelisah.

Kritik juga mengarah ke soal perjanjian pengendalian senjata. China dan Rusia menyatakan penyesalan atas apa yang mereka sebut "kebijakan tidak bertanggung jawab" AS yang menelantarkan New START, perjanjian bilateral pembatasan senjata nuklir strategis yang ditandatangani pada 2010. Rusia bahkan menyatakan mendukung posisi China yang ogah terlibat dalam pembicaraan pengendalian senjata format baru bersama Washington.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning tidak kalah blak-blakan. "Amerika Serikat, dengan mengejar kebijakan 'America First', terobsesi mencari keamanan absolut bagi dirinya sendiri. Hal ini merusak keseimbangan dan stabilitas strategis global," katanya.

Sebagai penguat pesan, Rusia pada hari yang sama merilis rekaman yang disebut sebagai latihan nuklir besar-besaran: pasukan memasang hulu ledak nuklir ke sistem peluncur rudal mobile Iskander-M, memuatnya, lalu memindahkannya ke posisi siap tembak. Latihan rutin? Bisa jadi. Tapi waktunya terlalu pas untuk disebut kebetulan.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah Golden Dome layak secara teknis. Tagihan USD 1,2 triliun itu sudah resmi jadi pemantik ketegangan strategis paling panas di paruh pertama 2026.