SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Fedorov Dicopot, PM Baru Dilantik: Ukraina Bergola...

Internasional

Fedorov Dicopot, PM Baru Dilantik: Ukraina Bergolak dari Lapangan hingga Barak

Zelensky merombak kabinet secara mendadak, memecat Menhan Fedorov yang populer dan menunjuk Serhii Koretskyi sebagai perdana menteri baru. Keputusan ini memicu protes di jalanan Kyiv dan gelombang pengunduran diri dari internal militer.

Zelensky Copot Menhan Ukraina, Warga dan Militer Ngamuk

Ratusan demonstran memadati pusat kota Kyiv pada Kamis (16/7/2026), tepat ketika parlemen Ukraina menggelar pemungutan suara untuk mengesahkan perdana menteri baru. Dua peristiwa itu terjadi bersamaan, dan bukan kebetulan.

Presiden Volodymyr Zelensky melancarkan perombakan kabinet yang mengejutkan pekan ini, mencakup pemecatan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov yang selama ini dikenal sebagai salah satu figur paling populer di pemerintahan perang Ukraina. Tidak ada penjelasan resmi dari Zelensky. Tidak ada konferensi pers. Hanya keputusan yang tiba-tiba.

Di Lapangan Ivan Franko, massa yang didominasi kalangan muda membawa poster bertuliskan "Jangan Sentuh Fedorov" dan "Hentikan Sabotase Kemenangan". Maria Lavrynets (31), salah satu demonstran, menggambarkan kemarahan yang terasa personal. "Saya punya banyak teman di militer. Banyak dari mereka yang gugur," ungkapnya. "Kami melihat hasil kerjanya. Kami melihat motivasi para tentara, kita harus membela mereka."

Kemarahan serupa meledak dari dalam institusi militer itu sendiri. Pavlo Yelizarov, komandan unit drone terkemuka yang menjabat sebagai wakil komandan Angkatan Udara, memilih mundur sebagai bentuk protes keras. Seorang prajurit bernama Oleksandr mengaku bergabung dengan militer awal tahun ini justru karena percaya pada visi tim yang dibangun Fedorov. "Ini kesalahan terburuk Zelensky sepanjang masa kepresidenannya," tegasnya. "Saya tidak tahu satu orang pun yang mendukung keputusan untuk menggantinya. Tidak di dalam Angkatan Darat, tidak juga di masyarakat."

Fedorov, 35 tahun, menjabat menteri pertahanan sejak Januari lalu. Rekam jejaknya cukup untuk membuat banyak orang mempertanyakan logika pencopotan ini. Mantan Menteri Transformasi Digital itu dikenal memimpin pemberantasan korupsi di Kemenhan, menerapkan analisis data untuk mengoptimalkan performa pasukan, dan menjadi arsitek "Army of Drones", kampanye penggalangan dana yang mengubah cara Ukraina berperang. Sejak invasi Rusia pada 2022, ia menginisiasi pembentukan "Tentara IT Ukraina" untuk serangan siber, sekaligus memperkenalkan sistem gamifikasi penghargaan kredit bagi unit militer yang berhasil menghantam aset musuh. Tidak sedikit. Justru itu yang bikin banyak orang bingung.

Spekulasi soal penyebab pemecatan pun beredar. Sebagian kalangan menyebut adanya gesekan antara Fedorov dan Panglima Oleksandr Syrskyi yang dikenal berpikiran lebih konvensional. Sebagian lagi menyoroti kelambatan Fedorov dalam merombak sistem mobilisasi militer. Kandidat penggantinya disebut-sebut adalah Ihor Klymenko, Menteri Dalam Negeri Ukraina. Entah kebetulan atau tidak, nama Klymenko muncul hampir bersamaan dengan pengumuman pencopotan.

Fedorov sendiri tidak diam. Lewat akun Facebook-nya, ia merinci pencapaian selama menjabat, lalu menutupnya dengan satu kalimat yang agaknya menjadi pesan terakhirnya sebagai menteri: "Saya akan terus mengalahkan musuh melalui asimetri, kecepatan inovasi, dan kekuatan organisasi."

Sementara Kyiv masih bergolak, Serhii Koretskyi (48) resmi dilantik sebagai perdana menteri ketiga Ukraina sejak invasi besar-besaran dimulai. Latar belakangnya tidak lazim untuk seorang kepala pemerintahan masa perang: bukan politisi, bukan birokrat, tidak pernah duduk di parlemen. Berbekal pendidikan teknik, Koretskyi menghabiskan lebih dari dua dekade di industri bahan bakar dan pangan sebelum dipercaya membenahi perusahaan-perusahaan energi negara yang bermasalah.

Hasilnya berbicara sendiri. Setelah pemerintah mengambil alih Ukrnafta dan Ukrtatnafta dari oligark Ihor Kolomoiskyi pada 2022, Koretskyi ditunjuk memimpin keduanya sekaligus. Dalam dua tahun, Ukrnafta membukukan laba tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, melunasi tunggakan pajak, dan menjadi salah satu penyokong utama upaya perang lewat pasokan bahan bakar militer serta pendanaan drone. Tahun lalu ia dipercaya memimpin Naftogaz, raksasa energi negara yang saat itu menghadapi cadangan gas di titik terendah sepanjang sejarah. Di bawah kepemimpinannya, cadangan gas melonjak ke lebih dari 13 miliar meter kubik dan perusahaan berhasil menghimpun hampir satu miliar dolar AS.

Zelensky menyebutnya "kandidat yang paling siap". Bisa jadi. Tapi memulihkan neraca perusahaan energi jelas berbeda dari mengelola pemerintahan perang yang kekurangan dana, butuh keluwesan diplomatik, dan harus menavigasi dinamika kekuasaan yang kian ruwet.

Di hadapan parlemen, Koretskyi menyebut empat prioritas: melindungi infrastruktur energi yang porak-poranda, menstabilkan ekonomi, memastikan bantuan internasional digunakan secara efektif, dan memperluas produksi senjata domestik. Musim dingin yang, menurut para pejabat Ukraina, bisa menjadi yang terberat sepanjang perang sudah menanti. Waktunya singkat. Pertanyaannya, apakah reputasinya sebagai manajer krisis korporasi cukup untuk skala yang sama sekali berbeda ini?