RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Drone Hizbullah Hampir Eksekusi Jenderal Israel, A...

Internasional

Drone Hizbullah Hampir Eksekusi Jenderal Israel, AS-Iran Adu Gertak di Medsos

Rekaman drone Hizbullah di Benteng Beaufort membuktikan Israel absen dari pos strategisnya, sementara pejabat Washington dan Teheran saling sindir soal rudal dan bunker di media sosial di tengah negosiasi yang nyaris buntu.

Hampir Tewaskan Jenderal 'Israel', Rekaman 'Kastil Kosong' Hizbullah Guncang Internal Tel Aviv

Sebuah video pendek mengguncang Tel Aviv pekan ini. Bukan karena isinya penuh ledakan, tapi justru sebaliknya: sepi. Rekaman drone Ababil milik Hizbullah yang menggunakan kamera termal memperlihatkan Benteng Beaufort, atau Qalaat al-Shaqif, dalam kondisi kosong melompong tanpa satu pun prajurit Israel yang berjaga. Di ujung video, Hizbullah menyematkan keterangan singkat yang terasa seperti tamparan: "Kami datang dan tidak menemukanmu."

Kol Hai, stasiun radio Israel, menggambarkan rekaman itu sebagai sesuatu yang luar biasa sekaligus mengerikan. Bukan main. Untuk pertama kalinya, institusi keamanan Israel secara terbuka mengakui bahwa Hizbullah sudah memiliki kemampuan penglihatan malam dan pencitraan termal tingkat lanjut pada armada drone mereka, kapabilitas yang selama ini dijaga rapat sebagai keunggulan teknologi militer Barat.

Wait. Em dash itu harus diganti.

Kol Hai, stasiun radio Israel, menggambarkan rekaman itu sebagai sesuatu yang luar biasa sekaligus mengerikan. Bukan main. Untuk pertama kalinya, institusi keamanan Israel secara terbuka mengakui bahwa Hizbullah sudah memiliki kemampuan penglihatan malam dan pencitraan termal tingkat lanjut pada armada drone mereka, kapabilitas yang selama ini dijaga rapat sebagai keunggulan teknologi militer Barat.

Guncangan psikologis itu bertepatan dengan terungkapnya insiden yang jauh lebih berbahaya. Pada 3 April 2026, media Israel akhirnya membongkar dokumen yang selama sebulan tertahan sensor militer: upaya pembunuhan terhadap Mayjen Rafi Milo, Komandan Komando Utara IDF. Sebuah drone FPV Hizbullah melacak konvoi yang membawa jenderal bintang dua itu saat peninjauan lapangan di Lebanon Selatan, lalu menghantam langsung kendaraannya. Milo dan seorang perwira perempuan selamat hanya karena keduanya keluar dari kendaraan beberapa detik sebelum benturan terjadi. IDF mengategorikan serangan ini sebagai upaya pembunuhan berencana tingkat tinggi. Analis militer sepakat: kematian komandan sekaliber Milo akan menjadi pencapaian taktis terbesar Hizbullah sepanjang perang.

Di garis depan utara, frustrasi sudah berubah jadi keluhan terbuka. Maariv melaporkan gelombang protes dari kalangan tentara cadangan yang mempertanyakan ketidakmampuan komando menetralisir serangan drone harian. Bukan tanpa sebab. Otoritas penyiaran KAN mengonfirmasi dua tentara Israel tewas dalam beberapa hari terakhir akibat drone bunuh diri Hizbullah saat operasi malam, dengan sedikitnya 10 lainnya luka-luka dalam serangan berpola serupa yang mengeksploitasi titik buta radar intersepsi udara Israel. Total warga Israel yang terluka sejak pecahnya perang melawan Iran kini menembus 8.995 orang, termasuk 1.094 korban dari front Lebanon.

Situasi di darat kontras dengan diplomasi yang berjalan, agaknya, di atas bara api. Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan stabilitas keamanan bisa dimulai dalam 24 jam asal semua pihak memberikan jaminan tertulis, dengan Zawtar Timur, Zawtar Barat, dan Benteng Beaufort diusulkan sebagai zona uji coba awal. Angkatan Bersenjata Lebanon bersama UNIFIL tengah bergerak membuka kembali jalur darat strategis sambil menunggu penarikan penuh Israel. Namun Hizbullah pada 4 Juni menyatakan menolak perpanjangan gencatan senjata, menilai persetujuan terhadap perjanjian itu sama saja dengan menyerah. Jet tempur Israel sendiri tetap menyerang Sahmar, Tebnine, Kfarjouz, dan sejumlah lokasi lain di hari yang sama. Serangan paling fatal menghantam Kota Sahmar yang menewaskan enam warga sipil.

Api verbal menyala di media sosial antara Washington dan Teheran. Bak dua petinju yang belum berani naik ring, para pejabat kedua negara memilih Twitter sebagai arena. Cekcok digital ini melibatkan Dan Scavino, Wakil Kepala Staf Gedung Putih, dan Ebrahim Azizi, Kepala Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran. Pada 23 Mei, Scavino mengunggah video pesawat pengebom B-2 Spirit. Azizi membalas dengan video peluncuran rudal Iran yang diklaim menghantam target secara presisi. Pada 2 Juni, Scavino mengunggah gambar jam pasir, isyarat agar Iran segera bersepakat. Dua hari kemudian, Azizi membalas dengan video uji coba rudal Kheibar Shekan disertai keterangan: "Kita lihat apa yang akan terjadi!"

Scavino merespons dengan menyebut video itu rekayasa AI, lalu menambahkan sindiran soal bunker bawah tanah Iran. Azizi tidak mau kalah. "Evakuasi hampir 9.000 warga Amerika dan penghancuran pangkalan militer Anda di kawasan Timur Tengah, apakah itu juga produk kecerdasan buatan?" tulisnya.

Pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada 3 Juni menyatakan belum ada kemajuan nyata dalam negosiasi meski jalur komunikasi dengan AS masih terbuka. Ia memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Lebanon bisa memicu kembalinya konflik penuh. Nada serupa datang dari Seyyed Ahmad Khomeini, cicit pendiri Republik Islam Iran, dalam upacara peringatan wafatnya Ruhollah Khomeini. "Tanyakan kepada kami bagaimana kami bisa mempercayai Amerika lagi," ujarnya kepada CNN, 4 Juni. "Kemudian kami akan menunjukkan kepada Anda apa yang harus dilakukan Amerika kali ini."

Khomeini tidak menentang negosiasi secara prinsip, bahkan menegaskan Iran tidak pernah menghindari dialog. Tapi ancamannya tidak disembunyikan: Teheran siap untuk putaran aksi militer berikutnya jika perlu. Di belakangnya, peserta upacara mengibarkan bendera merah bertuliskan kata "balas dendam" dalam bahasa Persia.

Gencatan senjata yang rapuh, drone yang kian cerdas, pejabat tinggi yang saling ejek di Twitter. Entah kebetulan atau tidak, semua ini terjadi tepat ketika negosiasi AS-Iran memasuki titik paling kritis sejak kesepakatan koridor utara digulirkan April lalu. Pertanyaannya sederhana: berapa lama lagi bara ini bisa ditahan sebelum benar-benar menyala?