SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Drone Rusia Hantam Markas SBU di Kyiv, Zelensky Si...

Internasional

Drone Rusia Hantam Markas SBU di Kyiv, Zelensky Siapkan Serangan Balik

Markas Besar Dinas Keamanan Ukraina (SBU) di jantung Kyiv dihantam drone Rusia, menewaskan nol orang tapi melukai 12 warga sipil. Serangan ini dinilai sebagai eskalasi besar, terjadi tepat saat utusan AS Witkoff dan Kushner bersiap mendarat untuk misi mediasi.

Serangan Langka 4 Tahun Perang, Mabes SBU Ukraina Dihantam Drone Rusia

Tepat di Jalan Volodymyrska, berseberangan dengan Katedral Saint Sophia yang masuk daftar Warisan Dunia UNESCO, sebuah drone Rusia menghantam kantor pusat Dinas Keamanan Ukraina (SBU) pada Jumat (4/9/2026). Dua belas orang luka-luka, kaca-kaca jendela kompleks bersejarah itu pecah berantakan, dan asap hitam membubung di pusat kota Kyiv yang sudah empat setengah tahun hidup di bawah bayang-bayang perang.

Serangan ke gedung pemerintah sekelas ini tergolong sangat jarang sepanjang perang berlangsung. Zelensky sendiri menegaskan bahwa drone tersebut bukan sasaran sembarangan, melainkan sengaja diarahkan langsung ke kantor Kepala SBU Oleksandr Poklad yang berada di dalam gedung itu. Bukan kebetulan. Pembidikan semacam ini memberi sinyal bahwa Moskwa sedang mencoba memotong kepala dari badan intelijen yang selama ini paling merepotkan bagi mesin perang Rusia.

Ini juga bukan serangan tunggal. Gempuran drone ke ibu kota Ukraina sudah berlangsung 10 hari berturut-turut sebelum Jumat itu. Iryna Borovets, Deputi Direktur European Policy Institute yang kantornya hanya 400 meter dari lokasi ledakan, membagikan kesaksiannya melalui platform X: "Empat ratus meter dari kantor kami. Dinding-dinding berguncang. Gelombang ledakan sampai ke kami dengan sangat jelas." Ia menambahkan, "Ini adalah serangan terhadap lembaga yang membela negara sekaligus terhadap ruang kota biasa dan pusat sejarah kota yang dilindungi, yang masih berusaha kami lestarikan."

Zelensky bergerak cepat. Ia memimpin pertemuan darurat dengan pimpinan SBU di kantor kepresidenan, lalu menginstruksikan Poklad menyiapkan respons yang, dalam katanya, "memadai dan memungkinkan, sebuah serangan untuk Rusia yang serupa ketika semua sudah dipersiapkan." Pasukan militer Ukraina, ditegaskannya, akan mendukung penuh operasi itu.

SBU bukan badan keamanan sembarangan. Lembaga ini berada di balik sejumlah operasi paling berani Ukraina sepanjang perang: pengeboman Jembatan Kerch menuju Krimea yang diduduki Rusia pada 2022, lalu serangan drone bertajuk "Spiderweb" pada 2025 yang berhasil melumpuhkan bomber strategis Rusia. SBU juga dipandang sebagai aktor utama dalam kampanye pembunuhan terselubung terhadap perwira-perwira tinggi militer Rusia, aksi yang Moskwa cap sebagai terorisme.

Menteri Luar Negeri Andriy Sybiha tidak kalah keras. "Serangan Rusia terhadap kantor SBU merupakan eskalasi yang memerlukan respons segera. Moskow mengerahkan serangan ini saat upaya-upaya perdamaian berlangsung, menandai penolakan terhadap diplomasi," tegasnya. Yang membuat situasi makin pelik: serangan itu terjadi persis sebelum utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan mengunjungi Kyiv dan Moskwa untuk misi mediasi.

Zelensky sebelumnya sudah mengajukan tawaran gencatan senjata dan meminta Rusia menahan diri selama proses diplomasi berjalan. "Tidak akan ada serangan dari Ukraina, dan Rusia harus secara resiprokal menjamin sebuah gencatan senjata tanpa serangan udara selama waktu yang diperlukan untuk melakukan diplomasi," katanya. Rusia rupanya punya jawaban tersendiri atas tawaran itu. Bukan di meja perundingan.

Sejak Agustus 2026, 53 warga sipil di Kyiv dilaporkan tewas dan 134 lainnya luka-luka. Angka yang, kalau data ini bisa dipercaya, masih akan terus bertambah. Pertanyaannya: apakah kunjungan Witkoff dan Kushner masih punya makna setelah salvo semacam ini?