SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Drone Jatuh di Hormuz, Hegseth: AS Lebih dari Siap...

Internasional

Drone Jatuh di Hormuz, Hegseth: AS Lebih dari Siap Perang Lagi

Iran klaim jatuhkan drone MQ-9 Reaper AS pakai sistem Arash-e Kamangir di Selat Hormuz, sementara Washington tegaskan persediaan senjata lebih dari cukup untuk lanjutkan konflik.

AS Bilang Lebih dari Mampu untuk Perang Lagi dengan Iran

Ketika meja perundingan belum juga menghasilkan kesepakatan, medan udara di atas Selat Hormuz kembali memanas. Iran mengklaim telah menembak jatuh drone pengintai MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat di dekat Pulau Qeshm, menggunakan sistem pertahanan udara buatan dalam negeri bernama Arash-e Kamangir. Klaim ini disampaikan kantor berita semi-resmi Fars dan dikutip Al Jazeera pada Sabtu (29/5/2026).

Arash-e Kamangir bukan nama yang akrab di telinga analis pertahanan. Teheran menyebut ini debut tempur sistem tersebut, sebuah klaim yang, kalau benar, punya implikasi tidak kecil. Seberapa banyak sisa kemampuan pertahanan udara Iran setelah tiga bulan dihantam serangan intensif dari AS dan Israel? Drone yang jatuh itu agaknya bukan sekadar kehilangan aset senilai jutaan dolar bagi Washington. Ini sinyal bahwa Iran masih punya gigitan.

Dari seberang lautan, jawabannya tidak kalah keras. Pete Hegseth, bicara di forum KTT pertahanan Asia di Singapura pada Sabtu (30/5/2026), menegaskan posisi Washington dengan gamblang. "Kemampuan kami untuk memulai kembali jika perlu adalah bahwa kami lebih dari mampu, persediaan kami lebih dari cukup," tegas Menteri Pertahanan AS itu, dikutip AFP. Kalimat yang terdengar seperti peringatan sekaligus jaminan bagi sekutu-sekutu regional.

Di Washington, Donald Trump mengumumkan sedang menggelar pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih untuk membuat "keputusan akhir" perihal arah konflik ini. Perdamaian atau kelanjutan perang. Syarat yang Trump tetapkan tidak ringan: Iran harus setuju tidak pernah memiliki senjata nuklir, membuka jalur pelayaran Selat Hormuz, dan menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya untuk dihancurkan bersama IAEA di bawah koordinasi Amerika Serikat. Soal kompensasi finansial yang sempat beredar, Trump memotong spekulasi itu singkat: tidak ada uang yang berpindah tangan, setidaknya untuk saat ini.

Teheran merespons dengan nada berbeda. Juru bicara Kemenlu Iran Esmaeil Baqaei menegaskan kepada televisi pemerintah bahwa saat ini Iran fokus mengakhiri perang, bukan bernegosiasi soal program nuklir. "Pada tahap ini, kami fokus pada mengakhiri perang, dan tidak ada negosiasi mengenai isu nuklir," kata Baqaei. Belum ada "kesepakatan akhir," tegasnya, mempertegas jarak yang masih menganga antara posisi kedua pihak.

Insiden drone ini terjadi di momen yang sensitif. Laporan terpisah menyebut adanya serangan baru AS terhadap lokasi militer di dekat Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis tak jauh dari Pulau Qeshm. Jalur diplomatik dan jalur militer tampaknya berjalan beriringan tanpa saling menghentikan, bak dua kereta di rel yang sama.

Bagi investor yang terekspos aset energi atau kawasan Timur Tengah, Selat Hormuz bukan kata yang bisa diremehkan. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur itu setiap harinya. Selama status selat itu masih menjadi syarat di meja perundingan, volatilitas harga energi global punya alasan kuat untuk bertahan lebih lama dari yang diharapkan siapapun.