Dua universitas besar London, City University dan St George's, resmi melebur menjadi City St George's, University of London per 1 Agustus 2024. Bukan sekadar rebranding, ini sinyal awal dari apa yang kini mulai disebut sebagai era konsolidasi besar pendidikan tinggi Inggris.
Domino terus berjatuhan. Akhir 2025, Kent University dan Greenwich University mengumumkan merger yang akan melahirkan London and South East University Group (LASEUG), super-universitas pertama di Inggris dengan lebih dari 50.000 mahasiswa tersebar di empat kampus di London, Medway, dan Kent. Mei 2026, King's College London menyatakan sepakat bergabung dengan Cranfield University. Rampung di akhir musim panas 2027, King's akan menaungi sekitar 47.000 mahasiswa dan menjadi universitas terbesar kedua di Inggris, melampaui Manchester dan hanya kalah dari University College London.
Dua dari lima universitas Inggris kini terbuka terhadap opsi merger. Bukan retorika. Itu temuan laporan "The Great Consolidation" yang ditulis John O'Leary di QS Insights Magazine edisi Juni 2026.
Pemicunya bukan ambisi ekspansi birokrasi semata. Office for Students (OfS) sudah membunyikan alarm sejak November 2025: 24 institusi berisiko bangkrut dalam 12 bulan ke depan, sementara 45% perguruan tinggi diprediksi menutup buku dengan defisit di tahun akademik 2025-2026. Banyak universitas sudah mulai memangkas pegawai, menjual aset, bahkan menutup program studi. Komite Pendidikan Parlemen Inggris menyebut kondisi ini sebagai krisis terang-terangan, dengan risiko penutupan universitas yang, menurut mereka, nyata adanya. "Dampaknya akan sangat serius, tidak hanya bagi mahasiswa dan staf, tetapi juga bagi perekonomian lokal, masyarakat, dan reputasi akademis global Inggris," tegas komite tersebut.
Pemerintah Inggris, setidaknya secara retoris, berdiri di belakang langkah konsolidasi ini. Juru bicara Departemen Pendidikan menyambut baik merger yang dinilai akan menciptakan institusi lebih kuat. "Kami berkomitmen menciptakan masa depan aman bagi universitas berkelas dunia agar memberikan manfaat bagi mahasiswa, pembayar pajak, pekerja, dan perekonomian," ujarnya, seraya mendorong universitas mengambil keputusan yang menjamin keberlangsungan jangka panjang.
Yang menarik justru caranya. Konsolidasi tidak terjadi dalam sunyi, tidak pula diperlakukan sebagai aib institusional. Universities UK mengauditnya secara terbuka, parlemen memperdebatkannya, media meliputnya. Merger dijadikan strategi terencana dan bermartabat, bukan jalan keluar darurat yang ditempuh diam-diam.
Bandingkan dengan gambaran yang lebih dekat. Indonesia mengoperasikan 4.303 perguruan tinggi pada 2025, dengan 63 persen di antaranya berstatus swasta. Inggris hanya punya sekitar 160 universitas untuk populasi sepertiga Indonesia. Masif. Sepanjang 2026, Kemdiktisaintek mencatat penutupan 122 program studi, sementara empat kampus swasta di Papua tutup karena mahasiswa dan dosen terus menyusut. Penutupan itu berlangsung senyap, nyaris tanpa liputan nasional, tanpa audit publik atas nasib ribuan orang yang terdampak.
Beda skala, beda gaya respons, agaknya itulah perbedaan paling mencolok antara dua ekosistem pendidikan tinggi yang sama-sama sedang dihajar gelombang serupa.