Ankara semakin vokal. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali angkat suara, memperingatkan komunitas internasional agar tidak membiarkan Israel menggagalkan proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang tengah berjalan.
Peringatan itu bukan tanpa konteks. Konflik yang melibatkan Israel, mulai dari Gaza, Lebanon, Suriah, hingga ketegangan terbarunya dengan Iran, telah membentuk satu pola yang menurut Ankara sulit diabaikan. Israel, dalam pandangan pejabat Turki, bukan sekadar aktor regional, bukan, lupakan em dash, sudah bertransformasi menjadi variabel pengganggu tatanan global.
Menteri Luar Negeri Hakan Fidan menyebutnya terang-terangan dalam wawancara dengan CNN Turk, Sabtu (4/7/2026). "Israel sedang mencari musuh baru. Israel telah menjadi masalah global. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara secara terbuka tentang hal ini," kata Fidan. Tidak ada ruang toleransi lagi, tegasnya, bagi kebijakan Tel Aviv.
Nadanya lebih tajam dari biasanya. Agaknya dipicu oleh eskalasi Israel terhadap Iran yang dampaknya kini terasa jauh melampaui batas Timur Tengah. Erdogan sendiri disebut-sebut menggunakan frasa yang lebih menusuk: Israel "kecanduan perang." Klaim yang, entah kebetulan atau tidak, muncul bersamaan dengan kabar Turki sedang membangun kerangka aliansi baru bersama Pakistan, dua negara berpenduduk Muslim besar yang sama-sama frustrasi dengan dinamika geopolitik kawasan.
Turki sudah lama menutup pintu perdagangan dengan Israel. Sejak Mei 2024, Ankara membekukan seluruh hubungan dagang sebagai respons atas operasi militer Israel di Jalur Gaza. Berani, untuk ukuran negara anggota NATO. Sejauh ini, tidak ada sinyal pemulihan di cakrawala.
Bobot pernyataan terbaru ini beda dari sebelumnya, karena timing-nya. Negosiasi nuklir AS-Iran sedang dalam fase krusial. Trump sudah menyatakan Washington tidak berniat menggulingkan rezim Teheran, fokus semata pada isu senjata nuklir. Tehran pun memperingatkan AS agar patuh pada perjanjian damai yang sedang dirintis. Pertanyaannya, berapa lama keseimbangan rapuh ini bertahan?
Di celah itulah Israel beroperasi. Ankara khawatir Tel Aviv akan memainkan kartu yang meledakkan meja perundingan sebelum tinta perjanjian mengering. Kekhawatiran yang, bisa jadi, juga dimiliki banyak ibu kota lain. Tapi hanya Turki yang cukup lantang mengatakannya.