Tinta kesepakatan di Washington belum kering, bom sudah kembali berjatuhan di selatan Lebanon. Sehari setelah Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 45 hari, pesawat tempur Israel menggempur sejumlah wilayah di Lebanon Selatan, menewaskan sedikitnya lima warga sipil dan melukai lima lainnya.
Serangan paling mematikan menghantam kota Tayr Falsayh di distrik Tyre. Tiga orang tewas: seorang wanita, putranya, dan seorang petugas medis. Di Haboush, sepasang suami istri turut menjadi korban. Lima warga lain yang terluka terkena pecahan reruntuhan saat hendak memungut jenazah dari lokasi serangan sebelumnya. Bukan angka kecil untuk hari yang seharusnya disebut gencatan senjata.
Militer Israel juga kehilangan orangnya. Seorang kapten pasukan darat tewas akibat drone bunuh diri yang diluncurkan dari wilayah Lebanon. Menurut juru bicara militer Israel, drone itu diluncurkan dari platform rahasia jauh di dalam wilayah Lebanon, menembus pertahanan, lalu menghantam situs militer perbatasan yang baru didirikan. Fatal. Sang kapten meninggal di tempat, kendaraan lapis baja di sekitar lokasi ikut rusak. Unit 669 dikerahkan untuk evakuasi medis, dan identitas personel yang terluka diblokir dari publikasi hingga keluarga mereka diberitahu.
Kepala Staf Israel langsung memerintahkan eskalasi ofensif dan defensif di sepanjang Garis Biru, mencakup penguatan posisi terdepan dan pengerahan brigade elit tambahan. Juru bicara militer menegaskan Tel Aviv berhak melancarkan pembalasan "pada waktu dan tempat yang dianggap tepat."
Sejak Sabtu, setidaknya lima desa di Lebanon Selatan menjadi sasaran bombardir. Otoritas militer Israel juga memperluas zona pengungsian paksa dengan perintah evakuasi baru yang menyasar sembilan desa di sekitar Sidon dan Nabatieh, termasuk Qaaqaaiyet, al-Snoubar, Kaouthariyet al-Saiyad, al-Marwaniyah, dan al-Ghassaniyah. Ribuan warga kembali terpaksa angkat kaki.
Angka korban kumulatif versi Kementerian Kesehatan Lebanon sejak 2 Maret sudah menyentuh 2.969 jiwa meninggal dan 9.112 luka-luka. Angka yang tidak main-main, mengingat gencatan senjata resmi diklaim berlaku sejak 17 April.
Hizbullah, yang memang sejak awal menentang keras meja perundingan Washington, merilis pernyataan mengecam hasil kesepakatan dan mendesak pemerintah Lebanon agar menyudahi segala bentuk kompromi. Delegasi Lebanon di Washington justru masih menyambut baik perpanjangan itu. Pihak kepresidenan Lebanon menyebut perpanjangan ini memberikan "ruang bernapas yang sangat krusial bagi warga negara kami, memperkuat institusi negara, dan memajukan jalur politik menuju stabilitas yang langgeng."
Putaran perundingan berikutnya dijadwalkan 2 dan 3 Juni di Washington, dengan jalur keamanan fasilitasi AS ditargetkan mulai berjalan pada 29 Mei. Pertanyaannya sederhana: siapa yang masih percaya angka-angka di kalender diplomatik itu punya makna di lapangan?