JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Gedung 37 Lantai di Manhattan Nyaris Ambruk, Ribua...

Internasional

Gedung 37 Lantai di Manhattan Nyaris Ambruk, Ribuan Warga Dievakuasi

Dua kolom baja melengkung dan lantai retak di bekas kantor Pfizer yang sedang direnovasi memaksa pihak berwenang mengevakuasi hotel, sekolah, dan apartemen di jantung Manhattan, Selasa pagi.

Evakuasi darurat pusat kota New York City karena risiko runtuhnya gedung dengan lebih dari 30 lantai.

Selasa pagi di Manhattan, situasi berubah genting. Sebuah gedung 37 lantai di kawasan Midtown New York tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda serius akan runtuh, memaksa pihak berwenang mengosongkan area sekitarnya dalam hitungan jam.

Gedung ini bukan sembarang bangunan. Bekas kantor pusat Pfizer itu berdiri strategis di dekat Stasiun Grand Central dan markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, tengah menjalani konversi besar-besaran dari perkantoran menjadi apartemen mewah. Proyek ambisius pengembang Metroloft itu semula ditargetkan menghasilkan sekitar 1.600 unit hunian sewa, menjadikannya konversi gedung kantor ke hunian terbesar dalam sejarah kota New York, dengan total luas sekitar 1,3 juta kaki persegi. Penyelesaiannya dijadwalkan awal 2027.

Dua kolom struktural baja dilaporkan melengkung. Disertai retakan di sejumlah titik dan lantai-lantai yang melendut. Tim darurat kota menemukan kondisi itu ketika memasuki lokasi, dan penilaian mereka tidak main-main. Wali Kota New York Zohran Mamdani turun langsung ke lokasi dan menyebut bangunan dalam kondisi tidak stabil. "Sejak tiba di lokasi, kami juga menyaksikan adanya pergerakan tambahan pada salah satu kolom yang mengalami kerusakan," ujarnya dalam konferensi pers. Pernyataan yang agaknya cukup untuk membuat siapa pun bergidik.

Seluruh pekerja konstruksi berhasil dievakuasi tanpa korban jiwa maupun luka-luka. Tapi kesaksian mereka yang keluar dari gedung itu cukup membuat bulu kuduk berdiri. Clifford Johnsen dari serikat pekerja Steamfitters Local 638 menduga beban lantai-lantai baru yang terus ditambahkan di atas struktur lama menjadi biang keroknya. "Mereka terus menambah lantai. Ketika bobot bertambah, inilah yang bisa terjadi jika perancangannya atau pemasangannya tidak dilakukan dengan benar," katanya. Johnsen, yang sudah 21 tahun berkecimpung di sektor konstruksi, mengaku baru pertama kali menyaksikan balok baja melengkung hampir patah. "Saya sudah 21 tahun di dunia konstruksi dan belum pernah melihat balok melengkung menjadi dua. Ini sangat berbahaya," tambahnya. Pengakuan yang tidak enteng dari seseorang dengan pengalaman sepanjang itu.

Seorang pekerja bernama Eddie, 28 tahun, bercerita bahwa dirinya masih di lantai bawah ketika melihat rekan-rekannya berbondong-bondong turun. Baru setelahnya ia diberi tahu soal kolom yang patah. Pekerja lain, Fernando Sanchez, menyebut kerusakan terparah terlihat di lantai 21 hingga 25, di mana balok tampak melengkung dan sebagian struktur mengalami keruntuhan kecil.

Respons kota bergerak cepat. Hotel, gedung perkantoran, apartemen, hingga satu sekolah di sekitar lokasi dikosongkan. Ruas jalan ditutup. Drone diterbangkan untuk menilai kerusakan dari udara karena sebagian area dinilai terlalu berbahaya untuk dimasuki petugas. Bahkan stasiun televisi lokal PIX11 terpaksa menghentikan siaran langsung dan mengosongkan studionya yang berada tak jauh dari gedung tersebut.

Metroloft bersikeras bahwa kerusakan hanya terjadi pada sebagian kecil dari salah satu dari dua bangunan di lokasi proyek, dan keseluruhan gedung tidak berada dalam risiko runtuh total. "Seperti yang disampaikan pihak pemadam kebakaran, keseluruhan bangunan tidak berada dalam risiko runtuh," kata perusahaan itu. Klaim yang masih perlu dibuktikan, mengingat tim darurat kota punya penilaian yang jauh lebih pesimistis soal kondisi strukturnya. Insinyur proyek kini bekerja bersama para ahli struktur untuk menyusun rencana penguatan, termasuk pemasangan balok dan penyangga darurat sebelum pekerjaan lanjutan bisa dilakukan.

Mamdani menegaskan perintah evakuasi baru akan dicabut ketika pemerintah benar-benar yakin kondisi aman. Pertanyaannya, berapa lama itu? Yang jelas, proyek "terbesar dalam sejarah kota New York" itu kini sedang berpacu dengan logika gravitasi.