SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Empat Kapal Induk AS Bertempur, Galangan Kapal Men...

Internasional

Empat Kapal Induk AS Bertempur, Galangan Kapal Menunggu

Intensitas konflik AS-Iran mulai menggerogoti kesiapan armada Angkatan Laut Amerika dari dalam: antrean pemeliharaan menumpuk, moral prajurit dipertanyakan, dan faktor waktu agaknya mulai berpihak ke Teheran.

Empat kapal induk Amerika Serikat beroperasi di kawasan yang sama secara bersamaan. Dalam kondisi normal, angka itu tidak pernah lebih dari tiga, dan biasanya cukup dua. Fakta ini saja sudah cukup untuk menggambarkan betapa tingginya tekanan operasional yang kini ditanggung Angkatan Laut AS akibat konflik berkepanjangan dengan Iran.

Kehadiran USS Theodore Roosevelt yang bertolak dari San Diego menuju Timur Tengah menjadi titik yang menyempurnakan gambaran itu. Dari total 11 kapal induk yang dimiliki AS, empat kini aktif dikerahkan serentak. Brian Clark, Direktur Center for Defense Concepts and Technology di Hudson Institute, menilai pola pengerahan semacam ini berpotensi menciptakan masalah besar dalam beberapa tahun mendatang.

Masalahnya sederhana tapi konsekuensinya panjang. Semakin intens kapal dioperasikan, semakin cepat kebutuhan pemeliharaannya datang. Dua galangan kapal yang selama ini menangani perawatan kapal induk AS sudah dalam kondisi terbebani. Kalau pengerahan ini berlanjut, maintenance backlog akan menumpuk, dan kapal-kapal yang seharusnya siap tempur justru harus antre di dermaga.

"Kalau tren ini berlanjut, kehadiran kapal induk di kawasan operasi justru bisa berkurang," Clark memperingatkan. Nada yang jarang terdengar dari analis think tank Washington, yang lazimnya optimistis soal kapabilitas militer AS.

Di dalam kapal itu sendiri, kondisinya agaknya jauh lebih keras dari yang tergambar di laporan resmi. Mantan analis CIA Larry Johnson, dalam program The Great Standoff yang disiarkan Al Mayadeen, menyebut para prajurit di atas kapal menghadapi krisis pasokan pangan dan minimnya sarana sanitasi yang layak. Dua hal yang perlahan menggerogoti moral pasukan.

Yang paling mengejutkan adalah klaimnya soal insiden di USS Abraham Lincoln. "Satu laporan media sempat menyebut ada enam pelaut yang mencoba lompat ke luar kapal. Namun, seorang perwira militer AS yang baru saja pensiun membisikkan kepada saya bahwa laporan itu bohong, angka sebenarnya mendekati 30 pelaut, bukan cuma enam," ungkap Johnson. Klaim ini belum bisa diverifikasi secara independen, dan datang dari sumber yang jelas punya posisi tertentu dalam narasi geopolitik ini. Setidaknya itu yang patut dicermati sebelum menelannya bulat-bulat. Tapi kalau benar separuhnya saja, sinyal itu tidak bisa diabaikan begitu saja.

Di luar problem moral, Johnson juga menyoroti keterbatasan amunisi canggih yang kian terasa. Hampir 80 persen sistem persenjataan AS, menurut studi yang ia kutip, terintegrasi dengan rantai pasok Tiongkok. Ibarat pedang bermata dua. Serangan rudal presisi Iran yang dilaporkan menghancurkan gudang logistik utama AS di Bahrain dan Oman memperparah situasi itu.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menambah lapisan tekanan dari sisi ekonomi. Cadangan minyak strategis negara-negara Barat memang masih bisa menahan guncangan jangka pendek, tapi bukan obat untuk tekanan yang berlarut.

Pertanyaannya, berapa lama ketahanan itu bertahan?

Dari sisi Iran, Profesor Mohammad Marandi dari Universitas Tehran menegaskan Teheran tidak dalam posisi menunggu pasif. Penunjukan Jenderal Mohsen Rezaei sebagai pimpinan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dibaca sebagai sinyal pergeseran dari postur defensif ke ofensif. "Iran bertekad untuk memastikan bahwa Trump gagal, tidak hanya dalam urusan Iran, tetapi di seluruh kawasan mulai dari Gaza, Lebanon, Yaman, hingga Irak," tegas Marandi.

AS jelas unggul secara alutsista. Bukan main. Tapi konflik yang berlarut, dengan biaya operasional yang terus menguras, antrean pemeliharaan yang menumpuk, dan moral pasukan yang dipertanyakan, bisa mengubah kalkulasi itu pelan-pelan. Waktu, seperti yang kerap terbukti dalam sejarah perang asimetris, tidak selalu berpihak pada yang terkuat di atas kertas.