Pada 30 Juni lalu, Gadi Eisenkot berdiri di podium dan mengucapkan kalimat yang sudah lama ditunggu-tunggu sebagian pemilih Israel: "Oktober mendatang, pemerintahan Oktober yang mengerikan akan berakhir."
Bukan pidato seorang jenderal. Itu deklarasi perang politik dari pria yang kehilangan putra bungsunya, Gal, di Gaza pada Desember 2023, lalu kehilangan dua cucunya dalam perang yang sama. Eisenkot, 66 tahun, mantan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), kini memimpin partai Yashar (Integritas) yang baru ia dirikan kurang dari setahun lalu. Dalam sejumlah jajak pendapat terbaru, partai itu sudah hampir menyamai perolehan suara Likud.
Reaksi Netanyahu tidak menunggu lama. Partai Likud memposting video buatan AI yang menampilkan Eisenkot berdiri berdampingan dengan anggota parlemen Arab Ahmad Tibi di depan Knesset yang diselimuti awan gelap, dengan keterangan: "Eisenkot tidak akan mampu membentuk pemerintahan tanpa partai-partai Arab." Pesannya transparan: asosiasikan lawan dengan koalisi yang dianggap tidak nyaman bagi pemilih basis Likud.
Agaknya serangan semacam itu tidak banyak menggores. Jurnalis Nachum Barnea dari Yedioth Aharonot mencatat bahwa daya tarik Eisenkot bersumber dari kombinasi yang sulit ditiru: mantan Kepala Staf, ayah yang kehilangan anak dalam perang yang ia sendiri turut rancang strateginya, dan warga Israel keturunan Maroko yang tumbuh di Tiberias dan Eilat, jauh dari pusat kekuasaan tradisional. Anak kedua dari sembilan bersaudara dalam keluarga imigran, ia berkarier dari Brigade Golani sebelum akhirnya ditunjuk Netanyahu sendiri sebagai Kepala Staf IDF pada 2015.
Kemampuan bahasa Inggrisnya yang diejek kubu Likud justru berbalik menjadi bumerang. Gaya Eisenkot yang bersahaja dan tanpa pretensi malah jadi nilai jual tersendiri. Berbeda dari Netanyahu, 76 tahun, yang dibesarkan di kalangan elit Yerusalem dan sudah puluhan tahun mengasah mesin kampanye serta reputasi sebagai orator.
Anshel Pfeffer, reporter The Economist sekaligus penulis biografi Netanyahu, meletakkan kontestasi ini dalam perspektif yang tajam. "Dari tahun 1996 hingga sekarang, Israel hampir selalu mencari seseorang yang mampu mengalahkan Netanyahu. Mereka yang berhasil menang karena mereka berbeda, sementara mereka yang gagal sering mencoba menjadi 'Netanyahu kedua'," kata Pfeffer. Eisenkot, menurutnya, tidak mengikuti jalan itu.
Dalam pidato pembukaan kampanyenya, Eisenkot memilih tidak menyebut nama Netanyahu secara langsung. Ia bicara tentang "mereka" yang menabur perpecahan, "mereka" yang mendorong pengecualian wajib militer bagi kaum ultra-Ortodoks, "mereka" yang tidak mengenal kata akuntabilitas. "Ini adalah kepemimpinan yang berbohong," tuduhnya. Slogan kampanyenya sederhana: "Israel harus menang."
Kritiknya bukan baru. Sejak bergabung dalam kabinet perang Netanyahu pasca serangan Hamas 7 Oktober 2023, Eisenkot makin keras menilai bahwa pemerintah tidak punya strategi jelas untuk mengakhiri konflik dan memulangkan sandera. Dalam suratnya kepada Netanyahu pada Februari 2024, ia secara terbuka menyatakan bahwa perang hanya menghasilkan "keuntungan taktis" tanpa bobot strategis yang memadai. Juni 2024, bersama Benny Gantz, ia hengkang dari kabinet.
Satu peringatan dari Pfeffer yang perlu dicermati: dari sisi kebijakan, Eisenkot adalah salah satu arsitek doktrin Dahiyeh dan perencana strategi awal Perang Gaza. "Dari segi kepribadian, mereka sangat berbeda. Tetapi jika menyangkut kebijakan, perbedaan itu mungkin tidak sebesar yang dipikirkan banyak orang," ujarnya. Bukan klaim kecil.
Faktor latar belakang etnis adalah variabel yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Pemilih Mizrahi, komunitas Yahudi dari Timur Tengah dan Afrika Utara, selama ini tulang punggung Likud. Israel belum pernah punya perdana menteri dari komunitas ini. Bahkan anggota parlemen Likud David Bitan pun mengakui bahwa latar belakang Eisenkot memberinya "keuntungan yang sangat besar" di segmen pemilih tersebut.
Masih ada empat bulan sebelum pemilu Oktober. Netanyahu bukan petarung yang mudah dijatuhkan, dan membangun koalisi dari partai-partai sayap kiri, tengah, kanan, hingga Arab dalam satu pemerintahan adalah tantangan yang bisa menggagalkan siapa saja, bahkan yang sudah menang di bilik suara sekalipun. Tapi setelah bertahun-tahun menyaksikan penantang demi penantang Netanyahu ambles, Eisenkot adalah yang pertama masuk ring dengan cerita yang benar-benar lain.