MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Ghost Murmur: Teknologi CIA di Iran, Fakta atau Ko...

Internasional

Ghost Murmur: Teknologi CIA di Iran, Fakta atau Konstruksi Narasi?

CIA mengklaim menggunakan alat rahasia "Ghost Murmur" untuk pertama kalinya saat menyelamatkan pilot F-15 di Iran, namun para ilmuwan menyebut klaim itu hampir mustahil secara fisika.

Satu pilot berhasil diselamatkan. Ratusan pasukan dikerahkan. Lalu tiba-tiba muncul cerita tentang teknologi ajaib yang belum pernah dunia dengar sebelumnya.

Itulah gambaran kasar dari yang terjadi pascapenembakan jatuh jet tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat di wilayah Iran selatan pada 3 April 2026, peristiwa yang disebut BBC sebagai kali pertama pesawat tempur AS rontok oleh musuh dalam lebih dari dua dekade. Dua awak berhasil melontarkan diri. Sang pilot dievakuasi pada hari yang sama, sementara satu kru lainnya sempat dinyatakan hilang lebih dari 48 jam, memicu operasi penyelamatan dengan sandi "Dude 44", sebelum Presiden Donald Trump mengonfirmasi keselamatannya pada 5 April lewat unggahan media sosial.

Dramatis? Sudah pasti. Tapi Washington rupanya ingin lebih.

Beberapa hari setelah operasi selesai, New York Post memuat laporan yang mengutip dua "sumber dekat dengan terobosan" tanpa nama. Klaim intinya: CIA menggunakan alat baru bernama Ghost Murmur dalam operasi pelacakan tersebut. Teknologi ini digambarkan menggunakan magnetometri kuantum jarak jauh untuk mendeteksi sinyal elektromagnetik dari detak jantung manusia, lalu memadukan data itu dengan AI guna mengisolasi sinyal biologis dari kebisingan lingkungan sekitar.

Kedengarannya seperti film fiksi ilmiah kelas A.

Direktur CIA John Ratcliffe pun ikut mengisyaratkan keberadaan alat ini dalam konferensi pers bersama presiden, menyebut "teknologi canggih yang tidak dimiliki dinas intelijen mana pun di dunia." Penerbang itu, kata Ratcliffe, bisa "tidak terlihat oleh musuh, tetapi tidak bagi CIA."

Para ilmuwan tidak semenarik itu reaksinya.

Scientific American yang mencoba mengkaji klaim ini secara teknis sampai pada satu kesimpulan: "hampir pasti tidak benar." Bradley Roth, fisikawan dari Oakland University, menjelaskan bahwa medan magnet yang dipancarkan jantung manusia sangatlah lemah. "Orang-orang telah mengukur medan magnet jantung selama 60 tahun, dan biasanya itu dilakukan di laboratorium dengan pelindung, dan hanya dari jarak beberapa sentimeter atau inci dari jantung, dan bahkan dalam kondisi itu pun sulit sekali merekamnya," ujar Roth kepada Scientific American. Teknologi yang digambarkan CIA, lanjutnya, akan menjadi "kemajuan revolusioner dari keadaan teknologi saat ini."

Alex Wellerstein, sejarawan sains dari Stevens Institute of Technology, punya pertanyaan yang lebih sederhana tapi tidak kalah menusuk: bagaimana caranya membedakan sinyal detak jantung manusia target dari detak jantung satwa liar, atau manusia lain yang ada di sekitarnya?

Tidak ada yang menjawab itu. Setidaknya secara publik.

Yang makin memperkeruh cerita ini adalah pengakuan CIA sendiri. Selama operasi pencarian berlangsung, mereka memang sengaja menyebarkan disinformasi untuk mengelabui Iran, termasuk kabar palsu bahwa penerbang sudah ditemukan dan sedang diangkut keluar Iran lewat konvoi darat. Batas antara alat nyata dan narasi yang dikonstruksi, agaknya, sejak awal memang dibuat kabur.

Bukan pertama kali Trump dan lingkarannya memainkan kartu semacam ini. Trump juga pernah menyebut alat bernama "discombobulator" saat membicarakan operasi penculikan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro. "The Discombobulator. Saya tidak diizinkan membicarakannya," kata Trump kepada Post. Lagi-lagi New York Post yang pertama melaporkannya. Entah kebetulan atau tidak, tabloid itu memang secara konsisten jadi corong pertama untuk klaim-klaim semacam ini.

Lapisan bawah internet pun tak ketinggalan panen. Video interogasi yang diklaim menampilkan pilot F-15 yang ditawan Iran ternyata rekaman lama dari Perang Teluk 1991: momen Kolonel Angkatan Udara AS David William Eberly yang ditangkap Irak setelah pesawatnya jatuh pada 19 Januari 1991. Tempo.co memverifikasi ini lewat pencarian gambar terbalik. Eberly waktu itu terbang bersama Mayor Thomas E. Griffith Jr. untuk menggempur kompleks rudal Scud di Irak barat, sebelum dijatuhkan rudal permukaan-ke-udara musuh. Kisah lama. Dikemas ulang. Laku keras.

Kombinasi klaim teknologi yang meragukan, disinformasi yang diakui terbuka, dan konten hoaks yang viral membuat satu pertanyaan sulit dihindari. Dari seluruh cerita "Dude 44" ini, mana yang memang terjadi dan mana yang dirancang supaya kita percaya?