SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Empat Kali Operasi Salah Sasaran, Remaja Kongo Akh...

Internasional

Empat Kali Operasi Salah Sasaran, Remaja Kongo Akhirnya Sembuh Usai Dioperasi di India

Tim medis Max Hospital Gurugram berhasil merekonstruksi saluran reproduksi remaja 18 tahun asal Kongo yang terlahir tanpa serviks dan vagina, setelah empat kali operasi gagal di negara asalnya.

Dokter India Berhasil Operasi Rekonstruksi Vagina Remaja Kongo

Empat kali operasi di Kongo tidak membuahkan hasil. Yang tersisa hanya keloid di perut dan nyeri panggul yang datang setiap bulan, tanpa bisa pergi.

Remaja perempuan 18 tahun asal Republik Demokratik Kongo itu baru mendapat diagnosis yang benar setelah keluarganya membawanya ke India. Di Max Hospital, Gurugram, dokter akhirnya menemukan akar masalahnya: agenesia servikovaginal, kelainan bawaan di mana pasien terlahir tanpa leher rahim maupun saluran vagina.

Kelainan ini tergolong salah satu kasus paling rumit dalam ginekologi. Ovariumnya berfungsi normal, siklus hormonal berjalan, tapi darah haid tidak punya jalan keluar. Semuanya tersumbat, menumpuk di rahim, menciptakan nyeri panggul kronis yang agaknya sulit dibayangkan oleh siapa pun yang belum pernah mengalaminya.

Sebelum sampai di India, ia sudah menjalani prosedur operasi usus buntu hingga hernia di negara asalnya karena salah diagnosis. Empat kali masuk meja operasi. Tidak satu pun menyentuh akar masalahnya. Hasilnya: bekas luka keloid di perut, kondisi yang tak kunjung membaik, dan keluarga yang akhirnya memilih mencari jalan lain.

Tim dokter Max Hospital kemudian memutuskan serviko-vaginoplasti kompleks, prosedur bedah untuk membuat neovagina sekaligus menyambungkan kembali leher rahim dengan rahim bagian atas. Bukan operasi ringan, apalagi dengan kondisi anatomi pasien yang sudah pernah dibuka empat kali sebelumnya.

"Ini adalah kasus yang sangat menantang karena pasien memiliki rahim dan ovarium yang berfungsi normal tetapi dilahirkan tanpa serviks dan vagina," kata dr. Suman Lal, Direktur Senior sekaligus Kepala Unit Obstetri dan Ginekologi Max Hospital. "Tujuan kami bukan hanya mengurangi rasa sakitnya, tetapi juga merekonstruksi saluran reproduksi sambil mempertahankan fungsi rahim."

Pemulihan pascaoperasi tidak berjalan mulus sepenuhnya. Pasien boleh pulang pada hari kedelapan, tapi kembali dirawat pada hari ke-18 untuk evaluasi terencana di bawah anestesi. Dokter mendeteksi infeksi ringan dan sedikit cairan di sekitar area operasi. Ditangani cepat dengan antibiotik yang tepat, komplikasi itu teratasi. Kurang dari tiga minggu pascatindakan, anatomi organ reproduksinya pulih dengan sangat baik. Tidak main-main.

Di luar pencapaian medisnya, kasus ini membawa pesan yang lebih luas. Keterlambatan mendeteksi kondisi ini berarti bertahun-tahun nyeri dan empat operasi yang salah sasaran. Pertanyaannya: berapa banyak kasus serupa yang masih luput terdeteksi karena diagnosisnya tidak sampai ke tangan yang tepat?

Dr. Suman Lal mengingatkan para orang tua agar tidak meremehkan keterlambatan menstruasi pada remaja putri yang secara fisik tampak berkembang normal. "Gadis muda yang sudah pubertas tetapi tidak kunjung menstruasi meskipun ciri fisik seksualnya berkembang normal harus segera diperiksa," katanya. "Nyeri perut bulanan yang terus-menerus tanpa adanya menstruasi tidak boleh diabaikan, karena bisa jadi itu tanda anomali saluran reproduksi bawaan."

Deteksi dini, dalam kasus seperti ini, bukan jargon. Bagi pasien dari Kongo itu, setiap tahun yang terlewat berarti satu tahun lagi nyeri yang seharusnya tidak perlu ia tanggung.