Lebih dari 20.000 orang di Inggris didekati agen China melalui LinkedIn dalam beberapa tahun terakhir. Angka yang, jujur saja, jauh lebih besar dari yang kebanyakan orang bayangkan.
Pada Rabu (3/6/2026), aliansi intelijen Five Eyes merilis peringatan bersama yang digambarkan sendiri sebagai "belum pernah terjadi sebelumnya." Lima negara anggotanya, yakni Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru, secara kolektif menyimpulkan bahwa intelijen militer China secara sistematis menyamar sebagai perekrut profesional di platform seperti LinkedIn, Indeed, dan Upwork untuk memburu informasi sensitif dari pegawai pemerintah, personel militer, hingga jurnalis dan akademisi.
Modusnya terstandarisasi. Sudah berlangsung setidaknya satu dekade, kalau data dakwaan federal AS bisa dijadikan patokan. Agen China membuat profil konsultan atau karyawan lembaga kajian yang tampak sah, lalu memasang lowongan fiktif sebagai analis kebijakan luar negeri atau analis pertahanan. CV pelamar disaring, wawancara virtual digelar, lalu datanglah permintaan yang tidak lazim: laporan uji coba tentang hubungan China dengan negara lain, situasi pertahanan, atau dinamika perdagangan.
Dari situ, tekanan meningkat bertahap. Kandidat yang sudah "masuk" didorong menyerahkan informasi yang semakin sensitif, sementara komunikasi digeser ke aplikasi pesan terenkripsi agar jejak percakapan tidak mudah dilacak. Bayarannya tidak kecil, mulai dari beberapa ratus hingga beberapa ribu dolar AS per laporan, dibayarkan lewat PayPal, Western Union, atau kripto.
Tapi yang membuat operasi ini benar-benar berbahaya bukan sekadar targetnya. Five Eyes secara khusus menyebut bahwa bahkan informasi yang tampak biasa pun bisa bernilai tinggi ketika digabungkan dengan basis data besar yang sudah dikumpulkan intelijen China sebelumnya. "Jenis data tertentu dapat membahayakan nyawa personel militer atau personel lain di garis depan, dapat melemahkan kemakmuran ekonomi kita, dan memungkinkan campur tangan dalam proses demokrasi kita," tulis Five Eyes dalam pernyataan bersama tersebut.
Personel militer, termasuk yang bertugas di kawasan Indo-Pasifik, masuk daftar target utama. Mereka bisa ditanya soal detail operasional unit, lokasi pangkalan, hingga pergerakan kapal angkatan laut. Klaim yang, kalau terbukti, bukan sekadar pelanggaran protokol biasa.
Menteri Keamanan Inggris Dan Jarvis meminta siapa pun yang berpotensi menjadi target agar lebih waspada. "Kami meminta mereka mengenali indikasi penargetan melalui internet dan menghindari tindakan yang tanpa disadari dapat membahayakan keamanan kami," kata Jarvis.
Five Eyes mengaku telah mengidentifikasi sejumlah korban yang terbukti tertipu, dengan konsekuensi serius: tuntutan pidana, pemecatan, pencabutan izin keamanan. Bulan lalu, dua warga negara ganda China-Inggris dinyatakan bersalah di London karena memata-matai para pembangkang Hong Kong atas nama Beijing.
LinkedIn merespons dengan menyatakan penyamaran identitas adalah pelanggaran aturan platform. "Kami tetap fokus mendeteksi penyalahgunaan yang didukung negara, dan akan terus menegakkan kebijakan kami terhadap akun palsu," sebut LinkedIn. Pernyataan yang terdengar meyakinkan, meski angka 20.000 orang yang didekati di Inggris saja membuat efektivitasnya patut dipertanyakan. Pertanyaannya, berapa banyak lagi yang tidak pernah terdeteksi?
Beijing, seperti biasa, menolak semua tuduhan. China menyebut peringatan Five Eyes sebagai "fabrikasi dan fitnah yang jahat." Penolakan standar yang sudah sering terdengar. Tapi kali ini ada yang berbeda dari soal timing: peringatan ini meluncur tak lama setelah kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke Beijing, di mana Trump dan Xi Jinping berjanji membangun hubungan yang lebih konstruktif. Entah kebetulan atau tidak, momennya cukup mencolok.