JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Gelombang Panas Italia Menghantam Produksi Keju Pa...

Internasional

Gelombang Panas Italia Menghantam Produksi Keju Parmigiano Reggiano

Suhu di atas 40 derajat celsius memaksa peternak sapi di Italia pasang kipas angin dan water-mist di kandang, sementara pemerintah umumkan status merah di 15 kota besar.

Kandang Sapi Dipasang Kipas Angin karena Gelombang Panas

Gelombang panas yang membakar Italia bukan sekadar soal manusia yang kepanasan. Di kandang-kandang sapi Provinsi Parma, ancaman itu terasa jauh lebih konkret: warisan kuliner berusia berabad-abad sedang diuji.

Bertinelli (54), peternak di Medesano, kawasan pinggiran Parma, kini memasang kipas angin dan water-mist systems di kandangnya hanya demi menjaga ternak tetap bisa berproduksi. Suhu yang menembus 40 derajat celsius membuat sapi lebih banyak berbaring, nafsu makan anjlok, dan produksi susu tergerus hingga 10 persen dari kondisi normal. "Cuaca panas ekstrem berdampak pada kualitas dan kuantitas susu yang menurun," kata Bertinelli, seperti dilansir Reuters.

Masalahnya lebih dalam dari sekadar tagihan listrik. Medesano adalah pemasok susu bagi industri Parmigiano Reggiano yang sudah tua dan keras aturannya: keju premium ini hanya boleh diproduksi di lima provinsi di wilayah Emilia-Romagna, dan sapi-sapinya wajib diberi makan eksklusif rumput serta jerami lokal. Ketika panas datang tanpa hujan, rantai itu putus dari pangkalnya. "Jika tidak hujan, rumput tidak tumbuh, jerami tidak dapat diproduksi, dan tidak mungkin mendapatkan susu yang dibutuhkan untuk membuat keju," ujar Bertinelli.

Solusi teknis memang ada. Mahal, tapi ada. Kipas dan semburan air membantu, namun konsumsi listrik melonjak tajam. Gudang penyimpanan keju milik Magazzini Generali delle Tagliate (MGT) di Provinsi Reggio Emilia dan Modena mencatat kenaikan konsumsi energi harian sekitar 30 persen selama puncak gelombang panas tahun ini. "Untuk membuat fasilitas kami seefisien mungkin dalam hal penggunaan energi, kami telah meningkatkan sistem pendingin dan boiler, meningkatkan isolasi bangunan, dan meningkatkan produksi energi terbarukan," kata Direktur MGT Giancarlo Ravanetti.

Di level nasional, skala ancaman ini agaknya cukup serius untuk membuat pemerintah turun tangan. Kementerian Kesehatan Italia resmi mengumumkan status merah, tingkat bahaya tertinggi, di 15 kota besar sekaligus: Bari, Campobasso, Genoa, Latina, Palermo, Pescara, Rieti, Viterbo, Bologna, Brescia, Florence, Frosinone, Perugia, Roma, dan Turin. Milan diperkirakan menyusul masuk status merah pada Jumat (17/7). Status tingkat tiga ini bukan peringatan biasa. Ia menandakan risiko kesehatan yang nyata bahkan bagi penduduk muda yang sehat.

Pertanyaannya, berapa lama Italia bisa menahan ini?

Para ilmuwan iklim sudah lama memperingatkan bahwa krisis semacam ini bukan anomali musiman, melainkan konsekuensi logis dari emisi gas rumah kaca yang terus menumpuk akibat aktivitas manusia. Gelombang panas, kekeringan, badai, hingga banjir ekstrem akan makin sering dan makin keras. Italia sedang merasakannya langsung di kandang sapi dan gudang keju mereka.

Bagi produsen Parmigiano Reggiano, pertanyaan musim ini bukan lagi soal mempertahankan kualitas. Biaya adaptasi terus membengkak. Dan setiap musim panas, tagihan itu makin berat.