SENIN, 19 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Enam Hari Berturut-turut, Kyiv Dihujani Rudal dan...

Internasional

Enam Hari Berturut-turut, Kyiv Dihujani Rudal dan Drone Rusia yang Tak Kunjung Reda

Serangan udara Rusia ke Kyiv dan wilayah Ukraina lainnya memasuki hari keenam dan ketujuh berturut-turut, menewaskan belasan orang dan memicu perang ancaman antara Moskow dan Kyiv.

Rusia Gempur Kyiv Lebih dari 12 Jam

Setidaknya 12 orang tewas setelah Rusia menggempur Kyiv lebih dari 12 jam nonstop, dari Senin malam hingga Selasa, 1 September 2026, dalam rentetan serangan yang kini sudah berlangsung enam hari berturut-turut. Angka itu belum mencakup korban di kota-kota lain yang ikut dihantam.

Delapan korban jiwa dilaporkan jatuh di dalam kota Kyiv. Empat lainnya meninggal di Boryspil, kota sekitar 30 kilometer di tenggara ibu kota, setelah serangan menghantam gedung apartemen dan sejumlah lokasi lain. Sedikitnya 13 orang terluka, puluhan warga dievakuasi. Salah satu yang tewas diidentifikasi sebagai warga negara India.

Titik paling mematikan: fasilitas kereta api milik Ukrzaliznytsia. Sebuah rudal balistik menghantam depo dan fasilitas perusahaan kereta api negara itu, menewaskan enam pegawainya. Petugas penyelamat dikerahkan besar-besaran untuk memadamkan kebakaran, menyisir puing, dan mencari korban yang mungkin masih terjebak. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut hampir 350 personel layanan darurat diterjunkan di Kyiv dan wilayah sekitarnya.

Angkatan Udara Ukraina mencatat gelombang pertama dimulai sekitar pukul 18.00 waktu setempat pada Senin. Rusia mengerahkan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, rudal antiradar, serta 218 drone termasuk drone pengecoh. Sekitar sepertiga dari drone yang diluncurkan adalah drone bertenaga jet, jenis yang bergerak lebih cepat dari drone baling-baling konvensional dan jauh lebih sulit dijatuhkan sistem pertahanan udara Ukraina.

Bukan anomali sesaat. Juru bicara Angkatan Udara Ukraina Yuriy Ihnat menyebut lebih dari 2.800 drone bertenaga jet diluncurkan Rusia ke Ukraina sepanjang Agustus 2026 saja. Eskalasi jenis senjata ini agaknya bukan kebetulan: sistem Patriot Ukraina mulai kehabisan rudal pencegat, dan Moskow tampaknya sadar betul soal itu.

Keesokan harinya, Rabu 2 September 2026, serangan meluas. Di Dnipro, dua warga sipil tewas dan enam terluka setelah hantaman mengenai gudang makanan milik jaringan ritel lokal. Kepala Administrasi Militer Regional Dnipropetrovsk Oleksandr Hanzha, seperti dikutip sumber, menyatakan Moskow secara sistematis mengincar fasilitas logistik sipil untuk melumpuhkan kehidupan sehari-hari dan merusak moril publik. Di Odesa, gedung hunian 24 lantai rusak parah akibat hantaman rudal, delapan orang terluka termasuk seorang anak. Di wilayah Kyiv, pecahan peluru dari serangan hari ketujuh berturut-turut melukai dua warga lagi.

Moskow, seperti biasa, punya versi sendiri. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangannya menyasar fasilitas produksi dan penyimpanan senjata serta infrastruktur militer Ukraina, semua dengan senjata berpemandu presisi. Rusia juga mengklaim sistem pertahanannya menghancurkan 130 drone Ukraina dalam semalam di 11 wilayah, Laut Hitam, dan Krimea. Penjabat Gubernur Belgorod melaporkan serangan balik drone Ukraina menewaskan dua orang dan melukai 16 lainnya dalam 140 insiden selama 24 jam.

Perang kata-kata antara Zelenskyy dan Putin ikut memanas. Zelenskyy memperingatkan maskapai asing bahwa wilayah udara Rusia tidak lagi aman menyusul operasi drone jarak jauh Kyiv, sembari mendesak komunitas internasional memperketat sanksi dan memperkuat pasokan pertahanan udara. Putin balik menuding Kyiv melakukan "terorisme negara" dan menegaskan Moskow tidak akan bernegosiasi dengan pihak teroris. Yang lebih mengkhawatirkan: dalam konferensi pers di Kyrgyzstan, Putin tidak mengesampingkan pembalasan terhadap fasilitas militer Inggris menyusul penggunaan drone buatan negara itu oleh Ukraina untuk menyerang wilayah Rusia. Ia menyebut kemungkinan itu sebagai "rahasia militer."

Institut Studi Perang (ISW) di Washington mencatat, meski serangan udara terus meningkat, kemajuan darat Rusia di garis depan justru stagnan. Ofensif musim semi-musim panas Moskow disebut sangat terbatas, jauh di bawah capaian tahun sebelumnya. Banyak drone, sedikit tanah yang direbut. Pertanyaannya sekarang: sampai kapan Ukraina mampu menyokong sistem pertahanan udaranya ketika stok rudal pencegat Patriot terus menipis?