SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  El Nino Terkuat Sepanjang Sejarah Ancam Indonesia,...

Ekonomi

El Nino Terkuat Sepanjang Sejarah Ancam Indonesia, BI Pun Bergerak

Hujan yang mengguyur Jabodetabek pekan ini bukan tanda berakhirnya kemarau. BMKG menegaskan Indonesia masih dikunci El Nino intensitas sangat kuat, sementara Bank Indonesia mulai menyusun strategi mitigasi inflasi pangan.

Hujan Jabodetabek Hanya Jeda, El Nino Kuat Masih Dominasi Indonesia

Jangan tertipu hujan beberapa hari terakhir di Jakarta dan sekitarnya. Itu bukan akhir dari kemarau, melainkan jeda singkat yang dipicu dinamika atmosfer lokal, sementara gambaran besarnya tetap suram: Indonesia sedang berjibaku dengan El Nino yang berpotensi menjadi yang terkuat dalam sejarah pencatatan modern.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani meluruskan persepsi yang beredar, Kamis (20/8/2026). "Secara umum, Indonesia masih kering. Hujan yang terjadi di Jabodetabek lebih dipengaruhi dinamika atmosfer regional dan lokal," tegasnya. Hujan sporadis di ibu kota bukan sinyal pergantian musim. Itu hasil interaksi Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan belokan angin yang sifatnya temporer.

Angkanya bicara cukup keras. Sebanyak 535 zona musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah masuk musim kemarau per dasarian I Agustus 2026. Curah hujan rendah mendominasi 90,79 persen wilayah, dan 87,28 persen wilayah mengalami curah hujan di bawah normal. Proyeksi BMKG untuk dasarian II Agustus hingga dasarian I September pun tidak menggembirakan: curah hujan secara umum hanya 0-150 milimeter per dasarian, dengan curah hujan di bawah 50 milimeter berpeluang mendominasi hampir seluruh pulau besar dari Sumatera hingga Papua.

Yang membuat situasi ini berbeda dari El Nino biasa adalah skalanya. Beda kali ini. NOAA pekan lalu mengumumkan peluang hampir 70 persen bahwa super-El Nino yang sedang berlangsung akan menjadi peristiwa terkuat yang pernah tercatat sejak 1950, melampaui rekor 1982-1983. Model-model komputer hampir bulat: intensitas akan memuncak pada akhir musim gugur dan awal musim dingin. Anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino diperkirakan melebihi 2,5 derajat celsius di atas rata-rata, angka yang belum pernah tercatat bahkan setelah disesuaikan dengan tren pemanasan global jangka panjang menggunakan indeks RONI.

"Ini benar-benar peristiwa yang luar biasa," kata Daniel Swain, ilmuwan iklim dari University of California. "Saat ini kita sudah berada di ambang pemecahan rekor atau menyamai rekor yang ada dan intensitasnya diperkirakan melonjak drastis," tambahnya.

Ada juga bibit siklon tropis 95W di sekitar Pulau Hainan, China, yang sempat memantik spekulasi. Andri menepis kaitan apa pun dengan hujan di Jabodetabek. Sistem itu bergerak ke barat-barat laut menjauhi Indonesia, dan pengaruhnya terhadap wilayah kita lebih terbatas pada peningkatan gelombang di Laut Natuna Utara, diprakirakan antara 1,25 hingga 2,5 meter.

Kalau BMKG mengurus sisi cuaca, Bank Indonesia bergerak di sisi ekonomi. Kombinasi El Nino kuat dan IOD positif sudah diterjemahkan sebagai ancaman nyata terhadap produksi pangan dan inflasi. BI, entah kebetulan atau tidak, mengumumkan strategi mitigasi di hari yang sama dengan klarifikasi BMKG soal kemarau.

Deputi Gubernur BI Rizky Perdana Gozali menyebut tiga komoditas yang paling diwaspadai: beras, cabai, dan bawang merah. Ketiganya rentan dihajar lonjakan harga ketika kekeringan mengganggu produksi. "Strategi pengendalian inflasi akan tetap fokus pada ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi," kata Rizky. BI menyiapkan sejumlah langkah: penerapan digital farming dan pertanian presisi, penguatan pascapanen dan hilirisasi pangan, serta kerja sama antardaerah berbasis pemetaan surplus dan defisit pangan.

El Nino diperkirakan berlangsung lebih kuat hingga Oktober 2026, terutama di kawasan Indonesia timur, sebelum berangsur melemah. Pertanyaannya bukan lagi apakah dampaknya akan terasa di kantong masyarakat. Seberapa dalam, itu yang belum ada yang tahu.