SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Foto 49.000 Megapixel Hajar Aswad: Batu Surga atau...

Internasional

Foto 49.000 Megapixel Hajar Aswad: Batu Surga atau Meteorit?

Arab Saudi merilis foto Hajar Aswad beresolusi 49.000 megapixel yang mengungkap warna asli batu suci itu bukan hitam, sekaligus membuka kembali perdebatan ilmiah soal asal-usulnya.

Arab Saudi Rilis Foto Hajar Aswad Beresolusi 49.000 Megapixel

Arab Saudi merilis foto Hajar Aswad beresolusi 49.000 megapixel, hasil gabungan 1.050 jepretan yang diproses selama lebih dari 50 jam. Cukup untuk membuat jutaan orang berhenti scroll sejenak.

Otoritas pengelola Dua Masjid Suci menggunakan kombinasi fotografi panoramik dan teknik focus stacking untuk menghasilkan dokumentasi digital yang belum pernah ada sebelumnya. Tim fotografer menghabiskan tujuh jam penuh di area Ka'bah hanya untuk sesi pemotretan, sebelum pengolahan data digitalnya memakan waktu berlipat ganda. Hasilnya: publik kini bisa memperbesar bagian terkecil dari permukaan batu suci itu tanpa kehilangan satu piksel pun ketajamannya.

Yang langsung memicu perbincangan adalah soal warna. Selama ini Hajar Aswad dikenal luas sebagai "batu hitam", sesuai arti namanya dalam bahasa Arab. Foto resolusi tinggi ini justru memperlihatkan bahwa warna aslinya cenderung merah kecokelatan, dengan semburat hitam pekat hanya di beberapa titik tertentu. "Orang bisa lihat bahwa ternyata batu ini tidak hitam," kata Afifi Al-Akiti, peneliti studi Islam di University of Oxford.

Al-Akiti menyebut proyek ini sebagai perpaduan menarik antara teknologi modern dan spiritualitas. "Meskipun batu ini belum pernah difoto seperti ini sebelumnya, saya pikir kerendahan hati umat Muslim dan ilmu pengetahuan bisa berjalan beriringan dengan indah dalam agama," ujarnya. Tiga versi foto yang dipublikasikan mencakup tampilan standar dengan bingkai perak, wujud batu secara menyeluruh, dan pembesaran ekstrem pada bagian-bagian spesifik, termasuk retakan halus serta area mengkilap yang sebelumnya nyaris tak terjangkau pandangan jemaah biasa.

Namun di balik kekaguman visual itu, pertanyaan ilmiah yang lebih tua dan jauh lebih pelik kembali mencuat: dari mana sebenarnya batu ini berasal?

Sebagian peneliti sudah lama menaruh curiga bahwa Hajar Aswad bukan batu sembarangan. Peneliti E. Thomsen dalam studinya bertajuk New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka'ba (1980) menarik perhatian pada kawah meteor bernama Wabar yang ditemukan Harry St. John Philby di Al-Hadidah pada 1932. Kawah itu berdiameter lebih dari 100 meter, dan di sekitarnya berserakan pecahan batu hasil lelehan pasir dan silika yang bercampur nikel, material khas tumbukan benda luar angkasa.

Struktur kimia pecahan dari Kawah Wabar itu dinilai Thomsen punya kemiripan mencolok dengan deskripsi fisik Hajar Aswad: bagian dalam berwarna putih, sementara lapisan luarnya diselimuti cangkang hitam akibat ledakan nikel dan besi di atmosfer. "Batu meteor itu kemungkinan batu yang sama dengan Hajar Aswad," tulis Thomsen. Studi lain bahkan mengindikasikan usia batu yang sejalan dengan era masyarakat Arab kuno, dan agaknya batu ini memasuki wilayah Makkah lewat jalur Oman.

Teori ini tidak mulus-mulus amat. Meteorit pada umumnya tidak mengapung di air, jarang terpecah menjadi fragmen-fragmen kecil seperti kondisi Hajar Aswad saat ini, dan relatif rentan terhadap erosi jangka panjang. Kelemahan-kelemahan ini membuat hipotesis meteorit masih berstatus spekulatif, belum konklusif. Entah kebetulan atau tidak, detail itu justru yang membuat debatnya makin seru.

Dalam tradisi Islam, Hajar Aswad diyakini sebagai batu yang diturunkan dari surga melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim AS saat mendirikan Ka'bah. Dikisahkan awalnya berwarna putih bersih sebelum perlahan menghitam karena menyerap dosa-dosa manusia. Narasi ini, kalau data ilmiah bisa dipercaya sepenuhnya, secara tidak sengaja berkorespondensi dengan temuan soal lapisan hitam dari nikel di permukaan luar batuan meteorit.

Batu yang bersemayam di sudut timur Ka'bah itu berfungsi sebagai penanda awal sekaligus akhir tawaf. Mayoritas jemaah tak bisa menciumnya langsung karena padatnya kerumunan, cukup melambaikan tangan ke arahnya. Kini, dengan foto 49.000 megapixel yang bisa diperbesar hingga detail terkecil, untuk pertama kalinya jutaan orang bisa "menyentuh" Hajar Aswad, setidaknya secara visual.