Bukan kemenangan yang sempurna.
Klaim AS soal kehancuran armada laut reguler Iran memang bukan omong kosong, tapi siapa pun yang sudah lama mengamati dinamika Teluk Persia tahu bahwa memenangkan pertempuran simbolis belum tentu berarti menguasai selat yang paling berharga di peta energi dunia.
Sabtu lalu, dua kapal perusak kelas Arleigh Burke, USS Michael Murphy (DDG 112) dan USS Frank E. Peterson (DDG 121), mencoba melintas Selat Hormuz. Gagal. Bukan gagal biasa, melainkan situasi yang, menurut investigasi Press TV berdasarkan sumber militer-keamanan tingkat tinggi, nyaris berakhir dengan kehancuran total dua aset tempur utama Angkatan Laut Amerika.
Kronologinya begini: saat kedua kapal perusak beserta fregat pengiringnya mendekati muara Teluk Persia, rudal jelajah Iran mengunci target. Ultimatum 30 menit diberikan untuk berbalik. Kapal-kapal itu mundur.
Sebelum dipaksa balik, AS sempat mengandalkan taktik perang elektronik, termasuk mematikan sistem pelaporan posisi kapal, dalam upaya menipu unit Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Tidak mempan.
Operasi ini, menurut temuan yang sama, sejak awal dirancang lebih sebagai manuver psikologis ketimbang misi tempur murni. Waktunya bukan kebetulan: bertepatan persis dengan berlangsungnya pembicaraan Iran-AS di Islamabad. Mundurnya dua kapal perusak itu agaknya justru menjadi pesan balik yang lebih keras dari Teheran ke meja perundingan daripada sekadar insiden di laut.
Pertanyaannya kini bukan soal siapa menang atau kalah pada hari itu. Ancaman mana yang sebetulnya paling berbahaya?
Serangan udara AS memang telah menghantam kapal-kapal besar milik angkatan laut reguler Iran. Armada itu, jujur saja, lebih berfungsi sebagai simbol prestisius ketimbang kekuatan tempur praktis di perairan sempit seperti Hormuz. Yang benar-benar mencengkeram selat itu adalah unit berbeda: armada perahu cepat IRGC, bersenjatakan rudal jarak pendek, drone penyerang, dan ranjau laut. Mereka susah dilacak, lebih lincah, dan mampu menyerang secara sporadis tanpa memberi banyak waktu untuk respons konvensional.
Satu perahu cepat yang berhasil lolos ke dekat tanker LNG bisa memicu kekacauan di pasar minyak global dalam hitungan jam. Inilah yang membuat kalkulasi militer AS jauh lebih rumit dari yang tampak di permukaan.
Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati titik sempit ini. Ketegangan sekecil apa pun di Hormuz langsung terbaca di harga futures minyak mentah, bak alarm yang selalu siaga.
Satu hal lagi: beredar video yang diklaim sebagai rekaman serangan Iran terhadap kapal perang AS. AFP menelusuri dan menemukan bahwa footage tersebut ternyata cuplikan dari gim video, bukan rekaman kejadian nyata. Perang narasi di kawasan ini agaknya berkobar seiring dengan, bahkan kadang mendahului, perang sesungguhnya di laut, dan tidak semuanya bisa ditelan mentah-mentah.
Armada besar Iran mungkin sudah babak belur. Tapi perahu-perahu kecil itu masih ada. Masih lincah. Masih sangat berbahaya.