Toulouse, pekan ini, menyentuh 41 derajat Celsius. Météo-France memperingatkan rekor itu belum selesai berjatuhan.
Bagi sebagian orang, angka itu terdengar jauh, urusan negeri orang. Tapi bagi Abdul Aziz Muhammad, peneliti muda ASN BMKG yang sedang magang di CNRM, Météo-France/CNRS, angka itu hadir langsung di kulit, di napas yang memberat, dan di malam-malam tanpa tidur di kamar mahasiswanya yang tanpa pendingin. Lahir dan besar di Indonesia, ia mengira sudah paham soal panas. Ternyata belum.
Yang membuat gelombang panas di lintang menengah mematikan bukan semata angka termometer. Tubuh manusia, sejatinya, adalah mesin pendingin yang cukup andal. Kita berkeringat, keringat menguap, dan panas pun ikut terbawa pergi. Mekanisme itu bekerja sempurna, selama udara sekitar masih sanggup menampung uap. Ketika kelembaban sudah jenuh, keringat berhenti menguap, mengucur percuma, dan satu-satunya jalan tubuh membuang panas pun tersumbat. Inilah yang para ahli ukur lewat "suhu bola basah", gabungan antara suhu udara dan kelembaban. Ada titik di mana tubuh, sebugar apa pun pemiliknya, tak lagi bisa mendinginkan diri sendiri. Di titik itu, sauna kering bersuhu delapan puluh derajat pun lebih tertahankan daripada udara lembab 40 derajat yang mencekik.
Perancis bukan tanpa sejarah. Sekitar 15.000 nyawa melayang saat gelombang panas menghantam negeri itu pada 2003. Sesudahnya, sistem peringatan dini dibangun, budaya saling jaga warga rentan ditanamkan. Kota-kota melambat secara teratur ketika suhu memuncak. Itu sebabnya Perancis bukan yang paling mengkhawatirkan, setidaknya bagi siapa yang mengikuti apa yang sudah mereka pelajari dengan mahal.
Indonesia justru posisinya lebih rawan. Paradoksnya ada di sini: termometer kita tampak jinak. Jakarta jarang menyentuh 40 derajat. Tapi kelembaban udara yang tinggi membuat 33 derajat di Jakarta bisa jauh lebih menyiksa tubuh ketimbang suhu yang sama di Eropa yang kering. Suhu bola basah kita perlahan merangkak naik, tanpa banyak yang menyadarinya, tanpa sistem peringatan yang memadai, tanpa kebiasaan kolektif untuk waspada.
Jebakan.
Dampaknya pun tidak datang dalam bentuk bencana massal yang dramatis dan mudah diliput. Ia hadir sebagai beban yang menumpuk diam-diam, terutama pada penduduk lansia dan keluarga yang tinggal di rumah padat beratap seng tanpa pendingin. Sebuah proyeksi dari tim Varquez yang diterbitkan di Scientific Reports pada 2020 menyebutkan kematian penduduk lansia akibat panas di Jakarta bisa meningkat belasan kali lipat menjelang pertengahan abad ini. Angka yang tidak main-main.
Gelombang panas juga bukan urusan yang hanya menimpa yang tua. Mereka yang muda dan aktif pun rentan, terutama yang bekerja di bawah sengatan matahari tanpa jeda istirahat yang memadai. Pemanasan global tidak menciptakan panas dari ketiadaan; ia hanya menggeser peluang, membuat kejadian ekstrem yang dulu langka kian sering dan kian intens. Pertanyaannya, berapa lama kita masih bisa menatap ini sambil menganggapnya bukan urusan mendesak?
Langkah-langkah yang bisa diambil, jujur saja, tidak selalu butuh teknologi canggih. Menengok tetangga lansia ketika siang memuncak. Memberi jeda bagi pekerja lapangan. Merancang hunian dengan ventilasi silang dan naungan pohon, bukan bergantung sepenuhnya pada pendingin ruangan yang tidak semua orang sanggup memiliki atau membayar tagihannya. Kebiasaan-kebiasaan kecil itu, kalau jadi budaya bersama, nilainya jauh melampaui menunggu korban berjatuhan baru bergerak. Bak gayung bersambut, perubahan kecil yang menyebar bisa jadi tameng kolektif yang tidak perlu anggaran negara.
Kita sudah terlalu lama memperlakukan gerah sebagai keluhan harian, bukan sebagai sinyal yang perlu dibaca serius. Dari Toulouse yang membara, ada pesan yang agaknya perlu didengar sebelum termometer kita sendiri, atau tubuh kita sendiri, terlambat memberi kabar.