SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Ensiklik Leo XIV: Permintaan Maaf Bersejarah dan P...

Internasional

Ensiklik Leo XIV: Permintaan Maaf Bersejarah dan Peringatan Keras soal AI

Paus Leo XIV merilis ensiklik pertama bertajuk Magnifica Humanitas, memuat permintaan maaf bersejarah atas keterlibatan Vatikan dalam perbudakan trans-Atlantik sekaligus memperingatkan bahaya kecerdasan buatan bagi martabat manusia.

Mengapa Paus Leo XIV Meminta Maaf atas Perbudakan Masa Lalu?

Vatikan, Senin (25/5/2026). Dalam satu dokumen, Paus Leo XIV melakukan dua hal yang belum pernah dilakukan pendahulunya: meminta maaf secara kelembagaan atas peran Takhta Suci dalam perbudakan, dan menyuarakan alarm keras soal kecerdasan buatan kepada 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia.

Ensiklik perdana itu diberi judul Magnifica Humanitas. Secara formal, dokumen ini membahas tantangan teknologi AI bagi umat manusia. Tapi bagian yang paling menggetarkan justru ada di halaman-halaman yang menoleh ke belakang, ke abad ke-15, ketika Takhta Suci ikut menandatangani legitimasi perbudakan.

"Mustahil untuk tidak merasakan kesedihan yang mendalam ketika merenungkan penderitaan dan penghinaan yang luar biasa yang dialami oleh begitu banyak orang. Untuk hal tersebut, atas nama Gereja Katolik, saya memohon maaf dengan sepenuh hati," tulis Paus Leo XIV dalam ensiklik tersebut.

Kalimat itu bukan sekadar retorika pastoral. Ini pertama kalinya seorang Paus secara eksplisit mengakui dan memohon maaf atas peran institusi Gereja, bukan hanya keterlibatan individu-individu Kristiani, dalam perdagangan budak trans-Atlantik. Paus Yohanes Paulus II pernah mengecam perbudakan saat berkunjung ke Kamerun tahun 1985. Paus Fransiskus juga sesekali menyinggungnya. Tidak ada yang pernah sejauh ini.

Pada 1452, Paus Nicholas V mengeluarkan dekrit Dum Diversas yang memberi raja Portugis wewenang untuk menaklukkan dan memperbudak penduduk Afrika dan Amerika selamanya. Dekrit itu diperbarui oleh setidaknya tiga paus penerus: Callixtus III tahun 1456, Sixtus IV tahun 1481, dan Leo X tahun 1514. Vatikan baru secara resmi menolak Doktrin Penemuan yang bersumber dari dekrit-dekrit itu pada 2023. Tapi pencabutan formal atas dekrit-dekritnya sendiri? Belum pernah ada.

Sejarawan Shannen Dee Williams dari Universitas Dayton menyebut ini langkah monumental. "Gereja Katolik tidak pernah menjadi pengamat tak bersalah dalam sejarah supremasi kulit putih. Umat Katolik kulit hitam telah menunggu lama untuk mendengar Vatikan jujur tentang peran gereja dalam perdagangan budak trans-Atlantik, perbudakan kepemilikan, dan sistem rasisme antikulit hitam yang masih bertahan sekarang," ujar Williams.

Ada konteks personal yang membuat permintaan maaf ini semakin berat. Leo XIV adalah Paus pertama kelahiran Amerika Serikat, dan penelitian silsilah oleh Henry Louis Gates Jr di The New York Times mengungkap bahwa 17 leluhurnya di Amerika adalah orang kulit hitam, terdaftar dalam sensus sebagai mulato, kulit hitam, Kreol, atau orang kulit berwarna yang bebas. Garis keluarganya menyentuh kedua sisi rantai perbudakan itu.

Bulan lalu, ketika mengunjungi Angola, ia berdoa di lokasi bekas pusat perdagangan budak era kolonial Portugis. Agaknya ensiklik ini bukan impuls mendadak.

Peneliti senior di Koch History Center Universitas Oxford, Anthea Butler, menyambut pengakuan itu, tapi juga memberi catatan: pengakuan historis ini justru menjadi prasyarat agar suara Leo XIV soal perbudakan digital bisa didengar dengan kredibel. "Bagi keturunan orang-orang yang diperbudak, ini sekali lagi permintaan maaf yang sangat dibutuhkan dari Paus," kata Butler.

Setengah dari ensiklik ini berbicara soal perbudakan digital. Leo XIV memperingatkan bahwa perlombaan pengembangan AI telah memunculkan bentuk-bentuk eksploitasi baru: moderator konten yang dipaksa menonton materi traumatis tanpa henti, anak-anak yang menambang logam tanah jarang di perut bumi demi memasok komponen perangkat keras AI. "Tubuh orang-orang ini penuh luka, disakiti, dan dikuras habis agar aliran data dapat terus berlanjut tanpa henti," tulis Paus. Keras sekali.

"Kecerdasan Buatan kini perlu dilucuti, dibebaskan dari logika yang mengubahnya menjadi alat dominasi, pengucilan, dan kematian," tegas Leo XIV dalam presentasi khusus di Vatikan yang dihadiri sejumlah pakar AI, termasuk Chris Olah, salah satu pendiri Anthropic. Olah mengakui bahwa perusahaan AI beroperasi di antara kepentingan komersial dan tanggung jawab etis yang kadang bertabrakan, dan menyambut masukan dari institusi seperti Gereja Katolik.

Soal peperangan, Leo XIV berpendapat AI telah membuat konflik bersenjata "lebih mudah terjadi." Keputusan yang bersifat mematikan, tegasnya, tidak boleh diserahkan kepada sistem algoritma. Pertanyaannya, di mana batas itu ditarik, dan siapa yang berwenang menariknya? Ia juga mewanti-wanti bahwa konsentrasi kekuasaan teknologi pada segelintir korporasi memungkinkan kelompok kecil itu "membentuk pola informasi dan konsumsi, mempengaruhi proses demokrasi, serta mengarahkan dinamika ekonomi demi keuntungan mereka sendiri."

Pastor Christopher J. Kellerman, penulis buku All Oppression Shall Cease, mengapresiasi langkah Leo XIV sembari mengingatkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang tertinggal. Gereja belum memberikan penjelasan rinci soal bagaimana institusinya secara aktif memperluas dan melegitimasi perbudakan dari zaman kuno hingga Abad Pertengahan, termasuk fakta bahwa Paus Gregorius I pernah memiliki budak. "Paus Leo telah memperkuat kredibilitas moral gereja dengan pengakuan dan permintaan maaf. Semoga dokumen di masa mendatang akan menjelaskan secara lebih rinci keterlibatan gereja dengan perbudakan," tutur Kellerman.

Permintaan maaf sudah diucapkan. Apakah ia akan diikuti rekonsiliasi yang lebih konkret, atau cukup berhenti sebagai catatan kaki dalam sejarah Vatikan, itu cerita yang belum selesai ditulis.