Eropa sedang tidak baik-baik saja musim panas ini, dan angka-angkanya membuat sulit untuk berdebat soal itu.
Belanda mencatat 911 kematian berlebih hanya dalam rentang 22 Juni hingga 5 Juli, menurut Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan (RIVM). Bukan korban kecelakaan, bukan konflik, tapi panas. Wilayah selatan dan timur negara itu menyumbang 576 dari total kematian tersebut, sementara 547 di antaranya menimpa kelompok usia 80 tahun ke atas. RIVM mengakui penyebab pasti belum dikonfirmasi, tapi tidak butuh investigasi panjang untuk menduga faktor utamanya. Suhu tertinggi di Belanda selama periode itu menyentuh 39,4 derajat Celsius.
Di barat daya, Prancis menghadapi masalah yang berbeda tapi sama-sama mengkhawatirkan. Menteri Transisi Ekologi Monique Barbut menyebutnya situasi "luar biasa" dan "sangat mengkhawatirkan": seluruh 99 departemen di daratan Prancis kini berada di bawah pembatasan air. Empat puluh tiga di antaranya sudah di level "krisis", artinya penggunaan air dibatasi hanya untuk kebutuhan prioritas. Sebanyak 206 dekrit prefektur berlaku sekarang, tingkat tertinggi yang tercatat setidaknya sejak 2013.
Pemerintah Prancis bergerak cepat, agaknya karena tekanan sudah di batas maksimum. Juru Bicara Pemerintah Maud Bregeon mengumumkan pengiriman 16.500 unit pendingin udara ke rumah sakit akhir pekan ini, bagian dari total 30.000 unit yang sudah dipesan. Ironis memang: kawasan yang selama ini dikenal skeptis terhadap air conditioner kini harus mengejar ketertinggalan itu dalam kondisi darurat.
Korban tenggelam di Prancis pun melonjak. Menteri Olahraga Marina Ferrari menyebut 142 orang tewas tenggelam sejak 19 Juni, jauh lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu. Logikanya sederhana: gelombang panas mendorong orang berbondong-bondong ke sungai, danau, dan pesisir, dan tidak semua dari mereka bisa berenang dengan aman.
Tapi di luar korban jiwa, ada kalkulasi yang sedang dikerjakan para ekonom dengan serius. Riset Allianz menyimpulkan panas ekstrem sudah bertransformasi menjadi risiko ekonomi struktural bagi Eropa, bukan anomali yang bisa diabaikan di spreadsheet tahunan. Prancis, dalam skenario terburuk, bisa kehilangan output ekonomi hingga 240 miliar dolar AS atau sekitar Rp 4.339 triliun sepanjang 2026 hingga 2030. Italia menanggung potensi kerugian sekitar Rp 2.654 triliun, Spanyol sekitar Rp 2.167 triliun. Angka yang tidak main-main.
"Panas ekstrem merugikan kita semua sebagai pekerja, pelaku usaha, maupun pembayar pajak. Negara yang mampu beradaptasi akan berada pada posisi lebih baik dibandingkan negara yang menunggu. Sudah saatnya panas ekstrem dipandang sebagai tantangan kebijakan ekonomi jangka panjang, bukan sekadar masalah musiman," kata Katharina Utermöhl, Kepala Penelitian Tematik dan Kebijakan Allianz Investment Management.
Ekonom iklim Oxford Economics, Robert Marks, merinci mekanismenya. Suhu di kisaran 30 hingga 40 derajat Celsius menekan produktivitas di sektor-sektor yang tidak punya proteksi terhadap panas: konstruksi, pertanian, manufaktur, ritel, perhotelan. Sektor-sektor itu mewakili 27 persen aktivitas ekonomi Inggris dan rata-rata 35 persen di Eropa Barat. Gelombang panas empat hari saja, kata Marks, cukup untuk memangkas pertumbuhan produktivitas tenaga kerja triwulanan sebesar 1,5 poin persentase di Inggris dan hingga dua poin di Eropa Barat. Kalau dikalikan frekuensi gelombang panas yang kian sering, angka itu bukan lagi noise statistik.
Kesenjangan perlindungan pekerja mulai mencolok. Mereka yang bisa kerja dari rumah relatif aman. Yang tidak bisa, yakni petani, buruh bangunan, kurir makanan, harus memilih antara pendapatan atau kesehatan. Pola ini, bagi veteran isu ketenagakerjaan, bukan yang pertama kali muncul. Sejumlah negara mulai menyesuaikan jam kerja: pemerintah Lazio di Italia melarang pekerja konstruksi dan kurir beraktivitas di luar ruangan antara pukul 12.30 hingga 16.00 saat siaga merah. Di Inggris, beberapa pemerintah daerah memajukan jadwal pengangkutan sampah agar pekerja bisa selesai sebelum panas puncak siang hari.
Namun peneliti senior Teagasc, David Meredith, mengingatkan adaptasi semacam itu belum merata, terutama di selatan Spanyol dan Italia. Bukan sekadar soal regulasi, kata Meredith, tapi seluruh rantai nilai pangan perlu ikut mempertimbangkan tantangan ini: petani sulit seenaknya menggeser jadwal kerja karena terikat permintaan supermarket.
Di Inggris sendiri, regulasi ketenagakerjaan bahkan belum punya batas suhu maksimum di tempat kerja. Hanya ada batas minimum: 16 derajat Celsius untuk kantor, 13 derajat untuk pekerjaan fisik berat. Serikat pekerja sudah berulang kali mendesak penetapan batas atas. Tapi usulan itu masih mentok di penolakan pemerintah dan kalangan usaha, entah karena lobi yang kuat atau sekadar lambatnya birokrasi merespons krisis yang sudah ada di depan mata.
Eurostat mencatat setidaknya 17 juta orang bekerja di sektor pertanian Uni Eropa, belum termasuk pekerja informal yang jumlahnya diperkirakan lebih besar. Mereka adalah yang paling langsung menanggung konsekuensi dari krisis yang selama ini lebih sering dibahas di forum iklim daripada di meja perundingan ketenagakerjaan. Pertanyaannya, berapa lama mereka masih bisa menunggu regulasi yang memihak?