KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Drone Ukraina Hajar Kilang Minyak Rusia, Solar Ero...

Internasional

Drone Ukraina Hajar Kilang Minyak Rusia, Solar Eropa Sentuh Rekor 60 Dolar

Lebih dari 430 drone Ukraina menyerbu arah Moskow dalam semalam, sementara kilang-kilang minyak Rusia terus dihajar hingga memaksa Moskow melarang ekspor solar. Margin solar acuan Eropa langsung melesat ke rekor 60,17 dolar AS per barel.

Ukraina Luncurkan 430 Drone ke Moskow Jelang KTT NATO

Margin harga solar acuan Eropa melesat ke rekor 60,17 dolar AS per barel pekan ini. Bukan tanpa sebab.

Dalam rentang beberapa hari, Ukraina melancarkan kampanye serangan drone paling masif sejak perang dimulai lebih dari empat tahun lalu. Lebih dari 430 drone diarahkan ke wilayah Moskow dalam satu malam saja, tulis Wali Kota Sergei Sobyanin di platform MAX. Sebagian besar berhasil dinetralkan sistem pertahanan udara pada jarak yang jauh, tapi 36 unit dihancurkan saat sudah mendekati ibu kota. Angka yang besar, bahkan untuk standar perang yang telah berlangsung bertahun-tahun ini.

Yang lebih terasa dampaknya justru bukan di langit Moskow, melainkan di kilang-kilang minyak. Pada 2 Juli lalu, drone Ukraina menyasar NORSI, kilang terbesar keempat Rusia milik Lukoil, merusak unit pengolahan utama CDU-6 yang menyumbang 53 persen dari kapasitas kilang tersebut. Unit itu biasanya mengolah sekitar 190.000 barel minyak mentah per hari, dan kini berhenti total. Empat hari kemudian, giliran kilang terbesar Rusia di Omsk yang terbakar. Krasnodar, Yaroslavl, Ufa, dan Samara menyusul dalam daftar target.

Secara kumulatif, serangan-serangan ini diperkirakan telah melumpuhkan sekitar seperempat dari total kapasitas penyulingan Rusia yang mencapai 7 juta barel per hari. Pengolahan minyak mentah Rusia pada Juni 2026 anjlok 25 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi 3,95 juta barel per hari, level terendah dalam lebih dari dua dekade. "Jumlah minyak mentah yang diolah Rusia menjadi bahan bakar pada bulan Juni turun 25 persen dari tahun lalu menjadi 3,95 juta barel per hari. Ini merupakan level terendah dalam lebih dari dua dekade," kata Gary Peach, analis pasar minyak di Energy Intelligence.

Moskow merespons dengan melarang ekspor solar hingga 31 Juli 2026. Dalam rapat kabinet yang disiarkan langsung, Wakil Perdana Menteri Alexander Novak mengakui kondisi bahan bakar di dalam negeri "tetap kompleks" dan antrean panjang kendaraan di SPBU sudah jadi pemandangan sehari-hari. Ironi yang tidak kecil bagi salah satu produsen energi terbesar di dunia. Untuk menambal kekurangan, Rusia bahkan terpaksa mengimpor bensin dari India melalui jalur laut.

Efek berantainya tidak berhenti di perbatasan Rusia. Di Laut Hitam, kapal tanker Yasa Polaris yang mengangkut minyak Kazakhstan untuk Chevron melalui jalur Caspian Pipeline Consortium (CPC) dilaporkan terkena serangan drone di dekat pelabuhan Novorossiysk pada Rabu (8/7/2026). Chevron mengonfirmasi insiden tersebut sambil menegaskan awak kapal selamat dan ekspor dari Kazakhstan tidak terganggu. Tekanan di jalur CPC sudah terasa lebih dulu. Konsorsium merencanakan ekspor 1,6 juta barel per hari untuk Juli, turun dari 1,7 juta barel per hari yang ditargetkan Juni, setelah fasilitas gas yang rusak akibat drone memangkas produksi.

Serangan drone Ukraina juga menyentuh fasilitas yang lebih sensitif secara diplomatik. Stasiun kompresor Krasnodarskaya, bagian dari rantai pasokan pipa gas Blue Stream yang menghubungkan Rusia ke Turki, diserang pada Selasa (7/7/2026). Gazprom menyatakan langkah cepat berhasil mencegah gangguan pasokan gas ke Turki, meski perbaikan terhadap fasilitas yang rusak masih berlangsung. Kremlin bergerak cepat. Juru Bicara Dmitry Peskov secara eksplisit meminta Turki menggunakan pengaruhnya untuk memperingatkan Kiev agar berhenti menyerang infrastruktur energi global.

Pesan itu bukan kebetulan ditujukan ke Ankara. Turki adalah anggota NATO sekaligus mitra dagang Rusia, pembeli drone tempur untuk Ukraina sekaligus importir gas Rusia, dan tuan rumah KTT NATO yang berlangsung tepat saat eskalasi ini memuncak. Posisi Erdogan, yang oleh Moskow dipandang sebagai salah satu dari sedikit pemimpin negara NATO yang masih bisa diajak bernegosiasi langsung, tiba-tiba menjadi lebih strategis dari sebelumnya.

Zelensky tak menyia-nyiakan momentum. Tepat sebelum KTT di Ankara, ia mendesak sekutu agar keluar dari pertemuan tersebut dengan "keputusan tegas" soal dukungan pertahanan udara bagi Ukraina.

Bagi pasar energi global, timingnya tidak bisa lebih buruk. Stok solar di pasar-pasar utama baru saja terkuras akibat gangguan pengiriman minyak Selat Hormuz selama berbulan-bulan karena perang Iran. "Larangan ekspor solar Rusia terjadi hampir pada waktu yang paling buruk. Perang Iran telah memaksa penarikan persediaan besar-besaran untuk menjembatani pasokan Timur Tengah yang terganggu sehingga stok solar di pasar utama menipis," kata Abhishek Kumar dari Sparta Commodities.

Angkanya bicara sendiri. Ekspor solar dan bensin Rusia yang pada Juli 2021 masih mencapai 842.000 barel per hari, kini susut drastis menjadi hanya 214.000 barel per hari sepanjang 1-8 Juli 2026. Sebagian analis menyebut larangan resmi ini sebenarnya hanya memformalkan realitas yang sudah berjalan: ekspor de facto memang sudah hampir mandek. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah harga energi global akan tertekan lebih lanjut, melainkan seberapa dalam.