RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Eropa Mendidih: Rekor Suhu Mei Pecah, Gelombang Pa...

Internasional

Eropa Mendidih: Rekor Suhu Mei Pecah, Gelombang Panas Belum Usai

Portugal mencatat 40,3°C pada 27 Mei, melampaui rekor 25 tahun silam. Eropa kini menjadi benua paling cepat memanas di dunia, dan yang terburuk agaknya belum datang.

Tanda Kiamat Makin Dekat, Eropa Sudah Mendidih

Portugal mencatat 40,3°C di kota Mora pada 27 Mei lalu, melewati rekor bulan Mei sebelumnya yang bertahan sejak 2001 sebesar 40°C. Terpaut 0,3 derajat saja, tapi cukup untuk menandai babak baru dalam laju pemanasan Eropa yang makin sulit dibantah.

Inggris lebih dulu memecahkan rekornya sendiri, menghapus catatan yang sudah bertahan 82 tahun. Irlandia dan Prancis menyusul. Kini giliran Portugal. Jerman, Spanyol, serta Swiss sudah masuk dalam daftar prakiraan panas tidak normal untuk pekan-pekan mendatang. Bukan soal apakah rekor akan pecah lagi, tapi soal seberapa banyak.

Penyebab langsungnya adalah fenomena yang disebut "kubah panas": udara hangat dari Afrika Utara yang terperangkap di bawah sistem tekanan tinggi di atas Eropa barat. Lazimnya baru muncul di puncak musim panas, bukan di penghujung Mei. Perubahan sirkulasi atmosfer membuat sistem semacam ini kian sering, kian betah tinggal, dan kian efektif menghentikan sistem cuaca lain untuk masuk memberi jeda.

"Jika Anda melihat 20 atau 30 tahun terakhir, ada prevalensi, terutama di musim panas, dari kondisi antisiklon semacam itu yang membuat gelombang panas lebih mungkin terjadi," kata Carlo Buontempo, Direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa.

Suhu Eropa kini sekitar 1,4°C lebih hangat dibanding era pra-industri. Angka rata-rata sering menipu, begitu pula angka ini. Eropa Timur, Tenggara, dan sebagian kawasan Pegunungan Alpen mencatat kenaikan 0,5°C hingga 1°C per dekade selama tiga puluh tahun terakhir. Svalbard, kepulauan Arktik milik Norwegia, bahkan menorehkan angka yang bikin bergidik: 1,5°C hingga 2°C per dekade. Kepulauan tempat beruang kutub itu mencatat musim panas terpanas keempat sepanjang sejarah tahun lalu.

Letak geografis Eropa memperburuk segalanya. Benua ini terhubung langsung ke Arktik, kawasan yang sudah memanas 3,2°C di atas level pra-industri, jauh melampaui bagian bumi mana pun. Saat es dan salju yang berwarna cerah mencair, permukaan gelap di bawahnya terbuka dan menyerap panas alih-alih memantulkannya kembali. Umpan balik albedo, begitu para ilmuwan menyebutnya. Begitu dimulai, sulit dihentikan.

Ada ironi tersendiri dalam soal polusi udara. Regulasi kualitas udara yang menguat sejak era 1980-an berhasil menekan emisi aerosol, kabar baik bagi paru-paru jutaan orang Eropa. Tapi partikel-partikel kecil itu selama ini juga memantulkan sebagian sinar matahari, efek pendinginan yang kini ikut lenyap seiring udara yang mengbersih. "Meskipun pengurangan polusi udara sangat penting untuk kesehatan pernapasan, hal itu juga meningkatkan radiasi matahari di permukaan," jelas Ben Clarke, peneliti cuaca ekstrem di Imperial College London.

Copernicus mencatat Eropa sebagai benua yang paling cepat memanas di dunia. Hampir seluruh panas berlebih itu, kata Clarke, bersumber dari efek rumah kaca akibat pembakaran bahan bakar fosil. Agaknya bukan kebetulan bahwa data puluhan tahun selalu mengarah ke kesimpulan yang sama.

Portugal besok masih diperkirakan menyentuh sekitar 35°C. Musim panas belum benar-benar dimulai.