MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Gedung Senat Filipina Membara, Bato Dela Rosa Masi...

Internasional

Gedung Senat Filipina Membara, Bato Dela Rosa Masih Berkeliaran

Belasan tembakan menggelegar di kompleks Senat Filipina saat aparat berusaha menangkap Senator Ronald Dela Rosa, buron Mahkamah Pidana Internasional yang kini berlindung di balik imunitas legislatif.

Tembakan Warnai Upaya Penangkapan Senator Filipina

Belasan tembakan terdengar dari dalam Gedung Senat Filipina, Rabu malam (13/5/2026). Bukan latihan. Bukan film.

Suara itu muncul ketika pasukan mencoba menjangkau Senator Ronald "Bato" Dela Rosa, 64 tahun, yang kini berstatus buron Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Para jurnalis yang ada di lokasi melaporkan belasan kali letusan senjata. Orang-orang berhamburan mencari perlindungan. Gedung Senat dikunci. Para senator berlindung di dalam ruangan masing-masing.

Kacau.

Sekretaris Senat Mark Llandro Mendoza menuding agen Biro Investigasi Nasional (NBI) sebagai pihak yang melepaskan tembakan saat mundur dari kompleks. Direktur NBI Melvin Matibag langsung membantah: tidak ada agennya di sana. Beberapa menit sebelum tembakan, sejumlah marinir berseragam loreng dengan senjata lengkap sudah masuk ke gedung, dan militer berdalih datang atas permintaan Senat sendiri.

Siapa yang menembak? Belum ada jawaban resmi.

Presiden Ferdinand Marcos Jr muncul lewat pesan video, menyerukan tenang dan memerintahkan semua personel mundur dari kompleks Senat. Marcos juga menegaskan tidak ada instruksi pemerintah untuk menangkap Dela Rosa malam itu. "Kami akan menyelidiki hal ini sampai tuntas. Apakah insiden ini bagian dari destabilisasi? Kami perlu mengetahuinya," kata Marcos dalam video tersebut. Menteri Dalam Negeri Jonvic Remulla menambahkan bahwa Dela Rosa dalam kondisi aman bersama personel keamanan.

Lantas, siapa sebenarnya Bato Dela Rosa?

Kepala polisi Filipina semasa pemerintahan Rodrigo Duterte. Arsitek lapangan dari kampanye "perang melawan narkoba" yang menewaskan ribuan orang antara 2016 dan 2018. Polisi mengklaim lebih dari 6.000 korban tewas dalam Proyek Double Barrel, semuanya bersenjata dan melawan. Kelompok hak asasi manusia punya versi berbeda, menduga angka sesungguhnya jauh lebih tinggi karena banyak kematian terjadi dalam pembunuhan misterius di daerah kumuh yang tidak pernah tercatat resmi.

ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan Dela Rosa sejak 6 November 2025. Surat itu baru bisa diakses publik pada Senin (11/5/2026), memuat dakwaan bahwa ia diduga bertanggung jawab atas setidaknya 32 pembunuhan selama 2016-2018, yang dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dela Rosa menghilang dari radar publik sejak November 2025. Pekan ini ia tiba-tiba muncul di Senat, ikut memberikan suara dalam pemilihan yang mengantarkan Alan Peter Cayetano, sekutu Duterte, sebagai Presiden Senat. Sejak itu ia bercokol di kantornya, mengklaim perlindungan legislatif.

"Saya memohon kepada Anda, jangan biarkan warga Filipina lainnya dibawa ke Den Haag," kata Dela Rosa lewat video Facebook, seolah melempar bola ke publik.

Argumen hukumnya sederhana: Filipina bukan lagi penanda tangan Statuta Roma sejak Duterte menarik diri pada 2018, sehingga setiap ekstradisi ke ICC dinilainya ilegal. Petisi darurat sudah dilayangkan ke Mahkamah Agung untuk memblokir upaya itu. Mahkamah Agung memberi semua pihak waktu 72 jam untuk merespons. ICC, dari Den Haag, berpendirian bahwa yurisdiksinya tetap berlaku atas kejahatan yang dilakukan ketika Filipina masih menjadi anggota, yakni antara 2011 dan 2019.

Insiden ini bukan episode tunggal. Bak retakan yang makin menganga, perseteruan dua dinasti politik terbesar Filipina kini sudah sulit ditambal.

Marcos dan Duterte sempat berkoalisi kuat saat Pemilu 2022. Koalisi itu kini tinggal puing. Pada hari yang sama dengan insiden tembakan, DPR Filipina kembali menggulirkan upaya pemakzulan terhadap Wakil Presiden Sara Duterte, didukung 257 anggota parlemen, jauh melampaui ambang batas sepertiga kursi DPR. Sara dituduh menyalahgunakan dana publik, menumpuk kekayaan yang tidak bisa dijelaskan, hingga mengancam nyawa Marcos Jr.

Bagi Sara, ini bukan sekadar pertarungan hukum. Secara konstitusi Marcos hanya satu periode, menjadikan Sara kandidat terkuat untuk Pilpres 2028. Pemakzulan yang berhasil bisa menghapus nama itu dari daftar.

Cayetano yang kini memimpin Senat, agaknya, bisa menjadi tembok penghalang bagi DPR. Senat punya wewenang menjalankan sidang pemakzulan, dan DPR pernah gagal di jalur ini pada 2025 karena kesalahan prosedural.

Sang ayah, Rodrigo Duterte, sudah lebih dulu mendekam di Den Haag sejak 2025, menunggu persidangan sambil terus mengklaim tidak bersalah. Satu per satu, orang-orangnya masuk bidikan ICC. Bato adalah yang terbaru. Entah kebetulan atau tidak, upaya penangkapannya justru berakhir dengan tembakan yang belum jelas dari mana asalnya.