JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Gembala Irak Tewas Terbakar, Bongkar Pangkalan Rah...

Internasional

Gembala Irak Tewas Terbakar, Bongkar Pangkalan Rahasia Israel di Gurun Najaf

Awad al-Shammari, penggembala berusia 29 tahun, ditemukan hangus terbakar bersama truk pikupnya setelah melaporkan aktivitas militer mencurigakan di gurun barat Irak, yang belakangan dikonfirmasi sebagai pangkalan logistik rahasia Israel.

Is there a secret Israeli base in the Iraqi desert? The base is purportedly used to launch attacks against Iran during the war. Here is everything we know so far. ⁠

Awad al-Shammari tidak pernah mengira laporan teleponnya kepada komando militer regional Irak pada 3 Maret lalu akan menjadi hal terakhir yang ia lakukan. Penggembala berusia 29 tahun itu menemukan sesuatu di gurun barat Irak, sesuatu yang rupanya terlalu berbahaya untuk dilihat orang biasa: tenda-tenda, helikopter, landasan pendaratan, dan pria-pria bersenjata yang beroperasi di hamparan pasir terpencil dekat kota al-Nukhaib.

Dua hari keluarganya mencarinya. Petunjuk tidak datang dari pihak berwenang, melainkan dari warga Badui setempat yang menyaksikan kejadian itu dengan mata kepala sendiri. Truk pikap al-Shammari dikejar dan ditembaki berulang kali oleh sebuah helikopter sampai hangus. "Kami diberi tahu bahwa ada truk pikap yang hangus terbakar, sama seperti milik Awad, di sana, tetapi tidak ada yang berani pergi ke sana," kata sepupunya, Amir al-Shammari. "Ketika kami sampai di sana, kami menemukan mobil dan jenazah yang hangus terbakar." Mereka menguburkannya di tempat, di samping kendaraan yang jadi peti matinya, di bawah batu nisan abu-abu sederhana.

Sehari setelah laporan sang gembala masuk, komando regional Irak mengirim unit pengintaian ke lokasi. Hasilnya bukan informasi. Pasukan yang mendekati area tersebut langsung dihujani tembakan dari darat dan udara, satu tentara tewas, dua lainnya luka-luka, dua kendaraan dibom sebelum unit memutuskan mundur. Cukup untuk bikin siapa pun berpikir dua kali.

Kepastian soal identitas siapa yang beroperasi di sana akhirnya muncul lewat dua laporan investigasi besar: The Wall Street Journal dan New York Times. WSJ, dalam laporannya bertajuk "Israel Built and Defended a Secret Iran War Base in Iraq", mengonfirmasi bahwa fasilitas tersebut dibangun Israel sesaat sebelum perang 12 hari melawan Iran pada Juni 2025, dengan sepengetahuan penuh Amerika Serikat. NYT kemudian membongkar lebih jauh: bukan satu, melainkan dua pangkalan rahasia Israel yang beroperasi di gurun barat Irak.

Fungsi fasilitas ini dirancang dengan kalkulasi militer yang tak main-main. Pangkalan tersebut berfungsi sebagai titik dukungan udara, pengisian bahan bakar, dan perawatan medis untuk memangkas jarak tempuh pesawat-pesawat Israel menuju wilayah Iran. Di sana pula disiagakan unit elit Angkatan Udara Israel yang terlatih untuk operasi di belakang garis lawan, termasuk tim evakuasi pilot jika pesawat mereka jatuh di teritorial musuh. Sejak akhir 2024, Israel rupanya sudah bergerak mengidentifikasi lokasi-lokasi strategis untuk konflik yang tampaknya memang sudah diantisipasi.

Posisi Washington dalam keseluruhan cerita ini yang membuat situasi makin pelik. Dua pejabat keamanan Irak mengungkapkan bahwa selama konflik berlangsung, AS memaksa Baghdad mematikan sistem radarnya guna melindungi pergerakan pesawat Amerika. Irak, secara praktis, menjadi buta terhadap aktivitas asing di langitnya sendiri. Baru setelah Kepala Staf Angkatan Bersenjata Irak mengonfirmasi kepada pihak militer AS bahwa pasukan yang menyerang bukan bagian dari tentara Amerika, Baghdad menyimpulkan mereka adalah tentara Israel.

Anggota parlemen Irak Waad al-Kadu, yang menghadiri pengarahan parlemen rahasia soal pangkalan tersebut, tidak menyembunyikan amarahnya. "Ini menunjukkan pengabaian terang-terangan terhadap kedaulatan Irak, pemerintah dan pasukannya, serta terhadap martabat rakyat Irak," tegasnya. Ia bahkan menyebut sikap para pemimpin keamanan negaranya sendiri sebagai "sangat memalukan".

Mayor Jenderal Ali al-Hamdani, Komandan Pasukan Eufrat Barat, mengakui bahwa pihak tentara sudah mencurigai kehadiran pasukan Israel di gurun itu lebih dari sebulan sebelum sang gembala melaporkannya. "Sampai sekarang, pemerintah masih bungkam mengenai hal itu," ungkapnya. Bungkam. Para pejabat senior di Baghdad pun mengaku upaya mereka menindaklanjuti insiden ini berulang kali digagalkan oleh komandan-komandan militer tertinggi yang meremehkan kejadian tersebut. Pertanyaannya, sampai kapan tembok senyap ini bisa bertahan?

Secara resmi, Irak membantah keberadaan pangkalan asing di wilayahnya dan mengajukan protes ke Dewan Keamanan PBB. Juru bicara pasukan keamanan Irak, Letnan Jenderal Saad Maan, menegaskan pihaknya tidak memiliki informasi mengenai lokasi pangkalan militer Israel mana pun. Klaim yang agaknya sulit dipertahankan, mengingat bukti yang kini berserakan di meja wartawan dua media besar dunia.

Di media sosial Irak, al-Shammari sudah diberi gelar yang tidak sempat ia sandang semasa hidup: pahlawan nasional. Seorang gembala tanpa senjata, berbekal ponsel dan naluri untuk melapor, kini menjadi wajah dari pertanyaan yang jauh lebih besar. Seberapa jauh, sebenarnya, kedaulatan Irak masih menjadi milik Irak?