SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Fitch Soroti Rapuhnya Ekonomi RI, Rupiah Terpelese...

Ekonomi

Fitch Soroti Rapuhnya Ekonomi RI, Rupiah Terpeleset ke Rp17.995

Laporan terbaru Fitch Ratings memperingatkan melemahnya kepercayaan investor dan tekanan cadangan devisa Indonesia, mendorong rupiah terkoreksi ke Rp17.995 per dolar AS seiring defisit dagang pertama dalam enam tahun.

Laporan Fitch dan Defisit Dagang Tekan Rupiah ke Rp17.995 per Dollar AS

Rupiah ditutup di Rp17.995 per dolar AS pada Senin (6/7/2026), melemah 32 poin atau 0,18 persen dari sesi sebelumnya Rp17.963, setelah laporan Fitch Ratings memberi gambaran yang tidak terlalu menyenangkan soal kondisi makroekonomi Indonesia. Bukan pelemahan yang dramatis secara angka, tapi konteksnya yang bikin pelaku pasar was-was.

Fitch, yang pada Maret 2026 mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB sekaligus merevisi outlook menjadi negatif, kini mempertegas kekhawatirannya. Inti pesannya bukan sekadar soal nilai tukar atau cadangan devisa, tapi soal kepercayaan investor yang kian tergerus. Pelemahan rupiah, derasnya arus modal keluar, dan penyusutan cadangan devisa hanyalah gejala permukaan. Akar masalahnya ada di tata kelola ekonomi yang dinilai memburuk.

"Fitch Ratings dalam laporan terbarunya memberi pandangan mendalam mengenai rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia, yang terlihat dari indikator pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga arus modal keluar yang masif. Namun demikian, perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi," ujar analis pasar uang Ibrahim Assuaibi. Fitch juga memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan berpotensi mendongkrak utang dan biaya pinjaman pemerintah, sekaligus memperbesar risiko penurunan sovereign rating.

Soal cadangan devisa, Fitch memproyeksikan posisinya akan mencukupi 4,9 bulan pembayaran eksternal sepanjang 2026, sedikit di bawah median negara berperingkat BBB yang ada di angka 5,0 bulan. Data aktual akhir Mei masih di angka US$144,9 miliar atau setara 5,6 bulan impor, angka yang patut dicermati apakah akan bertahan atau justru terus tergerus. Fitch mencatat intervensi valas Bank Indonesia memang berhasil menstabilkan rupiah, tapi menyedot likuiditas dan memperketat kondisi pendanaan domestik. Akibatnya, posisi short net valas merangkak naik ke hampir US$27 miliar per akhir Mei.

Yang juga jadi sorotan: kebijakan pemerintah memusatkan ekspor komoditas strategis melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Risiko pelaksanaannya amat tinggi, sebab detail operasional kebijakan ini masih sangat terbatas. "Intervensi negara yang lebih besar dalam ekspor komoditas dapat melemahkan sentimen investor dan membebani prospek pertumbuhan jangka menengah Indonesia jika secara signifikan menghambat masuknya investasi asing langsung (FDI), sementara pengawasan yang lebih ketat terhadap sektor sumber daya alam negara juga dapat mengganggu arus ekspor komoditas," tulis Fitch dalam analisisnya. Peringatan yang, entah kebetulan atau tidak, datang tepat saat kepercayaan asing terhadap Indonesia sedang dipertanyakan.

Fitch membuka satu pintu optimisme. Jika DSI dijalankan dengan tata kelola yang kuat dan transparan, kebijakan ini bisa memperkuat penerimaan negara dari sektor komoditas sekaligus mendukung akumulasi cadangan devisa. Syaratnya besar. Pasar belum yakin.

Sentimen negatif makin komplet setelah Badan Pusat Statistik merilis data neraca perdagangan Mei 2026 yang mencatat defisit US$1,61 miliar. Ini mengakhiri tren surplus yang sudah bertahan selama 72 bulan berturut-turut, atau nyaris enam tahun tanpa putus. Bagi investor, sinyal yang susah diabaikan.

Dari luar negeri, suasana juga tidak kondusif. Tensi geopolitik memanas menjelang KTT NATO di Turki, dipicu konflik Rusia-Ukraina yang belum mereda, sedangkan ketidakpastian kesepakatan AS-Iran soal Selat Hormuz menahan penurunan harga minyak mentah lebih jauh. Dua faktor ini menambah tekanan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia pun ikut tergelincir ke Rp17.999 per dolar AS, nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000.