Perang 40 hari itu, kata Teheran, berakhir dengan kemenangan mereka.
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi tampil percaya diri di hadapan hadirin acara peluncuran buku peringatan mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu (11/4/2026). Ia menegaskan Iran sudah berhasil memaksakan kehendaknya kepada Amerika Serikat, yang kini "terpaksa" menerima sepuluh syarat gencatan senjata dari Teheran sebagai fondasi perundingan.
"Iran berhasil memaksakan supaya Amerika menerima 10 persyaratan yang diminta. Iran menunjukkan kepada dunia bahwa AS, dengan terpaksa, menerima syarat-syarat tersebut," kata Boroujerdi. Ia menambahkan: "Syukur kepada Allah SWT karena pada hari ini, Republik Islam Iran meraih kemenangannya. Islam memperoleh kemenangan atas musuh-musuhnya."
Klaim ini dilontarkan menjelang pembukaan perundingan di Islamabad, Pakistan, hari yang sama. Ini bukan negosiasi biasa. Washington sebelumnya melancarkan serangan militer bersama Israel sejak akhir Februari; Teheran sejak awal mengklaim berhasil menahan gempuran tersebut, dan kini maju ke meja perundingan dengan narasi pemenang.
Menurut Boroujerdi, Iran berhasil menggagalkan skenario perang kilat yang diinginkan AS-Israel: melumpuhkan kepemimpinan Iran dengan membunuh Ali Khamenei di hari pertama konflik, 28 Februari. Iran, ia klaim, justru bertahan hingga hari ke-40 dan melancarkan serangan balasan yang menghancurkan 17 pangkalan militer AS-Israel sekaligus melumpuhkan sistem pertahanan Israel. Serangan balik Iran disebut turut menyasar kota-kota di wilayah Israel.
Sepuluh syarat yang diajukan Teheran mencakup titik-titik gesekan lama: pengakuan hak Iran memperkaya uranium, pencabutan sanksi AS, penarikan pasukan Amerika dari Timur Tengah, hingga pengakhiran permusuhan di semua front termasuk Lebanon.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi menyebut kerangka sepuluh poin itu sudah diterima sebagai basis negosiasi dengan Washington, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran dan dikutip kantor berita Anadolu, Jumat (10/4). Ia menegaskan Iran selalu terbuka terhadap diplomasi, tapi menolak jika gencatan senjata dipakai lawan untuk mengisi ulang amunisi.
Di balik narasi kemenangan itu, ada satu detail yang agaknya tidak terlalu disorot Teheran. Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang menggantikan ayahnya setelah tewas dalam serangan di awal perang, dikabarkan menderita cedera serius. Tiga sumber yang dekat dengan lingkaran dalamnya mengungkapkan kepada Reuters bahwa wajah Mojtaba cacat akibat serangan terhadap kompleks kepemimpinan di pusat Teheran, sementara satu atau kedua kakinya turut mengalami cedera yang tak bisa disepelekan. Istri, saudara ipar laki-laki, dan saudara ipar perempuannya ikut tewas dalam serangan yang sama.
Bukan main.
Meski begitu, pria berusia 56 tahun itu disebut masih memiliki ketajaman mental dan tetap terlibat dalam pengambilan keputusan strategis, termasuk soal perundingan dengan Washington, lewat konferensi audio bersama pejabat senior.
Publik sendiri belum pernah melihat satu pun foto, video, atau rekaman audio Mojtaba sejak ia resmi diangkat sebagai pemimpin tertinggi pada 8 Maret. Kondisi itu memunculkan pertanyaan yang sampai sekarang belum terjawab: sejauh mana ia benar-benar memegang kendali, justru di saat Iran bermain di taruhan geopolitik terbesar dalam beberapa dekade?
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth lebih dulu menyinggung ini, pada 13 Maret. Ia menyatakan Mojtaba "terluka dan kemungkinan cacat," sebuah keterangan yang kini ternyata selaras dengan laporan dari sumber-sumber internal Iran sendiri, kalau laporan itu bisa dipercaya.
Negosiasi Islamabad baru saja dimulai. Klaim kemenangan bisa jadi bagian dari posisi tawar, bukan laporan pertempuran yang sesungguhnya.