Dua nama akan dibacakan di hadapan sidang Markas Besar PBB pada 5 Juni: Kopral Dua Eko Prambudi Santoso dari TNI, dan Brigadir Polisi Kepala Sri Widodo dari Polri. Keduanya tidak akan hadir untuk menerimanya sendiri.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres akan menyematkan Medali Dag Hammarskjöld secara anumerta kepada dua penjaga perdamaian Indonesia itu dalam upacara Hari Internasional Penjaga Perdamaian PBB. Eko gugur saat bertugas bersama misi MONUSCO di Republik Demokratik Kongo; Sri Widodo wafat dalam penugasan MINUSCA di Republik Afrika Tengah. Keduanya meninggal pada 2025.
Medali Dag Hammarskjöld bukan penghargaan biasa. Ini pengakuan tertinggi PBB bagi personel penjaga perdamaian yang gugur dalam tugas, dinamai dari Sekjen PBB kedua yang tewas dalam kecelakaan pesawat saat misi damai di Kongo pada 1961. Tahun ini, medali serupa diberikan kepada total 68 orang dari berbagai negara, militer, polisi, maupun sipil.
Indonesia sebetulnya menanggung duka lebih dalam dari sekadar dua nama itu. Empat personel lain gugur saat bertugas bersama pasukan UNIFIL di Lebanon, ketika konflik Israel-Hizbullah meruncing awal 2025. Sesuai prosedur PBB, mereka yang wafat tahun ini baru akan dianugerahi medali pada upacara tahun depan.
Upacara 5 Juni di New York bukan sekadar seremoni. Guterres dijadwalkan meletakkan karangan bunga untuk menghormati hampir 4.500 penjaga perdamaian yang telah gugur sejak operasi PBB pertama dibentuk pada 1948. "Tidak seorang pun seharusnya meninggal saat mengabdi demi perdamaian," tegasnya dalam pesan yang dirilis menjelang peringatan ini. Ia juga mengingatkan bahwa serangan terhadap personel perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, dan negara-negara anggota wajib menjamin keselamatan mereka.
Tema tahun ini, "Berinvestasi dalam Perdamaian", agaknya bukan sekadar slogan. Di baliknya ada kekhawatiran nyata: operasi penjaga perdamaian PBB menghadapi tekanan pemangkasan anggaran dari sejumlah donor besar, sementara konflik di penjuru dunia justru kian terfragmentasi dan berkepanjangan. Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekjen PBB untuk Operasi Perdamaian, menyebut para penjaga perdamaian sebagai garis depan stabilitas global di saat sumber daya semakin tipis.
Ada juga penghargaan lain yang tak kalah menarik dicermati. Kopral Matias Reyes dari Uruguay menerima "Captain Mbaye Diagne Medal for Exceptional Courage" atas aksinya di Goma, Kongo Timur, saat krisis puncak awal 2025. Secara anumerta, penghargaan serupa jatuh ke nama Sergii Prykodko dari Ukraina, kontraktor swasta UNMISS yang gugur mengevakuasi tentara terkepung di Sudan Selatan. Dua penghargaan lain masing-masing diterima Mayor Abhilasha Barak dari India sebagai Military Gender Advocate of the Year, serta Stephanie Königs dari Jerman sebagai UN Woman Police Officer of the Year.
Bagi Indonesia, konteks ini lebih dari urusan seremonial. Hampir 2.000 personel militer dan polisi Indonesia, termasuk 156 perempuan, tersebar di tujuh kawasan konflik: Abyei, Republik Afrika Tengah, Siprus, Kongo, Lebanon, Sudan Selatan, dan Sahara Barat. Kontributor terbesar keenam. Dari 118 negara yang terlibat, posisi itu bukan kebetulan, melainkan kelanjutan tradisi Pasukan Garuda yang sudah berjalan sejak 1957.
4.500 jiwa sejak 1948. Bukan statistik abstrak. Setiap nama di baliknya punya keluarga yang menunggu di rumah.