Angka 1,2 triliun dolar AS itu bukan salah ketik.
Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan "Golden Dome", proyek pertahanan rudal ambisius Presiden Donald Trump, akan menguras kas negara hingga sekitar Rp 21.000 triliun sepanjang dua dekade. Biaya akuisisi saja diklaim melampaui 1 triliun dolar, mencakup lapisan-lapisan pencegat, sistem peringatan dini, dan infrastruktur pelacakan rudal berbasis ruang angkasa.
Bukan main.
Kenyataan ini meledak jauh dari estimasi awal yang Trump ucapkan sendiri. Setahun lalu, ia bicara soal investasi awal 25 miliar dolar, dengan total 175 miliar dolar seiring waktu. Versi CBO lima kali lebih besar dari proyeksi itu. Bagi pelaku pasar yang terbiasa membaca selisih antara klaim manajemen dan angka aktual, pola seperti ini agaknya sudah tidak asing.
Seminggu setelah kembali duduk di Oval Office, Trump meneken perintah eksekutif yang memerintahkan Departemen Pertahanan menyusun rencana sistem pencegat serangan udara dari segala penjuru, termasuk dari luar angkasa. Sistem tersebut, sesumbarnya, bahkan akan mampu mencegat rudal yang ditembakkan dari belahan dunia lain.
Teknologinya memang futuristik: kombinasi sensor dan pencegat berbasis ruang angkasa, sistem di darat, hingga laut. Bulan lalu, SpaceX dan Lockheed Martin mengantongi kontrak senilai hingga 3,2 miliar dolar untuk mengembangkan prototipe pencegat rudal berbasis ruang angkasa sebagai bagian dari sistem ini.
Tapi ada masalah yang tidak mudah disembunyikan di balik angka-angka besar itu. CBO memperingatkan bahwa Golden Dome tetap punya celah yang membuatnya rentan terhadap serangan skala penuh dari China atau Rusia. Para pejabat pertahanan sudah lama mengingatkan bahwa persenjataan dua negara itu berkembang lebih cepat dari yang bisa dikejar sistem konvensional. Daratan Amerika Serikat terlalu luas. Tidak ada sistem, berapapun harganya, yang bisa melindunginya secara komprehensif.
Kritik datang langsung dari Senat. Senator Demokrat Jeff Merkley menyebutnya sebagai "pemberian besar-besaran kepada kontraktor pertahanan yang dibiayai sepenuhnya oleh warga AS yang bekerja." Klaim yang tentu masih perlu diuji di lapangan, tapi framing politiknya sudah terbentuk.
Gedung Putih dan Pentagon belum merespons permintaan komentar saat berita ini ditulis.
Buat investor dengan eksposur ke sektor pertahanan, kontrak SpaceX dan Lockheed Martin itu bisa jadi sinyal awal dari aliran belanja yang jauh lebih masif. Pertanyaannya, berapa lama Washington sanggup mempertahankan komitmen anggaran sebesar ini? Defisit fiskal AS sudah tidak kecil, dan CBO sendiri tidak bisa menjamin keampuhan sistem yang hendak dibiayai.