KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Syariah  ›  GERAK Syariah 2026 Ditutup, 8,35 Juta Peserta Eduk...

Syariah

GERAK Syariah 2026 Ditutup, 8,35 Juta Peserta Edukasi Jadi Rekor Baru

OJK resmi menutup Gebyar Ramadan Keuangan Syariah 2026 dengan pencapaian yang sulit diabaikan: lebih dari 8,35 juta peserta edukasi, naik 31 persen dari tahun sebelumnya, sementara penghimpunan dan penyaluran dana masing-masing menembus angka Rp6,8 triliun.

Indonesian Islamic Finance Report (LPKSI) 2022

Delapan juta orang lebih. Itu angka peserta edukasi yang berhasil dijangkau selama program Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026, sebelum OJK resmi menutup rangkaian kegiatannya di Menara Radius Prawiro, Jakarta, Kamis (2/4).

Angka 8.350.391 peserta itu bukan sekadar statistik ceremonial. Naik 31 persen dari tahun sebelumnya. Sepanjang program berjalan, tercatat 1.283 kegiatan literasi, 459 kegiatan inklusi, dan 890 kegiatan sosial digelar serentak di penjuru Indonesia.

Dari sisi pergerakan dana, penghimpunan mencapai Rp6,83 triliun dan penyaluran Rp6,86 triliun, keduanya melonjak dibanding periode yang sama tahun lalu. Di sisi sosial, dana zakat, infak, dan sedekah yang tersalur mencapai Rp86,2 miliar kepada 266.421 penerima manfaat, jauh melampaui realisasi 2025 yang hanya Rp30,75 miliar dengan 158.203 penerima.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, yang memimpin acara penutupan bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Menteri Koperasi Ferry Juliantono, menyebut keuangan syariah punya modal demografis yang, secara jujur, tidak dimiliki negara lain. Populasi muslim Indonesia mencapai 244,7 juta jiwa. Friderica menegaskan fondasi itu harus dikonversi menjadi kekuatan ekonomi nyata, bukan sekadar potensi yang terus-menerus disebut dalam seminar.

"Fondasi ekonomi dan keuangan syariah yang sudah baik tersebut tentunya juga menjadi fondasi kita yang kuat bagi perekonomian Indonesia. Potensi demografis, sosial, dan ekonomi masyarakat, yang didukung dengan basis populasi muslim sebesar 244,7 juta orang. Ini luar biasa tentu potensinya," ujar Friderica.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK Dicky Kartikoyono menambahkan, kunci dari semua pencapaian ini bukan soal anggaran besar, melainkan kebersamaan. Gerakan yang terarah, masif, dan merata, begitu ia menyebutnya. "Dengan bergerak bersama, upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah dapat tumbuh lebih pesat, menjangkau masyarakat yang lebih luas, serta berkontribusi pada pembangunan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan," kata Dicky.

Catatan paling menggigit datang dari Menteri Agama Nasaruddin Umar. Dengan populasi muslim terbesar di dunia, perilaku ekonomi syariah masyarakat Indonesia baru menyentuh 7,6 persen. Bandingkan dengan Malaysia yang sudah di angka 67 persen. Gap yang, kalau dipikir-pikir, cukup menampar.

Nasaruddin mengakui kurva mulai naik, dan itu sudah lebih baik dari kondisi stagnan sebelumnya. "Jadi mestinya peningkatannya jauh lebih tinggi. Tapi apapun namanya, itu jauh lebih baik daripada datar seperti selama ini," kata Nasaruddin. Tapi ia jelas berharap laju itu bisa jauh lebih curam.

Sebagai pelengkap penutupan, OJK bersama Kementerian Agama meluncurkan Buku Saku Edukasi Keuangan Berbasis Agama (ESA) 2026, panduan pengelolaan keuangan dengan pendekatan nilai-nilai agama yang dirancang lintas latar belakang kepercayaan. Ferry Juliantono dari sisi MES mengingatkan satu hal yang sering terlupakan: keuangan syariah tidak bisa tumbuh sendiri tanpa berpijak pada ekonomi riil. "Keuangan syariah pada hakikatnya akan tumbuh berdampingan dan saling menguatkan dengan aktivitas ekonomi riil, baik itu UMKM, industri halal, maupun usaha produktif lainnya," tutur Ferry.

Dengan 244 juta potensi nasabah yang belum sepenuhnya tersentuh, pertanyaannya bukan lagi apakah pasar itu ada. Pertanyaannya: seberapa cepat industri bisa bergerak sebelum momentumnya lewat.