JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  F-35 untuk Turki: Trump Buka Pintu, Netanyahu Pani...

Internasional

F-35 untuk Turki: Trump Buka Pintu, Netanyahu Panik, Kongres Pasang Badan

Trump mengisyaratkan penjualan F-35 dan pencabutan sanksi untuk Turki di KTT NATO Ankara, memicu kekhawatiran strategis Israel dan benturan dengan hukum AS yang masih melarang transaksi itu.

Trump signals possible return of Turkey to F-35 program ahead of Erdogan meeting

Tiga pemimpin, tiga kalkulasi berbeda. Satu pesawat tempur jadi titik sengketanya.

Di KTT NATO Ankara pekan ini, Donald Trump melempar sinyal yang menggetarkan: Amerika Serikat siap mempertimbangkan penjualan jet tempur siluman F-35 kepada Turki, sekaligus mencabut sanksi yang selama ini membekukan hubungan militer kedua negara. "Kami tidak ingin menjatuhkan sanksi kepada sahabat," kata Trump, kalimat yang terdengar sederhana tapi sarat konsekuensi geopolitik.

Bagi Recep Tayyip Erdogan, momen ini terasa seperti rehabilitasi penuh. Turki dikeluarkan dari program F-35 pada 2019 setelah Ankara membeli sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia, keputusan yang membuat Washington gusar karena khawatir teknologi siluman Amerika bisa bocor lewat interoperabilitas kedua sistem. Tujuh tahun kemudian, Trump sendiri yang membuka kembali pintu itu. Erdogan, dalam forum yang sama, membalas dengan nada personal: ia mengingatkan bahwa Turki pernah dijanjikan lima unit F-35, lalu menegaskan kepercayaannya bahwa Trump selalu menepati janji. Bukan bahasa diplomatik biasa. Ini bahasa dua pemimpin yang paham cara bekerja satu sama lain.

Di Yerusalem, Benjamin Netanyahu membaca situasi ini dengan cara yang jauh berbeda. Sebelum KTT berlangsung, ia sudah menghubungi Trump untuk meminta agar Erdogan "ditahan" dan Washington tidak menjual sistem persenjataan yang bisa memodernisasi angkatan udara Ankara. Keberatannya disampaikan juga di depan kamera CNN: kepemilikan F-35 oleh Turki, menurut Netanyahu, akan "menghancurkan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah karena Turki memiliki aspirasi agresif." Pernyataan keras itu langsung berbalas dengan pembatalan pertemuan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dengan Netanyahu, tepat ketika isu ini sedang memanas.

Ketakutan Netanyahu bukan sekadar keengganan personal terhadap Erdogan yang selama bertahun-tahun menjadi pengkritik paling vokal atas kebijakan Israel di Gaza. Ini soal peta dan angka. Turki punya angkatan udara terbesar kedua di NATO. Kalau F-35 masuk hanggar Ankara, postur militer Turki di Suriah, Mediterania Timur, bahkan skenario yang menyentuh Gaza dan Lebanon, akan naik kelas secara dramatis. Keunggulan udara yang selama puluhan tahun jadi kartu truf Israel di kawasan tiba-tiba punya pesaing baru. Yang jauh lebih dekat.

Agaknya Netanyahu juga mulai merasakan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan: pengaruhnya di Washington sedang diuji. Trump, entah kebetulan atau tidak, tampak nyaman menjaga dua hubungan yang secara strategis saling bertentangan. Netanyahu, sekutu lama. Erdogan, mitra yang belakangan makin ia nilai sebagai aset lebih loyal ketimbang banyak sekutu Eropa yang kerap ia sindir soal kontribusi pertahanan NATO. Dua hubungan itu kini beradu kepentingan, dan Trump tampak belum terburu-buru memilih.

Tapi ada satu rintangan yang tidak bisa ditekuk begitu saja: hukum Amerika Serikat sendiri. Undang-undang yang berlaku secara eksplisit melarang penjualan F-35 ke Turki selama S-400 masih berada di bawah kendali militer Ankara. Kongres bukan badan yang mudah didikte, bahkan oleh presiden yang sedang di atas angin sekalipun. Dalam agenda bilateral yang sudah beredar, Washington dan Ankara juga tengah mendiskusikan kesepakatan mesin jet senilai 700 juta dolar AS, sekitar Rp11,4 triliun, sebagai jalur tengah sebelum isu F-35 diselesaikan secara penuh.

Pertanyaan yang kini menggantung: seberapa jauh Trump mau, dan mampu, mendorong perubahan ini? Kongres punya satu jawaban, Netanyahu punya jawaban lain. Erdogan, sambil tersenyum di Ankara, sepertinya sabar menunggu.