Dua anak meninggal di dalam mobil di Prancis. Bukan karena kecelakaan, tapi karena panas. Peristiwa itu jadi simbol betapa gelombang panas yang sedang mencekik sebagian besar wilayah Eropa bukan sekadar soal cuaca yang tak nyaman.
Laporan wilayah Eropa 2026 dari The Lancet Countdown mencatat angka yang bikin dahi berkerut: paparan gelombang panas pada lansia melonjak 266 persen selama 2015-2024 dibandingkan dekade 1991-2000. Untuk bayi di bawah satu tahun, kenaikannya 121 persen. Tidak kecil.
Selama ini peringatan kesehatan masyarakat lebih sering diarahkan ke kelompok lansia. Masuk akal, karena secara fisiologis tubuh yang menua kehilangan kemampuan mengatur suhu dengan efisien, produksi keringat berkurang, dan rasa haus pun tumpul. Jacques Boddaert, kepala bagian perawatan lansia di Rumah Sakit Universitas Pitie-Salpetriere Paris, menggambarkannya blak-blakan: "Rasa haus juga makin berkurang, dan mereka biasanya baru merespons setelah tubuhnya telanjur mengalami dehidrasi parah."
Lebih rumit lagi, sebagian besar lansia mengonsumsi obat-obatan untuk penyakit jantung yang bersifat diuretik, membuang cairan tubuh saat cuaca justru menuntut hidrasi ekstra. "Dan jika orang-orang yang biasanya merawat lansia tersebut kebetulan sedang pergi maka situasinya bisa menjadi sangat berbahaya," Boddaert memperingatkan.
Panas ekstrem bukan hanya urusan yang tua. Ahli wabah Noemie Letellier mengingatkan bahwa lansia perempuan yang hidup sendirian dengan kondisi keuangan terbatas menghadapi risiko berlapis. Perempuan lanjut usia, katanya, lebih sering tinggal sendiri dan mengantongi tabungan lebih tipis dibanding lansia laki-laki, kombinasi yang bisa jadi fatal saat termometer melampaui 40 derajat. Di luar itu, ibu hamil serta anak-anak juga masuk kategori rentan. Riset yang dipublikasikan Journal of Climate Change and Health (2024) mencatat lonjakan kunjungan anak ke IGD, kambuhnya asma, hingga amblesnya kemampuan belajar di sekolah saat gelombang panas melanda. Climate Central bahkan memperingatkan bahwa jumlah hari berbahaya bagi kehamilan akibat suhu panas sudah berlipat ganda dalam lima tahun terakhir di lebih dari 200 negara.
Pertanyaannya, berapa lama pola ini akan terus berulang? Para ilmuwan sudah lama menegaskan bahwa perubahan iklim akan membuat peristiwa seperti ini lebih sering terjadi, lebih intens, dan lebih panjang. Gelombang panas Eropa saat ini agaknya hanyalah satu bab dari serial yang belum selesai.
Sementara korban berjatuhan, ada pihak yang justru panen. Produsen AC Asia mendadak jadi nama paling dicari warga Eropa. Samsung melaporkan pertumbuhan penjualan dua digit di Italia, Spanyol, dan Prancis pada paruh pertama tahun ini, dan memproyeksikan permintaan akan terus mengalir seiring suhu yang diperkirakan naik mulai Juni. LG Electronics sudah mengoperasikan lini produksinya di Korea Selatan pada kapasitas penuh sejak April.
Midea dari China menceritakan situasi yang lebih ekstrem: pesanan masuk begitu deras sampai harga unit AC bekas melampaui harga unit baru. Penjualan e-commerce Midea di Jerman terkerek 37 persen pada Mei dibanding tahun lalu, sementara pengiriman ke Spanyol dan Prancis melejit 108 persen. Mitsubishi Electric dari Jepang turut mencatat lonjakan serupa di Prancis, Spanyol, Inggris, dan Jerman.
Ironinya, Eropa selama ini dikenal sebagai kawasan yang warganya ogah pasang AC, sebagian karena alasan lingkungan, sebagian lagi karena bangunan-bangunan tua membuat instalasinya mahal dan berbelit. Midea menyebut biaya pemasangan bisa menembus USD 1.137 per unit. Kepemilikan AC di Eropa saat ini baru sekitar 20 persen dari total rumah tangga, menurut International Energy Agency, jauh di bawah angka Asia atau Amerika Utara.
Sikap itu kini runtuh, didorong bukan oleh kesadaran tapi oleh kedaruratan. Bukan main. Tinggal satu pertanyaan yang tersisa: apakah infrastruktur listrik Eropa siap menanggung lonjakan konsumsi energi ketika jutaan unit AC baru dinyalakan serentak di musim panas berikutnya.