Selat Hormuz berubah jadi titik panas baru akhir pekan lalu. Dua kapal tanker minyak dilaporkan meledak dan lumpuh setelah mencoba melintas di jalur selatan selat itu, rute yang sudah lama diberi label merah oleh Tehran.
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim kedua kapal nekat memakai rute berbahaya atas dorongan militer AS. Tidak ada identitas kapal, tidak ada bendera negara asal, tidak ada keterangan soal awak. Yang ditegaskan hanya satu: jalur ini tidak akan aman selama apa yang mereka sebut "agresi" Washington di kawasan masih berlangsung. "Jalur ini tidak akan aman untuk transit produk petrokimia, bahkan tidak untuk satu tetes minyak dan gas," demikian pernyataan resmi IRGC.
Badan pengawas pelayaran Inggris UKMTO pada Minggu malam turut melaporkan sebuah kapal terbakar tidak jauh dari pesisir Oman, meski penyebabnya belum bisa diverifikasi. Dua insiden, satu selat, dalam rentang waktu berdekatan. Entah kebetulan atau tidak, pasar tidak menunggunya.
Data LSEG mencatat betapa cepatnya efek psikologis menjalar ke pelaku pelayaran. Hanya empat kapal yang melintas di Hormuz pada Minggu, turun dari delapan sehari sebelumnya. Kendati begitu, sejak Jumat setidaknya tiga tanker produk minyak dan satu Very Large Crude Carrier (VLCC) tercatat masih nekat masuk selat untuk memuat minyak. Para operator rupanya masih menimbang antara risiko dan keharusan bisnis. Bukan pilihan yang nyaman.
Harga minyak mentah melonjak sekitar 2% pada Senin dan diperdagangkan di atas US$90 per barel, level yang belum banyak tersentuh dalam beberapa bulan terakhir. Angka yang, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya sebagai sinyal bukan lonjakan sesaat, cukup membuat importir minyak seperti Indonesia keringat dingin.
Eskalasi tidak berhenti di laut. Kuwait melaporkan untuk hari kedua berturut-turut salah satu fasilitas desalinasi airnya diserang dan terbakar. Pemerintah Kuwait menyebut insiden itu serangan langsung terhadap infrastruktur sipil yang vital. Fasilitas desalinasi bukan target militer biasa, ini menyentuh kebutuhan paling dasar warga sipil.
Korban di pihak Amerika terus bertambah. Militer AS mengumumkan seorang personel tewas di Irak utara pada Sabtu, gugur saat melakukan peledakan terkendali terhadap puing-puing drone serang Iran yang sebelumnya berhasil dijatuhkan. Sebelumnya dua personel tewas di Yordania, satu lagi hilang dalam tugas sebelum CENTCOM menemukan jenazah yang belum teridentifikasi di lokasi serangan pada Jumat. Total korban jiwa di pihak AS kini 17 orang, dengan lebih dari 420 personel lainnya mengalami luka-luka.
Hormuz bukan sekadar selat. Sekitar 20% pasokan minyak global melewati titik ini setiap harinya. Kalau keran itu benar-benar macet, US$90 per barel bakal terasa murah.