Enam prajurit. Itu harga yang dibayar Amerika Serikat dari satu drone yang berhasil menembus pertahanan udara di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait, pada 1 Maret lalu.
Anggota Cadangan Angkatan Darat AS yang selamat menggambarkan momen serangan dengan cara yang sulit dilupakan. "Semua bergetar, seperti di film," begitu kesaksian yang beredar. Bukan klise, eh, bukan sekadar kiasan, itu memang yang mereka rasakan ketika pusat operasi taktis yang diklaim "dibentengi" itu runtuh akibat hantaman tunggal dari udara.
Menteri Perang AS Pete Hegseth menyebut pelaku menggunakan drone jenis "penyemprot" buatan Iran, agaknya dirancang bukan untuk kecepatan melainkan untuk menyusup rendah, menghindari radar. Lebih dari 20 prajurit lainnya terluka. Serangan ini resmi tercatat sebagai korban jiwa tempur AS pertama dalam eskalasi yang melibatkan Iran.
Teheran tidak terima.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung melempar bantahan keras: sejak gencatan senjata bilateral dimulai, Iran tidak meluncurkan rudal ke negara mana pun. Bukan ke Kuwait, bukan ke siapa pun. IRGC bahkan membalik narasi sepenuhnya, menyatakan bahwa setiap laporan soal serangan pesawat tak berawak yang beredar belakangan ini "tidak diragukan lagi merupakan ulah musuh Zionis atau Amerika." Klaim yang masih butuh bukti, setidaknya dari pihak independen, tapi datang dalam konteks yang tidak sesederhana bunyi pernyataannya.
Pada 7 April, Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata bilateral selama dua pekan dengan Iran, sekaligus menyebut Teheran setuju membuka kembali Selat Hormuz. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran lalu mengonfirmasi bahwa pembicaraan lanjutan kedua negara dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menyatakan pihaknya sedang mengupayakan jalur negosiasi dan berharap Washington melakukan hal serupa.
Di atas kertas, gencatan senjata berjalan. Di lapangan, situasinya jauh lebih keruh.
Komplikasi datang dari arah lain. Pada 8 April, pesawat tempur dan artileri Israel menyerang lebih dari selusin permukiman di Lebanon selatan, termasuk kota Tyre. Trump sendiri yang menegaskan bahwa penghentian serangan Israel di Lebanon tidak tercakup dalam klausul gencatan senjata AS-Iran, pernyataan yang bisa jadi sengaja membiarkan satu keran tetap mengalir.
Di dalam negeri AS, tekanan lain bergolak. Sejumlah tentara yang selamat dari serangan Kuwait menuding Pentagon menutup-nutupi skala kerusakan dan dahsyatnya ledakan drone itu. Narasi resmi disebut jauh lebih kalem dari apa yang mereka alami di lapangan. Pentagon belum merespons secara spesifik atas tudingan tersebut.
Enam peti mati sudah pulang ke Amerika. Gencatan senjata masih berdiri, tapi tipisnya tipis sekali.