Angka US$1,2 triliun itu bukan salah ketik.
Itulah yang diperkirakan Congressional Budget Office (CBO) sebagai total biaya pengembangan, penempatan, dan operasional Golden Dome for America dalam dua dekade. Dalam kurs rupiah, angka itu setara lebih dari Rp21.000 triliun, eh, maaf, bukan em dash, sekitar dua belas kali lipat APBN Indonesia. Proyek pertahanan rudal paling ambisius yang pernah diusulkan pemerintah AS.
Biaya akuisisi saja bisa menembus US$1 triliun. Sisanya, sekitar US$200 miliar, untuk operasional dua dekade. Laporan non-partisan CBO yang dirilis Selasa, 12 Mei 2026, memerinci bahwa angka itu mencakup lapisan pencegat rudal berlapis serta infrastruktur peringatan dan pelacakan berbasis ruang angkasa. Bukan angka kecil, bahkan untuk negara dengan anggaran pertahanan terbesar di dunia.
Sebagai pembanding: ketika Trump pertama kali meluncurkan rencana ini, tak lama setelah kembali ke Gedung Putih pada Januari lalu, ia menyebut investasi awal program ini hanya US$25 miliar, dengan total jangka panjang US$175 miliar. Selisihnya dengan estimasi CBO? Hampir tujuh kali lipat. Masif.
Golden Dome dirancang sebagai perisai menyeluruh yang melindungi daratan AS dari rudal balistik hingga rudal jelajah, termasuk ancaman dari Rusia dan China. Trump sendiri pernah mengklaim sistem ini mampu mencegat rudal yang diluncurkan dari sisi lain dunia, bahkan yang diorbitkan dari luar angkasa. Framing heroik, meski sejumlah pejabat pertahanan agaknya tidak seyakin itu.
CBO memperingatkan bahwa sistem ini tetap berisiko "kewalahan" jika menghadapi serangan skala penuh dari kekuatan militer besar. Teknologi pertahanan yang ada saat ini, kata sejumlah pengamat, sudah mulai tertinggal dari senjata generasi terbaru milik para adversari. Ibarat membangun benteng baru sementara lawan sudah punya senjata yang bisa terbang melewatinya.
Reaksi politik di Washington tidak butuh waktu lama. Senator Jeff Merkley, yang secara khusus meminta CBO merilis laporan estimasi ini, langsung melancarkan serangan verbal. "Apa yang disebut Presiden sebagai Golden Dome hanyalah pemberian besar-besaran bagi kontraktor pertahanan, yang seluruh biayanya dibayar rakyat pekerja Amerika," tegasnya, Selasa (12/5). Gedung Putih dan Pentagon belum bersuara.
Satu catatan penting dari CBO sendiri: estimasi ini dibuat berdasarkan simulasi pendekatan ilustratif, bukan proposal resmi pemerintahan Trump. Artinya, US$1,2 triliun bukan proyeksi final, melainkan gambaran potensi pengeluaran jika program ini direalisasikan penuh sesuai konsep yang ada. Kalau data ini bisa dipercaya, setidaknya ia memberi gambaran betapa dalamnya lubang fiskal yang mungkin harus digali Kongres.
Pertanyaannya, siapa yang akhirnya meneken ceknya?
Bagi pelaku pasar, cerita ini punya dua sisi. Kontrak pertahanan kelas jumbo semacam ini adalah surga bagi saham-saham kontraktor militer AS. Di sisi lain, perdebatan anggaran yang kian panas di Capitol Hill, ditambah potensi perlombaan senjata baru di orbit, bisa jadi variabel geopolitik yang perlu dicermati investor global.
Perang sesungguhnya bukan di langit. Tapi di ruang sidang.