Suhu siang hari menembus 44 derajat Celsius di sebuah kota Prancis. Malam harinya, sejumlah wilayah Spanyol masih tercatat di atas 30 derajat. Bukan sekadar panas biasa, ini gelombang panas terpanas sekaligus paling lembap yang pernah menghantam Eropa, dan korbannya kemungkinan besar akan dihitung dalam ribuan.
Jaringan ilmuwan World Weather Attribution merilis studi yang menganalisis periode 26 hingga 28 Juni, menelaah seberapa besar kemungkinan suhu ekstrem ini terjadi di iklim yang lebih sejuk seperti pada era 1976 dan 2003. Kesimpulannya keras: tanpa pemanasan global, kejadian serupa hanya punya peluang terjadi kurang dari sekali dalam 10.000 tahun. Lima puluh tahun silam, gelombang panas Juni lazimnya 3,5 derajat Celsius lebih sejuk dari angka yang kita saksikan sekarang.
"Fenomena ini tidak akan mungkin terjadi di bulan Juni tanpa adanya perubahan iklim. Suhu malam hari selama tiga hari berturut-turut ini tidak akan mungkin terjadi kapan pun sepanjang tahun tanpa adanya perubahan iklim," kata Theodore Keeping dari Imperial College London.
Yang membuat gelombang panas kali ini berbeda bukan hanya soal suhu. Tingkat kelembapan menembus lebih dari 50 persen di banyak kota Inggris, angka yang belum pernah tercatat sebelumnya. Titik embun bertengger di kisaran 20-an derajat Celsius, jauh di atas angka satu digit yang tercatat saat gelombang panas Juli 2022. Studi bahkan menemukan suhu bola basah, yang mengukur kombinasi panas, kelembapan, radiasi, dan pergerakan udara, telah atau diperkirakan akan memecahkan rekor di hampir separuh kota di seluruh Eropa.
Kelembapan tinggi ini bukan sekadar soal kenyamanan. Ia memperlambat penguapan, membuat keringat gagal mendinginkan tubuh secara efektif. Risiko kematian akibat kepanasan pun melonjak, bahkan bagi mereka yang tidak masuk kategori rentan.
Angka korban jiwa resmi agaknya belum akan terlihat dalam waktu dekat. Tapi studi sebelumnya sudah memberi gambaran suram: gelombang panas yang skalanya lebih kecil pada Juni dan Juli 2025 menewaskan 2.300 orang di London dan 11 kota Eropa lainnya. Gelombang panas kali ini lebih panas, lebih lembap. Hitung sendiri.
"Apa yang kita lihat dengan sangat jelas adalah betapa tidak meratanya dampak dari gelombang panas ini. Orang-orang yang paling rentanlah yang paling berisiko kehilangan nyawa," kata Friederike Otto, kolega Keeping di Imperial College London. Kelompok yang paling terpapar bukan hanya lansia atau penderita penyakit kronis. Migran, tunawisma, ibu hamil, hingga penderita gangguan kesehatan mental masuk dalam daftar yang kerap terlupakan oleh kebijakan mitigasi.
Pola cuaca pemicunya, kubah tekanan rendah yang menjebak udara panas dari selatan, sebetulnya bukan fenomena langka. Yang berubah adalah intensitasnya. Super El Nino yang kini mulai terbentuk di Samudra Pasifik, menurut studi ini, tidak berperan dalam kejadian spesifik kali ini. Emisi bahan bakar fosil yang bertahun-tahun menumpuk di atmosfer, itulah dalang utamanya.
Eropa, benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, nyatanya belum siap. Populasinya menua, tinggal di hunian yang dibangun untuk era jauh lebih sejuk. Di Inggris, hanya 5 persen rumah yang punya AC. Para peneliti mendorong investasi besar dalam sistem pendingin pasif: insulasi bangunan, ventilasi memadai, atap dan dinding hijau, serta pohon-pohon di koridor jalan kota. Carolina Pereira Marghidan dari Red Cross Red Crescent Climate Centre menambahkan bahwa rencana aksi penanganan panas yang ada di Eropa selama ini belum cukup menjangkau semua kelompok rentan.
Gelombang panas akan makin sering, makin brutal. Dan Eropa, setidaknya untuk saat ini, masih berlari mengejar ketertinggalannya.