Kekuasaan Anwar Ibrahim mulai digerogoti dari dalam. Sejumlah kader Partai Keadilan Rakyat (PKR), termasuk mereka yang selama ini dianggap anak didik sang Perdana Menteri, satu per satu memilih angkat kaki dan bergabung ke partai baru bernama Bersama, tepat ketika Malaysia mulai menghitung hari menuju pemilu berikutnya.
Figur paling mencolok dalam gelombang pembelotan ini adalah Rafizi Ramli, mantan orang kepercayaan Anwar yang sempat digadang-gadang sebagai penerus takhta politik PKR. Rafizi tidak sekadar hengkang. Ia mengakuisisi partai kecil bernama Malaysia United Party, kemudian mengganti namanya menjadi Partai Persatuan Malaysia atau Bersama, lalu langsung tancap gas merekrut anggota. Klaim Rafizi cukup mengejutkan: 18 ribu formulir keanggotaan sudah masuk, sebagian besar berasal dari mantan kader PKR. Angka yang tidak main-main.
Anwar Ibrahim menjabat sebagai Perdana Menteri sejak November 2022, mengakhiri penantian panjang setelah puluhan tahun berkubang di oposisi. Ironinya, kepemimpinan yang begitu lama diperjuangkan kini justru tersandung oleh keretakan dari kandang sendiri. Lambatnya reformasi dan gaya penanganan internal yang dinilai tidak responsif terhadap aspirasi kader akar rumput menjadi akar masalah yang kini meledak ke permukaan.
Anggota PKR Hassan Abdul Karim tak berusaha menyembunyikan rasa lelahnya. Ia mengaku pasrah dan ogah menahan kader yang hendak pergi, karena jajaran elite partai dinilai gagal mendengarkan keresahan mereka. Dengan nada getir, Hassan menggambarkan kondisi PKR saat ini "sakit, terluka, dan terluka parah." Peringatan kerasnya pun meluncur: "Jika lebih banyak lagi anggota parlemen dari PKR pendukung Rafizi yang hengkang, Anwar akan kehilangan legitimasi sebagai perdana menteri."
Konstitusi Malaysia memang melarang anggota parlemen aktif berpindah partai saat menjabat, sehingga secara hukum posisi Anwar di parlemen relatif terlindungi untuk sementara. Koalisi pemerintah masih menguasai mayoritas kursi. Tapi yang dipertaruhkan bukan hanya angka di parlemen. Narasinya yang kian retak jelang pemilu, entah kebetulan atau tidak, justru menguntungkan lawan-lawannya.
Sekjen PKR Fuziah Salleh mencoba meredam kepanikan. Ia membantah keras adanya eksodus massal dan justru mengklaim banyak kader baru yang bakal bergabung ke PKR jelang pemilu. "Tidak ada eksodus massal anggota yang keluar dari PKR untuk bergabung dengan Bersama," tegasnya. Pernyataan yang, agaknya, lebih terdengar seperti upaya manajemen persepsi ketimbang potret kondisi riil partai.
Hassan sendiri masih yakin PKR bisa meraup suara cukup besar di pemilu, dengan mengandalkan swing-voters, generasi muda, dan pemilih yang fokus pada isu ekonomi. Masuk akal di atas kertas. Tapi sulit dicapai kalau perang internal terus menguras energi partai dari dalam.
Bila perpecahan koalisi terus membesar, skenario pemilu dipercepat makin sering dibicarakan. Taruhan besar bagi Anwar. Bertarung di tengah rumah yang sedang retak bisa jadi pilihan paling berbahaya yang pernah ia hadapi, dan kali ini lawan datang dari barisan yang dulu ia bangun sendiri.