KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Dua WN Jepang Jadi Tersangka di China, Kasus Magne...

Internasional

Dua WN Jepang Jadi Tersangka di China, Kasus Magnet Logam Tanah Jarang Bayangi Hubungan Bilateral

Dua warga negara Jepang yang ditahan di Dalian sejak Mei resmi ditangkap otoritas China pada 1 Juli 2026, diduga terlibat penyelundupan magnet berbahan logam tanah jarang di tengah memanas-nya perang dagang mineral kedua negara.

Dua WN Jepang Ditangkap di Cina, Diduga Terkait Logam Tanah Jarang | NHK WORLD-JAPAN News

Dua warga negara Jepang yang ditahan petugas bea cukai China di Kota Dalian, Provinsi Liaoning, sejak Mei lalu kini resmi berstatus tersangka. Penangkapan formal dilakukan pada Rabu, 1 Juli 2026, berdasarkan keterangan sumber yang mengetahui perkembangan kasus ini.

Keduanya diduga terlibat dalam ekspor magnet berbahan logam tanah jarang dan memiliki keterkaitan dengan industri elektronik Jepang. Pemerintah China menyatakan kedua orang itu dicurigai melanggar hukum terkait penyelundupan barang yang dilarang untuk diimpor maupun diekspor. Tidak ada rincian lebih lanjut yang diberikan.

Bukan sembarangan timing. Sejak Januari 2026, Beijing memperketat aturan ekspor ke Jepang untuk sejumlah material yang dikategorikan dwiguna, bisa dipakai keperluan sipil sekaligus militer, termasuk logam tanah jarang. Imbasnya langsung terasa: perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di China mulai mengeluhkan sulitnya mendapat bahan baku, bahkan untuk kebutuhan yang sama sekali jauh dari urusan pertahanan.

Ekspor magnet logam tanah jarang dari China ke Jepang pun ikut terpukul sepanjang periode itu. Bagi industri elektronik dan otomotif Jepang yang sangat bergantung pada material ini, ini bukan gangguan kecil yang bisa diabaikan.

Kasus ini muncul ketika tekanan diplomatik antara kedua negara sedang memuncak. China, kalau data ini bisa dipercaya, tampak semakin agresif menggunakan kebijakan mineral sebagai instrumen tekanan terhadap Tokyo, termasuk, menurut sejumlah laporan, dalam kaitannya dengan peta politik domestik Jepang. Sanae Takaichi, salah satu figur berpengaruh di Tokyo, disebut-sebut menjadi target tidak langsung dari manuver Beijing ini, meski kaitan langsungnya masih samar.

Tokyo gusar. Sekretaris Kabinet Jepang membenarkan informasi penahanan itu dan menyatakan pemerintah tengah memantau perkembangan kasus secara saksama sambil menuntut akses konsuler bagi kedua warganya.

Apakah keduanya memang penyelundup yang memanfaatkan celah regulasi yang kacau, atau justru korban dari hukum domestik China yang makin sering difungsikan sebagai senjata geopolitik? Jawabannya, agaknya, tidak akan datang cepat, dan arah hubungan dua ekonomi terbesar Asia Timur ini ikut bergantung di sana.