MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  El Niño Super Mengancam Asia Tenggara, SIIA Naikka...

Internasional

El Niño Super Mengancam Asia Tenggara, SIIA Naikkan Peringatan Kabut Asap ke Level Tertinggi

Untuk pertama kalinya sejak 2023, lembaga kajian Singapura menaikkan peringkat risiko kabut asap ke level tertinggi. Agustus dan September jadi bulan yang paling diwaspadai.

Agustus dan September belum tiba, tapi alarm sudah berbunyi.

Singapore Institute of International Affairs (SIIA) menaikkan peringkat risiko kabut asap ke level tertinggi dari tiga kategori yang mereka gunakan, untuk pertama kalinya sejak 2023. Bukan peringatan rutin. Langkah ini didorong kombinasi yang agaknya lebih berbahaya dari musim-musim sebelumnya: El Niño yang berpotensi menjadi "super", ditambah perubahan iklim yang terus mendorong suhu ke rekor baru.

Dampaknya tidak akan berhenti di perbatasan Singapura. Indonesia, Malaysia, dan Brunei masuk dalam peta risiko yang sama.

Suhu permukaan laut di kawasan Pasifik khatulistiwa kini berada di angka 29,4 derajat Celsius, atau 1,7 derajat di atas rata-rata 30 tahun terakhir, berdasarkan data terkini dari US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Anomali Juni ini berpotensi jadi yang terbesar sejak 1981. Perairan sepanas itu menciptakan kondisi ideal bagi El Niño yang kuat untuk berkembang, menekan curah hujan, mengeringkan lanskap, dan mendorong karhutla melewati garis perbatasan.

Ketua SIIA Simon Tay tidak banyak basa-basi. "Ada risiko nyata terjadinya kabut asap parah," katanya kepada wartawan. Ia bahkan menyerukan persiapan dimulai sekarang, bukan menunggu asap benar-benar pekat. "El Niño telah tiba dan El Niño yang parah kemungkinan besar akan terjadi. Jika perubahan cuaca menguntungkan kita, itu bagus, tetapi saya pikir kita harus bersiap untuk skenario terburuk."

Referensi ke 2015 bukan kebetulan. Tahun itu, El Niño yang kuat turut memicu salah satu krisis karhutla paling parah dalam sejarah Asia Tenggara, dengan kerugian ekonomi yang ditanggung Indonesia saja mencapai sekitar 16 miliar dolar AS, belum termasuk ketegangan diplomatik antarpemerintah yang mengikutinya. Kalau skenario serupa terulang, skala kerusakannya bisa jauh lebih besar. Perubahan iklim kini menambah satu lapisan risiko yang pada 2015 belum separah sekarang.

Penyebab struktural karhutla di kawasan ini sudah lama dikenal. Pembukaan lahan dengan cara dibakar, oleh perusahaan perkebunan besar maupun petani kecil yang bergantung pada kelapa sawit. El Niño tidak menciptakan masalah baru, ia memperparah yang sudah ada. Bak bensin disiram ke bara yang belum padam. Kalau Indian Ocean Dipole, pola iklim lain yang memengaruhi kondisi cuaca di Asia, juga bergeser ke fase lebih kering, panas dan kekeringan bisa mencekik lebih dalam lagi.

Bagi Singapura, risikonya melampaui langit kuning dan masker N95 yang laris. Kombinasi kabut asap dan suhu ekstrem meningkatkan ancaman masalah kesehatan serius, termasuk serangan jantung dan stroke, terutama bagi kelompok lansia. "Kemungkinan besar Anda secara fisiologis memiliki kecenderungan terhadap komorbiditas tingkat tinggi," kata Prof. Winston Chow, guru besar iklim perkotaan di Singapore Management University.

Bagi Indonesia, pertanyaannya lebih kompleks dan lebih berat. Sebagai negara dengan hamparan gambut terluas di dunia dan garis depan karhutla yang selalu panjang, tekanan dari El Niño super tidak bisa dihadapi hanya dengan narasi kesiapsiagaan. Angka 16 miliar dolar AS itu, kalau mau jujur, baru ongkos 2015. Kondisi iklim yang jauh lebih tidak stabil kini menunggu di depan.