Harga minyak mentah Brent naik 3 persen ke atas 86 dolar AS per barel pada Jumat, kenaikan mingguan ketiga berturut-turut. Pasar punya alasan untuk panik: dua kapal tanker minyak meledak dan terbakar setelah menghantam ladang ranjau di selatan Selat Hormuz, Sabtu (18/7/2026), saat konflik bersenjata AS dan Iran sudah berjalan tujuh hari penuh.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim kedua kapal itu nekat melintasi koridor selatan Selat Hormuz, jalur yang justru ditetapkan AS sebagai rute yang dilindungi. "Satu jam yang lalu, dua kapal tanker minyak, yang mencoba melewati ladang ranjau di selatan Selat Hormuz, meledak dan terbakar," demikian pernyataan IRGC yang disiarkan kantor berita resmi Iran, IRNA. Identitas kapal, bendera, maupun pemiliknya tidak diungkap. IRGC juga menuding intelijen AS yang mendorong kedua kapal masuk ke area itu, tuduhan yang belum bisa diverifikasi secara independen.
Comando Tengah AS (Centcom) langsung membantah. Pernyataan IRGC itu disebut salah. Pada saat bersamaan, Centcom mengumumkan serangan malam ketujuh berturut-turut yang menghantam situs pengawasan, infrastruktur logistik militer, penyimpanan senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim Iran.
Dua tanker bukan satu-satunya yang jadi korban. IRGC mengklaim menghentikan empat kapal lain yang berusaha melintasi selat lewat operasi gabungan rudal dan drone. Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan energi dunia, sudah berubah jadi medan tempur sungguhan. Bukan sekadar titik eskalasi diplomatik lagi.
Kerusakan meluas ke darat. Media pemerintah Iran melaporkan serangan udara AS pada Jumat menghantam setidaknya lima jembatan di selatan Iran, menewaskan tujuh orang di dekat pelabuhan Bandar Khamir. Sabtu pagi giliran Provinsi Hormozgan di pesisir selat yang kena, tiga tewas dan delapan luka-luka. Ledakan juga dilaporkan di Yazd, Iran tengah, serta di sejumlah provinsi selatan seperti Sirik dan Ahvaz.
Iran balas bukan hanya di laut. IRGC menyatakan telah menyerang sebuah kapal AS di Samudra Hindia bagian utara. Lebih jauh dari itu, Iran membidik negara-negara Teluk yang jadi pangkalan udara AS. Bahrain dihantam rudal balistik dan drone yang, menurut IRGC, menghancurkan depot drone AS dan "pusat kecerdasan buatan utama" negara tersebut. Kuwait berhasil mencegat sejumlah proyektil, tapi tetap menanggung kerusakan pada pembangkit listrik dan stasiun desalinasi air. Sistem pertahanan udara Yordania dan Irak juga sibuk menembak jatuh rudal dan drone Iran.
Di ujung barat kawasan, kelompok Houthi menyita kapal di lepas pantai Yaman. Dua jalur energi paling vital di Timur Tengah kini sama-sama bermasalah, bak dua keran yang dicekik sekaligus.
Sebagai respons atas penutupan Selat Hormuz, AS memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran agar ekspor minyak Teheran tersumbat total. IRGC balas dengan ancaman terbuka: tidak mungkin mengekspor pupuk kimia atau "setetes pun minyak dan gas" dari wilayah Teluk selama operasi militer AS berlanjut.
Mohsen Rezaei, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran dan mantan komandan tertinggi IRGC, tidak main-main. "Jika serangan AS berlanjut selama beberapa hari lagi, kita akan memasuki fase operasi ofensif skala penuh," tegasnya kepada televisi pemerintah. Bukan gertakan kosong, kalau rekam jejaknya jadi patokan.
Pelacak pengiriman internasional mencatat lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz sudah amblas ke level terendah dalam tiga minggu terakhir. Harga Brent yang naik tiga pekan berturut-turut bukan anomali. Ini sinyal bahwa pasar tidak percaya krisis ini akan selesai cepat.
Kedua belah pihak punya kalkulasi tersendiri soal harga minyak, entah kebetulan atau tidak. Bagi Iran, harga yang kian tinggi justru memperkuat posisi tawar dalam negosiasi apa pun yang mungkin terjadi. Bagi Presiden AS Donald Trump, setiap kenaikan harga di pompa bensin adalah beban politik nyata menjelang pemilu sela November mendatang. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sudah menyatakan keprihatinan atas eskalasi yang menyasar infrastruktur sipil. Pernyataan keprihatinan, sayangnya, belum pernah menghentikan satu barel pun dari terbakar.