SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Dua Direksi BYAN Lepas Saham Berturut-turut, Ada A...

Finansial

Dua Direksi BYAN Lepas Saham Berturut-turut, Ada Apa?

Dalam rentang kurang dari sepekan, dua direktur PT Bayan Resources Tbk melepas saham secara terpisah. Totalnya tidak kecil, dan pasar agaknya mulai memperhatikan.

Belum genap satu pekan sejak Oliver Khaw Kar Heng melepas 166.900 lembar saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) pada 7-8 Mei 2026, giliran rekan sesama direksinya ikut bergerak. Kali ini Alastair Gordon Christopher McLeod yang beraksi.

McLeod menjual 3 juta lembar saham BYAN pada 13 Mei 2026 lewat pasar negosiasi, difasilitasi Maybank Sekuritas dengan kode broker ZP, di harga Rp12.000 per lembar. Total yang ia kantongi: sekitar Rp36 miliar. Harga transaksi itu 7,1% di atas harga penutupan hari tersebut yang berada di Rp11.200, setelah sepanjang sesi saham bergerak di kisaran Rp11.150 hingga Rp11.500.

Premium 7,1% itu bukan angka kecil. Pembelian di atas harga pasar lewat jalur negosiasi umumnya mengindikasikan ada pihak yang memang sedang memburu lot besar, dan tidak mau repot menyerapnya pelan-pelan dari pasar reguler. Siapa pembelinya? Laporan keterbukaan informasi tidak menyebut.

Setelah transaksi rampung, kepemilikan McLeod di BYAN menyusut dari 7 juta lembar (0,021%) menjadi 4 juta lembar (0,012%) dari total saham beredar. Seluruhnya tercatat sebagai kepemilikan langsung, dan manajemen memastikan ini bukan bagian dari perubahan pengendalian perusahaan.

Sepekan sebelumnya, Oliver melepas saham dalam dua sesi: 25.000 lembar di harga Rp11.112 pada 7 Mei, lalu 141.900 lembar di Rp11.151 keesokan harinya. Total perolehannya sekitar Rp1,86 miliar, jauh lebih kecil dibanding aksi McLeod. Tapi polanya serupa: divestasi murni, bukan transaksi yang berkaitan dengan restrukturisasi kepemilikan.

Dilihat terpisah, masing-masing transaksi terasa biasa saja. Disejajarkan, lain cerita.

Saham BYAN sendiri sedang tidak dalam kondisi prima. Dalam sebulan terakhir, harganya tergerus 6,86% atau sekitar 825 poin. Sejak awal 2026, koreksinya sudah mencapai sekitar 28%, cukup dalam untuk emiten dengan kapitalisasi pasar yang masih bertengger di kisaran Rp373 triliun. Valuasi price-to-earnings kini di bawah 30 kali, level yang sebenarnya lebih "manusiawi" dibanding beberapa tahun lalu ketika saham ini diperdagangkan di valuasi yang jauh lebih stretched. Pertanyaannya, apakah koreksi ini yang mendorong direksi mulai keluar?

Meski ada pelepasan dari jajaran direksi dan komisaris, free float BYAN justru sedikit naik. Per akhir April 2026, saham yang beredar di publik tercatat 7.089.564.830 lembar atau 21,27% dari total saham, meningkat tipis dari 7.089.281.430 lembar di akhir Maret. Masih di atas batas minimum BEI sebesar 15%, jadi dari sisi regulasi tidak ada masalah.

Bayan Resources dikontrol Low Tuck Kwong, taipan batu bara yang sudah lama masuk jajaran orang terkaya di Asia Tenggara. Kepemilikan McLeod maupun Oliver terbilang recehan dibanding total saham beredar, sehingga transaksi ini secara fundamental tidak menggeser peta kendali perusahaan. Tapi pasar sedang tidak dalam mood yang lapang. Aksi jual beruntun dari dua direktur dalam satu pekan, entah kebetulan atau tidak, waktunya memang terasa kurang ideal.