SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Dua Wajah Mobil Listrik Saat China Dihajar Banjir

Internasional

Dua Wajah Mobil Listrik Saat China Dihajar Banjir

Dari komponen BYD Tang yang copot viral hingga armada NEV yang jadi generator darurat warga Guangxi, banjir besar di China mempertontonkan dua sisi berbeda kendaraan listrik sekaligus.

Viral Komponen Mobil BYD Ambrol saat Terjang Banjir

Banjir besar yang menghajar sejumlah provinsi China dalam beberapa pekan terakhir tanpa sengaja menjadi ujian lapangan terbesar bagi kendaraan listrik. Hasilnya tidak selalu menyenangkan, dan tidak selalu buruk.

Di Shenyang, sebuah video SUV BYD Tang mogok di tengah genangan air sempat viral dan memicu gelombang spekulasi. Yang bikin pasar ribut bukan sekadar mobilnya mati, melainkan sebuah komponen logam berukuran besar yang tampak terlepas dari bagian bawah kendaraan. Beberapa warganet langsung menuding itu adalah unit motor penggerak listrik belakang yang ambrol. Bukan tudingan kecil.

BYD belum merilis pernyataan resmi soal identitas komponen itu, dan tidak ada hasil inspeksi yang dipublikasikan. Otoritas setempat pun bungkam. Jadi, sejauh ini yang beredar baru spekulasi, video, dan banyak komentar. Angka pastinya, penyebabnya, bahkan nama komponen yang terlepas itu, belum terverifikasi secara publik.

Insiden ini terjadi justru setelah BYD sendiri mengeluarkan peringatan ke para pemilik kendaraannya. Wakil Presiden Eksekutif BYD He Zhiqi menegaskan bahwa sertifikasi IP67 dan IP68 pada paket baterai Blade dirancang untuk perlindungan dalam kondisi pengujian terkontrol, bukan izin menerjang banjir sesuka hati. Air dalam, katanya, tetap bisa merusak panel bodi, komponen bawah kendaraan, dan sistem lainnya, meski baterai tegangan tinggi relatif terlindungi. Peringatan yang, agaknya, datang terlambat bagi pemilik Tang di Shenyang itu.

Cerita berbeda muncul dari Guangxi. Topan Mesak memicu hujan ekstrem yang melumpuhkan jaringan listrik di banyak titik. Mobil listrik justru tampil sebagai pahlawan tak terduga. Para pemilik kendaraan berbasis New Energy Vehicle memanfaatkan teknologi Vehicle-to-Load, atau V2L, untuk mengalirkan daya baterai mereka ke perangkat eksternal warga yang membutuhkan.

Salah satu video yang beredar luas memperlihatkan warga mengantre di sekitar Geely EX2, atau dikenal sebagai Xingyuan di pasar domestik, sekadar untuk mengisi daya ponsel agar bisa menghubungi keluarga dan tim penyelamat. Sejumlah pemilik kendaraan BYD pun membentuk konvoi sukarelawan untuk mendistribusikan bantuan dan kebutuhan pokok. Kendaraan listrik yang di Shenyang jadi berita buruk, di Guangxi jadi berita baik. Ironis, tapi itulah lapangannya.

Teknologi V2L bekerja lewat on-board charger dua arah yang mampu mengubah arus DC dari baterai menjadi AC untuk konsumsi eksternal. Fungsinya persis seperti generator portabel. Beberapa model PHEV dan EREV bahkan sudah dilengkapi camping mode yang memungkinkan pasokan listrik lebih lama dalam kondisi diam. Bukan hal baru, sebenarnya. Saat banjir besar Provinsi Henan pada 2021, pola serupa sudah terjadi, kalau data itu bisa dipercaya sebagai preseden.

Dua kejadian ini muncul dalam satu siklus bencana yang sama dan menawarkan gambaran yang lebih jujur soal kesiapan teknologi kendaraan listrik menghadapi cuaca ekstrem. Bukan sekadar soal baterai mana yang lolos uji IP68, tapi soal desain menyeluruh, komponen struktural, dan batas kemampuan yang kerap tidak tertulis di brosur. Pertanyaannya, berapa banyak pemilik EV yang benar-benar membaca lembar teknisnya sebelum nekat menerobos genangan?